Jawaban kami sama saja, baik menjadi homoseks maupun menjadi waria,
keduanya adalah pilihan, bukan taqdir. Mungkin memang bukan pilihan
pribadi, namun pilihan lingkungan, keluarga dan komunitas di mana
seseorang tumbuh.
Allah SWT adalah tuhan yang Maha adil, Dia tidak akan mentakdirkan
seseorang lahir dalam keadaan waria, lalu Dia melarang kewariaan. Dia
juga tidak akan mentaqdirkan seseorang dilahirkandengan kecenderungan
homoseksual atau lesbian, lalu Dia melarang perilaku terlarang itu.
Maka statemen kalangan waria dan barisan pendukungnya bahwa kewariaan
adalah urusan taqdir nyata keliru. Sebab tidak ada orang yang lahir
dalam keadaan waria. Lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi
waria.
Sebagaimana tidak ada orang yang lahir dalam keadaan kafir, tetapi
orang tua dan lingkungan yang kemudian membuat anak itu murtad, kafir
dan keluar dari keIslamannya.
Jadi yang benar barangkali memang taqdir bahwa seseorang dilahirkan
di lingkungan yang mendidiknya menjadi waria. Tetapi kita tidak bisa
mengatakan bahwa Allah SWT telah mentaqdirkannya menjadi waria.
Sama saja dengan kasus anak pelacur yang ditumbuhkan di lingkungan
prostitusi, apakah Allah SWT telah mentaqdirkan dia menjadi wanita
penghibur? Tentu saja tidak, bukan?
Karena tidak ada wanita yang lahir langsung jadi pelacur. Dan
kewariaan adalah saudara kembar pelacuran. Lingkungan yang salah dan
jahiliyah telah menumbuhkan seseorang menjadi waria. Dan lingkungan
seperti ini yang harus dilenyapkan dalam kehidupan masyarakat muslim
yang beradab.
Kita harus sepakat bahwa kehidupan homoseksual dan waria adalah
sesuatu yang bukan taqdir, oleh karena itu harus dihindari dan
dilenyapkan. Tentu bukan memerangi para waria, melainkan melenyapkan
pola pikir yang menganggap bahwa kewariaan adalah wajar. Dari situ dulu
kita mulai.
Setelah itu kita melangkah kepada penghindaran lingkungan dan pola
pendidikan yang keliru dengan cara memberi peluang kepada anak-anak
untuk tumbuh dengan pola pikir bahwa menjadi waria itu wajar. Kurikulum
ini yang harus tampil dengan tegas, bahwa menjadi waria itu adalah
sebuah pilihan keliru yang salah kaprah. Bukan sebuah taqdir.
Maka sejak kecil anak-anak sudah kita tanamkan pemahaman bahwa
menjadi waria adalah sebuah kekeliruan, ketidak-normalan dan sebuah peri
hidup jahat yang dilaknat oleh Allah dan agama.
Sayangnya, para pembela kebejadan moral pasti tidak akan setuju
dengan prinsip sikap ini. Mereka ingin menjadikan masyarakat ini rusak
sampai ke akar-akarnya, sehingga menjadi waria itu dianggap wajar dan
merupakan taqdir dari Allah SWT. Nauzubillahi min zalik.
Maka sebagai muslim, kita akan diminta pertanggung-jawaban nanti di
akhirat tentang masalah ini. Apakah kita sudah memerangi pola kehidupan
yang tidak normal itu lewat pesan dan lisan kita? Sudahkah kita nyatakan
kebenaran kepada khalayak bahwa hooseksual dan kehidupan waria itu
adalah kebatilan?
Wallahu a'lam bishshawab
0 komentar:
Posting Komentar