About

Assalamu’alaikum Wr. Wb Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Tuhan Rahmat dan salam untuk Nabi Muhammad Saw. Rasul pilihan. Syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat-Nya, karena hanya dengan rahmat-Nya jualah saya dapat membangun sebuah blog ini, dengan suatu harapan agar kita semua selalu dapat menjalin silaturrahmi dan hubungan baik serta berbagi informasi.Dengan adanya blog ini, kita dapat saling bertegur sapa lewat dunia maya. Blog ini sebagai wahana untuk knowledge sharing dan melengkapi kebutuhan kita semua untuk mencari informasi di dunia maya (internet). Besar harapan adanya flashback, masukan serta kritik membangun dalam rangka pengembangan dan pengayaan content dalam blog kami. Semoga memberi banyak manfaat. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman. Tampilkan semua postingan

21 Okt 2012

Takdir Manusia (3/3)

Manusia mempunyai kemampuan terbatas  sesuai  dengan  ukuran
yang  diberikan oleh Allah kepadanya. Makhluk ini, misalnya,
tidak dapat terbang. Ini merupakan salah  satu  ukuran  atau
batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia tidak
mampu melampauinya,  kecuali  jika  ia  menggunakan  akalnya
untuk  menciptakan  satu  alat, namun akalnya pun, mempunyai
ukuran yang tidak mampu dilampaui.  Di  sisi  lain,  manusia
berada  di bawah hukum-hukum Allah sehingga segala yang kita
lakukan pun  tidak  terlepas  dari  hukum-hukum  yang  telah
mempunyai  kadar  dan  ukuran  tertentu.  Hanya  saja karena
hukum-hukum tersebut cukup banyak, dan kita diberi kemampuan
memilih -tidak sebagaimana matahari dan bulan misalnya- maka
kita  dapat  memilih  yang  mana  di  antara   takdir   yang
ditetapkan   Tuhan   terhadap  alam  yang  kita  pilih.  Api
ditetapkan Tuhan panas dan membakar, angin dapat menimbulkan
kesejukan  atau  dingin;  itu  takdir  Tuhan  -manusia boleh
memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di  sinilah
pentingnya  pengetahuan  dan  perlunya  ilham  atau petunjuk
Ilahi. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah adalah:
 
"Wahai Allah, jangan  engkau  biarkan  aku  sendiri  (dengan
pertimbangan nafsu akalku saja), walau sekejap."
 
Ketika  di  Syam  (Syria, Palestina, dan sekitarnya) terjadi
wabah, Umar  ibn  Al-Khaththab  yang  ketika  itu  bermaksud
berkunjung  ke  sana  membatalkan rencana beliau, dan ketika
itu tampil seorang bertanya:
 
"Apakah Anda lari/menghindar dari takdir Tuhan?"
 
Umar r.a. menjawab,
 
"Saya lari/menghindar dan  takdir  Tuhan  kepada  takdir-Nya
yang lain."
 
Demikian juga ketika Imam Ali r.a. sedang duduk bersandar di
satu tembok yang ternyata rapuh,  beliau  pindah  ke  tempat
lain.  Beberapa  orang  di  sekelilingnya  bertanya  seperti
pertanyaan di atas. Jawaban Ali  ibn  Thalib,  sama  intinya
dengan   jawaban   Khalifah   Umar   r.a.  Rubuhnya  tembok,
berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan  hukum-hukum  yang
telah ditetapkan-Nya, dan bila seseorang tidak menghindar ia
akan menerima akibatnya. Akibat  yang  menimpanya  itu  juga
adalah  takdir,  tetapi  bila  ia  menghindar dan luput dari
marabahaya  maka  itu  pun  takdir.  Bukankah  Tuhan   telah
menganugerahkan   manusia  kemampuan  memilah  dan  memilih?
Kemampuan ini  pun  antara  lain  merupakan  ketetapan  atau
takdir  yang  dianugerahkan-Nya Jika demikian, manusia tidak
dapat luput dari  takdir,  yang  baik  maupun  buruk.  Tidak
bijaksana  jika  hanya  yang  merugikan  saja  yang  disebut
takdir,  karena  yang  positif  pun  takdir.  Yang  demikian
merupakan  sikap 'tidak menyucikan Allah, serta bertentangan
dengan petunjuk Nabi Saw.,'  "...  dan  kamu  harus  percaya
kepada  takdir-Nya  yang  baik  maupun  yang  buruk." Dengan
demikian, menjadi jelaslah kiranya bahwa adanya takdir tidak
menghalangi  manusia untuk berusaha menentukan masa depannya
sendiri, sambil memohon bantuan Ilahi
 
Apakah Takdir Merupakan Rukun Iman?
 
Perlu digarisbawahi bahwa dari sudut pandang studi Al-Quran,
kewajiban  mempercayai  adanya  takdir tidak secara otomatis
menyatakannya sebagai satu di antara rukun iman  yang  enam.
Al-Quran  tidak  menggunakan  istilah  "rukun" untuk takdir,
bahkan  tidak  juga  Nabi  Saw.  dalam  hadis-hadis  beliau.
Memang,  dalam  sebuah  hadis  yang diriwayatkan oleh banyak
pakar hadis, melalui sahabat  Nabi  Umar  ibn  Al-Khaththab,
dinyatakan   bahwa   suatu   ketika  datang  seseorang  yang
berpakaian sangat  putih,  berambut  hitam  teratur,  tetapi
tidak  tampak pada penampilannya bahwa ia seorang pendatang,
namun, "tidak  seorang  pun  di  antara  kami  mengenalnya."
Demikian  Umar r.a. Dia bertanya tentang Islam, Iman, Ihsan,
dan saat kiamat serta tanda-tandanya. Nabi  menjawab  antara
lain dengan menyebut enam perkara iman, yakni percaya kepada
Allah,  malaikat-malaikat-Nya,  kitab-kitab-Nya,  Rasul-
rasulNya, hari  kemudian, dan "percaya  tentang takdir-Nya
yang baik dan yang buruk." Setelah sang penanya pergi, Nabi 
menjelaskan bahwa,
 
"Dia itu Jibril, datang untuk mengajar kamu, agama kamu."
 
Dari  hadis  ini,  banyak  ulama  merumuskan enam rukun Iman
tersebut.
 
Seperti dikemukan di atas, Al-Quran tidak  menggunakan  kata
rukun,  bahkan  Al-Quran  tidak  pernah menyebut kata takdir
dalam satu rangkaian  ayat  yang  berbicara  tentang  kelima
perkara  lain  di  atas.  Perhatikan  firman-Nya dalam surat
Al-Baqarah (2): 285,
 
"Rasul percaya tentang apa yang  diturunkan  kepadanya  dari
Tuhannya, demikian juga orang-orang Mukmin. Semuanya percaya
kepada   Allah,   malaikat-malaikat-Nya,    kitab-kitab-Nya,
Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian."
 
Dalam QS Al-Nisa' (4): 136 disebutkan:
 
"Wahai  orang-orang  yang beriman, (tetaplah) percaya kepada
Allah dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang diturunkan kepada
Rasul-Nya,  dan  kitab  yang  disusunkan sebelum (Al-Quran).
Barangsiapa yang tidak percaya kepada  Allah,  malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya,  Rasul-rasul-Nya,  dan  hari kemudiam, maka
sesungguhnya dia telah sesat sejauh-jauhnya."
 
Bahwa kedua ayat di atas tidak menyebutkan  perkara  takdir,
bukan  berarti  bahwa  takdir tidak wajib dipercayai. Tidak!
Yang  ingin   dikemukakan   ialah   bahwa   Al-Quran   tidak
menyebutnya sebagai rukun, tidak pula merangkaikannya dengan
kelima perkara lain yang disebut dalam hadis Jibril di atas.
Karena  itu, agaknya dapat dimengerti ketika sementara ulama
tidak menjadikan  takdir  sebagai  salah  satu  rukun  iman,
bahkan dapat dimengerti jika sementara mereka hanya menyebut
tiga hal pokok, yaitu keimanan kepada Allah,  malaikat,  dan
hari  kemudian.  Bagi penganut pendapat ini, keimanan kepada
malaikat mencakup keimanan tentang apa yang mereka sampaikan
(wahyu Ilahi), dan kepada siapa disampaikan, yakni para Nabi
dan Rasul.
 
Bahkan  jika  kita  memperhatikan   beberapa   hadis   Nabi,
seringkali  beliau hanya menyebut dua perkara, yaitu percaya
kepada Allah dan hari kemudian.
 
"Siapa yang percaya kepada Allah  dan  hari  kemudian,  maka
hendaklah  ia  menghormati tamunya. Siapa yangpercaya kepada
Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia  menyambung  tali
kerabatnya.   Siapa  yang  percaya  kepada  Allah  dan  hari
kemudian, maka hendaklah ia berkata benar atau diam."
 
Demikian salah satu sabdanya yang diriwayatkan oleh  Bukhari
dan Muslim melalui Abu Hurairah.
 
Al-Quran  juga  tidak  jarang  hanya  menyebut dua di antara
hal-hal yang wajib  dipercayai.  Perhatikan  misalnya  surat
Al-Baqarah (2): 62,
 
"Sesungguhnya  orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi,
Nasrani, Shabiin (orang-orang yang  mengikuti  syariat  Nabi
zaman  dahulu,  atau orang-orang yang menyembah bintang atau
dewa-dewa), siapa saja di  antara  mereka  yang  benar-benar
beriman  kepada  Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh,
maka mereka akan menerima  ganjaran  mereka  di  sisi  Tuhan
mereka,  tidak  ada  rasa  takut atas mereka, dan tidak juga
mereka akan bersedih."
 
Ayat ini  tidak  berarti  bahwa  yang  dituntut  dari  semua
kelompok yang disebut di atas hanyalah iman kepada Allah dan
hari kemudian, tetapi bersama keduanya  adalah  iman  kepada
Rasul,   kitab  suci,  malaikat,  dan  takdir.  Bahkan  ayat
tersebut dan semacamnya hanya menyebut dua hal pokok, tetapi
tetap  menuntut  keimanan  menyangkut  segala  sesuatu  yang
disampaikan oleh Rasulullah Saw., baik  dalam  enam  perkara
yang  disebut  oleh  hadis  Jibril  di  atas, maupun perkara
lainnya yang tidak disebutkan.
 
Demikianlah pengertian takdir dalam  bahasa  dan  penggunaan
Al-Quran.

Takdir Manusia (2/3)

Takdir dalam Bahasa Al-Quran
 
Kata takdir (taqdir) terambil dan kata qaddara berasal  dari
akar  kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi
kadar atau ukuran, sehingga jika Anda berkata, "Allah  telah
menakdirkan   demikian,"  maka  itu  berarti,  "Allah  telah
memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat,  atau
kemampuan maksimal makhluk-Nya."
 
Dari  sekian  banyak  ayat  Al-Quran  dipahami  bahwa  semua
makhluk telah ditetapkan takdirnya oleh Allah. Mereka  tidak
dapat melampaui batas ketetapan itu, dan Allah Swt. menuntun
dan menunjukkan mereka arah  yang  seharusnya  mereka  tuju.
Begitu  dipahami  antara lain dari ayat-ayat permulaan Surat
Al-A'la (Sabihisma),
 
"Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Mahatinggi,  yang  menciptakan
(semua  mahluk)  dan  menyempurnakannya, yang memberi takdir
kemudian mengarahkan(nya)" (QS Al-A'la [87]: 1-3).
 
Karena itu ditegaskannya bahwa:
 
"Dan matahari beredar di tempat peredarannya Demikian itulah
takdir  yang  ditentukan  oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi
Maha Mengetahui" (QS Ya Sin [36]: 38).
 
Demikian pula bulan,  seperti  firman-Nya  sesudah  ayat  di
atas:
 
"Dan    telah    Kami    takdirkan/tetapkan    bagi    bulan
manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke  manzilah
yang  terakhir)  kembalilah  dia  sebagai bentuk tandan yang
tua" (QS Ya Sin [36]: 39)
 
Bahkan  segala  sesuatu  ada  takdir  atau  ketetapan  Tuhan
atasnya,
 
"Dia  (Allah)  Yang  menciptakan  segala  sesuatu,  lalu Dia
menetapkan     atasnya     qadar     (ketetapan)      dengan
sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2).
 
"Dan  tidak  ada  sesuatu  pun  kecuali  pada  sisi  Kamilah
khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak  menurunkannya  kecuali
dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21).
 
Makhluk-Nya  yang  kecil  dan  remeh  pun diberi-Nya takdir.
Lanjutan  ayat  Sabihisma  yang  dikutip  di  atas  menyebut
contoh, yakni rerumputan.
 
"Dia    Allah    yang   menjadikan   rumput-rumputan,   lalu
dijadikannya rumput-rumputan itu kering kehitam-hitaman" (QS
Sabihisma [87]: 4-53)
 
Mengapa  rerumputan  itu  tumbuh  subur, dan mengapa pula ia
layu dan kering. Berapa kadar kesuburan  dan  kekeringannya,
kesemuanya   telah   ditetapkan  oleh  Allah  Swt.,  melalui
hukum-hukum-Nya yang berlaku pada alam raya ini. Ini berarti
jika   Anda  ingin  melihat  rumput  subur  menghijau,  maka
siramilah   ia,   dan   bila   Anda   membiarkannya    tanpa
pemeliharaan,  diterpa panas matahari yang terik, maka pasti
ia  akan  mati  kering  kehitam-hitaman  atau  ghutsan  ahwa
seperti bunyi ayat di atas. Demikian takdir Allah menjangkau
seluruh makhluk-Nya. Walhasil,
 
"Allah telah menetapkan bagi segala  sesuatu  kadarnya"  (QS
Al-Thalaq [65]: 3)
 
Peristiwa-peristiwa  yang terjadi di alam raya ini, dan sisi
kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu,  pada  tempat
dan  waktu  tertentu,  dan itulah yang disebut takdir. Tidak
ada sesuatu yang terjadi  tanpa  takdir,  termasuk  manusia.
Peristiwa-peristiwa  tersebut  berada  dalam pengetahuan dan
ketentuan Tuhan, yang keduanya menurut sementara ulama dapat
disimpulkan  dalam  istilah  sunnatullah,  atau  yang sering
secara salah kaprah disebut "hukum-hukum alam."
 
Penulis tidak sepenuhnya cenderung mempersamakan sunnatullah
dengan   takdir.  Karena  sunnatullah  yang  digunakan  oleh
Al-Quran adalah untuk hukum-hukum Tuhan yang  pasti  berlaku
bagi   masyarakat,   sedang   takdir   mencakup  hukum-hukum
kemasyarakatan  dan   hukum-hukum   alam.   Dalam   Al-Quran
"sunnatullah"  terulang  sebanyak  delapan kali, "sunnatina"
sekali, "sunnatul awwalin" terulang  tiga  kali;  kesemuanya
mengacu   kepada   hukum-hukum   Tuhan   yang  berlaku  pada
masyarakat. Baca misalnya QS  Al-Ahzab  (33):  38,  62  atau
Fathir 35, 43, atau Ghafir 40, 85, dan lain-lain.
 
Matahari,  bulan,  dan  seluruh  jagat raya telah ditetapkan
oleh Allah takdirnya yang tidak bisa mereka tawar,
 
"Datanglah (hai langit dan bumi) menurut  perintah-Ku,  suka
atau  tidak  suka!"  Keduanya  berkata,  "Kami datang dengar
penuh ketaatan."
 
Demikian  surat   Fushshilat   (41)   ayat   11   melukiskan
"keniscayaan takdir dan ketiadaan pilihan bagi jagat raya."
 
Apakah  demikian  juga  yang berlaku bagi manusia? Tampaknya
tidak sepenuhnya sama.

Takdir Manusia (1/3)

Ketika Mu'awiyah ibn Abi Sufyan  menggantikan  Khalifah  IV,
Ali ibn Abi Thalib (W. 620 H), ia menulis surat kepada salah
seorang sahabat Nabi, Al-Mughirah  ibn  Syu'bah  menanyakan,
"Apakah  doa  yang  dibaca  Nabi  setiap selesai shalat?" Ia
memperoleh jawaban bahwa doa beliau adalah,
 
"Tiada Tuhan selain  Allah,  tiada  sekutu  bagi-Nya.  Wahai
Allah tidak ada yang mampu menghalangi apa yang engkau beri,
tidak juga ada yang mampu memberi apa yang  Engkau  halangi,
tidak berguna upaya yang bersungguh-sungguh. Semua bersumber
dari-Mu (HR Bukhari).
 
Doa ini dipopulerkannya untuk  memberi  kesan  bahwa  segala
sesuatu  telah  ditentukan  Allah,  dan  tiada usaha manusia
sedikit pun. Kebijakan mempopulerkan doa ini,  dinilai  oleh
banyak  pakar sebagai "bertujuan politis," karena dengan doa
itu para penguasa Dinasti Umayah  melegitimasi  kesewenangan
pemerintahan  mereka,  sebagai  kehendak Allah. Begitu tulis
Abdul Halim Mahmud mantan Imam Terbesar Al-Azhar Mesir dalam
Al-Tafkir Al-Falsafi fi Al-Islam (hlm- 203).
 
Tentu   saja,   pandangan   tersebut   tidak  diterima  oleh
kebanyakan ulama.  Ada  yang  demikian  menggebu  menolaknya
sehingga secara sadar atau tidak -mengumandangkan pernyataan
la qadar (tidak ada takdir).  Manusia  bebas  melakukan  apa
saja,  bukankah  Allah  telah menganugerahkan kepada manusia
kebebasan memilih dan memilah? Mengapa manusia harus dihukum
kalau  dia  tidak  memiliki  kebebasan  itu?  Bukankah Allah
sendiri menegaskan,
 
"Siapa yang  hendak  beriman  silakan  beriman,  siapa  yang
hendak kufur silakan juga kufur" (QS Al-Kahf [18]: 29).
 
Masing-masing    bertanggung    jawab    pada   perbuatannya
sendiri-sendiri.  Namun   demikian,   pandangan   ini   juga
disanggah.  Ini  mengurangi  kebesaran  dan kekuasaan Allah.
Bukankah Allah Mahakuasa? Bukankah
 
"Allah menciptakan kamu  dan  apa  yang  kamu  lakukan"  (QS
Al-Shaffat [37]: 96).
 
Tidakkah  ayat  ini berarti bahwa Tuhan menciptakan apa yang
kita lakukan? Demikian  mereka  berargumentasi.  Selanjutnya
bukankah Al-Quran menegaskan bahwa,
 
"Apa  yang  kamu  kehendaki, (tidak dapatterlaksana) kecuali
dengan kehendak Allah jua" (QS Al-Insan [76]: 30).
 
Demikian sedikit dari banyak  perdebatan  yang  tak  kunjung
habis   di  antara  para  teolog.  Masing-masing  menjadikan
Al-Quran sebagai  pegangannya,  seperti  banyak  orang  yang
mencintai si Ayu, tetapi Ayu sendiri tidak mengenal mereka.
 
Kemudian  didukung  oleh  penguasa yang ingin mempertahankan
kedudukannya, dan dipersubur oleh keterbelakangan umat dalam
berbagai  bidang, meluaslah paham takdir dalam arti kedua di
atas, atau paling tidak, paham yang mirip dengannya
 
Yang jelas, Nabi dan  sahabat-sahabat  utama  beliau,  tidak
pernah  mempersoalkan takdir sebagaimana dilakukan oleh para
teolog itu. Mereka sepenuhnya  yakin  tentang  takdir  Allah
yang   menyentuh  semua  makhluk  termasuk  manusia,  tetapi
sedikit  pun  keyakinan   ini   tidak   menghalangi   mereka
menyingsingkan   lengan  baju,  berjuang,  dan  kalau  kalah
sedikit pun mereka tidak menimpakan kesalahan kepada  Allah.
Sikap  Nabi  dan  para sahabat tersebut lahir, karena mereka
tidak memahami ayat-ayat Al-Quran secara parsial: ayat  demi
ayat,   atau  sepotong-sepotong  terlepas  dari  konteksnya,
tetapi memahaminya secara utuh, sebagaimana  diajarkan  oleh
Rasulullah Saw.

TUHAN (4/4)

4. KEESAAN DALAM BERIBADAH KEPADA-NYA
 
Kalau ketiga keesaan di atas merupakan  hal-hal  yang  harus
diketahui  dan  diyakini, maka keesaan keempat ini merupakan
perwujudan dari ketiga makna keesaan terdahulu.
 
Ibadah itu beraneka ragam dan bertingkat-tingkat. Salah satu
ragamnya  yang  paling  jelas,  adalah  amalan tertentu yang
ditetapkan cara dan atau kadarnya langsung oleh  Allah  atau
melalui  Rasul-Nya,  dan  yang secara populer dikenal dengan
istilah ibadah mahdhah. Sedangkan ibadah dalam pengertiannya
yang  umum,  mencakup  segala macam aktivitas yang dilakukan
demi karena Allah.
 
Nah, mengesakan  Tuhan  dalam  beribadah,  menuntut  manusia
untuk  melaksanakan  segala  sesuatu demi karena Allah, baik
sesuatu itu dalam  bentuk  ibadah  mahdhah  (murni),  maupun
selainnya.   Walhasil,   keesaan   Allah   dalam   beribadah
kepada-Nya adalah dengan  melaksanakan  apa  yang  tergambar
dalam firman-Nya,
 
"Katakanlah,  'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan
matiku, (seterusnya) karena Allah, Pemelihara seluruh alam'"
(QS Al-An'am [6]: 162).
 
                               ALLAH DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
 
Salah  satu  ayat  yang menggambarkan dampak kehadiran Allah
dalam jiwa manusia adalah firman-Nya,
 
"Allah membuat perumpamaan, (yaitu) seorang  lelaki  (budak)
yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat dan saling
berselisih (buruk perangai  mereka),  dengan  seorang  budak
yang  menjadi milik penuh dari seorang saja. Adakah keduanya
(budak-budak itu)  sama  halnya?  Segala  puji  bagi  Allah,
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (QS Al-Zumar [39]:
29).
 
Ayat ini bermaksud menggambarkan bagaimana keadaan seseorang
yang harus taat kepada sekian banyak orang yang memilikinya,
tetapi pemilik-pemiliknya itu saling  berselisih  dan  buruk
perangainya.  Alangkah  bingung  ia.  Yang ini memerintahkan
satu hal, belum lagi selesai datang yang lain mencegah  atau
memerintahkannya  dengan  perintah  lain,  yang  ketiga  pun
demikian. Begitu seterusnya, sehingga  pada  akhirnya  budak
itu  hidup  dalam  kompleks  kejiwaan  yang  tidak diketahui
bagaimana  cara  menanggulanginya.  Bandingkanlah  hal   itu
dengan  seorang  budak  lain  yang hanya menjadi milik penuh
seseorang  sehingga  ia  tidak  mengalami  kebingungan  atau
kontradiksi dalam kesehariannya.
 
Menarik  dikemukakan  alasan  Murtadha  Muthahhari yang juga
memahami sebagaimana ulama-ulama  lain  -arti  kata  rajulan
pada  ayat  di  atas  dengan "budak." Ulama tersebut menulis
dalam bukunya Allah dalam Kehidupan Manusia bahwa: Sementara
orang  ada  yang  membuat  kemungkinan  berikut, yakni bahwa
manusia berkeinginan  untuk  hidup  bebas  (tanpa  kendali).
Sesungguhnya  keinginan ini (walaupun merupakan sesuatu yang
mustahil) menjadikan  manusia  keluar  dari  kemanusiaannya,
karena  ini  berarti  bahwa  ketika  itu  dia tidak mengakui
adanya hukum, tujuan, keinginan atau  ide  -dalam  arti  dia
kosong  sama  sekali  dari  keyakinan  tertentu, dan keadaan
demikian  mencabutnya  dari  hakikat  kemanusiaan.   Keadaan
semacam  ini  tidak  ada wujudnya dalam kehidupan manusia di
dunia.  Orang-orang  yang  menghendaki   kehidupan   sebebas
mungkin,  serta tidak mengakui adanya sedikit peraturan pun,
pasti  hidup  mereka  pun  dilandasi  oleh  keyakinan   (ide
tertentu)  atau  berusaha  mencari  ide/keyakinan  tertentu.
Usaha ini menunjukkan bahwa manusia harus menerima  wewenang
pengaturan  dari  keyakinan  (ide  yang ada dalam benaknya).
Jika  demikian,  tidak  heran  jika   Al-Quran   menggunakan
istilah-istilah  yang  mengandung arti budak (seseorang yang
dimiliki oleh pihak lain).
 
Keadaan  yang  digambarkan  oleh  ayat  di  atas,   terbukti
kebenarannya  dalam  kenyataan  hidup orang-orang yang lemah
imannya, atau memiliki sekian banyak ide atau keyakinan yang
saling bertentangan. Sekali dia taat kepada Tuhan, lain kali
dia taat kepada setan, sekali dia ke masjid,  lain  kali  ke
klub  malam.  Orang  semacam ini dikuasai atau menjadi budak
sekian penguasa yang buruk perangainya sehingga pada akhimya
ia  mengidap  kepribadian  ganda  (split  personality), yang
merupakan  salah  satu  bentuk  dari  sekian  banyak  bentuk
penyakit   kejiwaan.  Kalau  demikian  wajar  jika  Al-Quran
menegaskan bahwa,
 
"Orang-orang yang beriman dan hati  mereka  tenteram  dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati
menjadi tenteram" (QS Al-Ra'd [13]: 28).
 
Kalau dalam ayat lain Al-Quran menegaskan  bahwa  seandainya
pada  keduanya  (langit  dan  bumi)  terdapat  banyak  Tuhan
(Pengusa yang mengatur alam)  selain  Allah,  maka  pastilah
keduanya akan binasa (QS Al-Anbiya, [21]: 22), maka dalam QS
Al-Zumar [39]: 29 di atas, Allah berpesan  bahwa  seandainya
di  dalam jiwa seseorang ada banyak tuhan atau penguasa yang
mengatur  hidupnya,  maka  pasti  pula  jiwanya  akan  rusak
binasa.
 
Kalau  uraian  di  atas  membuktikan  kebutuhan jiwa manusia
kepada akidah  tauhid,  maka  rangkaian  pertanyaan  berikut
dapat  menjadi  salah  satu  bukti tentang kebutuhan akalnya
terhadap akidah ini. Pertanyaan dimaksud adalah: "Siapa yang
menjamin  bila  Anda  melontar ke depan, maka batu itu tidak
mengarah ke belakang? Apa yang  menjamin  bahwa  air  selalu
mencari tempat yang rendah? Apa yang mengantar ilmuwan untuk
memperoleh semacam,  kepastian,  dalam  langkah-langkahnya?"
Kepastian  tersebut  tidak  mungkin  dapat diperoleh kecuali
melalui keyakinan tentang wujud Tuhan Yang Maha Esa.  Karena
jika  Tuhan  berbilang,  maka sekali tuhan ini yang mengatur
alam dan menetapkan kehendak-Nya dan kali  lain  tuhan  yang
itu.  Apa yang menjamin kepastian itu, seandainya Tuhan Yang
mengatur hukum-hukum dan tata kerta alam  raya,  juga  butuh
kepada  sesuatu? Sudah dapat dipastikan tidak ada yang dapat
menjamin!
 
Jika demikian, tauhid bukan saja merupakan hakikat kebenaran
yang  harus  diakui  karena  diperlukan  oleh  jiwa manusia,
tetapi juga merupakan kebutuhan akalnya  demi  kemajuan  dan
kesejahteraan   umat   manusia.   Wajar   jika  perkembangan
pemikiran manusia tentang Tuhan,  berakhir  pada  monoteisme
murni,  setelah  pada  awalnya menganut keyakinan politeisme
(banyak  tuhan),  kemudian   dua   tuhan,   disusul   dengan
kepercayaan  tentang  adanya satu Tuhan. dan berakhir dengan
tauhid murni (keesaan mutlak) yang dianut oleh umat Islam.
 
Apabila  seseorang  telah  menganut  akidah   tauhid   dalam
pengertian  yang  sebenarnya,  maka  akan lahir dari dirinya
berbagai aktivitas, yang kesemuanya merupakan ibadah  kepada
Allah,  baik  ibadah dalam pengertiannya yang sempit (ibadah
murni) maupun pengertiannya yang luas. Ini disebabkan karena
akidah  tauhid  merupakan satu prinsip lengkap yang menembus
semua dimensi dan aksi manusia. Karena itu,
 
"Allah  tidak  mengampuni  siapa  yang   mempersekutukan-Nya
dengan  sesuatu,  dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa
yang Dia kehendaki (QS Al-Nisa, [4]: 48).
 
Kalau dalam alam raya ini ada matahari yang  menjadi  sumber
kehidupan   makhluk   di   permukaan   bumi  ini,  dan  yang
berkeliling padanya  planet-planet  tata  surya  yang  tidak
dapat  melepaskan diri darinya, maka akidah tauhid merupakan
matahari kehidupan ruhani dan yang berkeliling di sekitarnya
kesatuan-kesatuan yang tidak dapat pula melepaskan diri atau
dilepaskan darinya. Kesatuan  dimaksud  antara  lain  adalah
kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat,
kesatuan natural dan supranatural, kesatuan  ilmu,  kesatuan
agama,   kesatuan   kemanusiaan,   kesatuan  umat,  kesatuan
kepribadian manusia, dan lain-lain.
 
Prinsip lengkap ini harus terus-menerus dipelihara,  diasah,
dan  diasuh.  Memang  boleh  jadi  seorang  Muslim mengalami
godaan sehingga  timbul  tanda  tanya  menyangkut  kehadiran
Allah  Yang  Maha  Esa itu. Yang demikian adalah wajar-wajar
saja, asal ia selalu berupaya untuk mengusir godaan itu. Hal
ini  dialami  juga  oleh  para sahabat Nabi Saw. Mereka yang
mengadukan pengalamannya kepada beliau ditanggapi oleh  Nabi
Saw. dengan bersabda,
 
"Segala  puji  bagi  Allah  yang menangkal tipuannya (setan)
menjadi waswasah (bisikan)."
 
Sahabat Nabi, Ibnu Abbas,  pernah  ditanya  oleh  Abu  Zamil
Sammak  ibn  Al-Walid,  "Apakah  yang  saya rasakan di dalam
dadaku (ini)?" "Apakah itu," tanya Ibnu Abbas.  "Demi  Allah
saya  tidak  akan mengatakannya." Ibnu Abbas bertanya balik,
"Apakah semacam syak atau keraguan?" Si penanya  mengiyakan.
Ibnu  Abbas kemudian berkata, "Tidak seorang pun (dari kami)
yang terbebaskan dari yang  demikian,  sampai  turun  firman
Allah:
 
"Apabila  kamu  dalam  keraguan  dari apa yang Kami turunkan
kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang  yang  membaca
kitab sebelum kamu" (QS Yunus [10]: 94).
 
Apabila  engkau  mendapatkan hal itu bacalah, Dia yang Awal,
Dia  Yang   Akhir,   Dia   Yang   Zhahir   (tampak   melalui
ciptaan-Nya),  Dia  juga  Yang  Batin  (tak  tampak  hakikat
Zat-Nya), dan Dia. Maha Mengetahui segala sesuatu."
 
Demikian Allah Swt. Karena itu wajar kita bermohon:
 
"Wahai  Tuhan  kami,  janganlah  Engkau  jadikan  hati  kami
condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada
kami,  karuniakanlah  kepada  kami  rahmat   dari   sisi-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi anugerah" (QS Ali 'Imran
13]: 8).[]
 
Catatan kaki:
-------------
1 Wahyu pertama adalah lima ayat pertama surat Al-'Alaq.  Di
sana  tidak  ada  kata "Allah.". Wahyu kedua adalah beberapa
ayat dari surat Al-Qalam. dalam  surat  ini  tidak  disebut
kata  "Allah."  Wahyu  ketiga adalah awal surat Al-Muzammil.
Dalam surat ini kata Rabbika ditemukan dua  kali,  dan  kata
"Allah"  tujuh kali, yaitu pada ayat terakhir (kedua puluh).
Dapat dipastikan bahwa ayat terakhir tersebut turun  setelah
Nabi  hijrah  ke  Madinah,  karena  ayat  tersebut berbicara
tentang  keterlibatan   para   sahabat   dalam   peperangan,
sedangkan  peperangan  pertama baru terjadi pada tahun kedua
Hijriah.
 
Wahyu keempat adalah awal  suratAl-Muddatstsir  (tujuh  ayat
pertama).  Dalam  tujuh ayat pertama tersebut kata pengganti
Tuhan Yang Maha Esa adalah "Rabbika" yang  disebut  sebanyak
dua  kali.  Benar  bahwa dalam surat tersebut ditemukan kata
"Allah"  sebanyak  empat  kali,  tetapi  ayat-ayatnya  bukan
merupakan rangkaian wahyu-wahyu pertama.
 
Wahyu  kelima  adalah  surat Al-Lahab (Tabbat) . Dalam surat
ini tidak ditemukan kata apa  pun  yang  menunjukkan  kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
 
Wahyu  keenam  adalah  surat  At-Takwir.  Pada ayat terakhir
(ke-29) surat ini, ditemukan  kata  dengan  predikat  Rabbul
'Alamin,  namun seperti yang diriwayatkan oleh banyak ulama,
ayat itu turun terpisah dari ayat-ayat sebelumnya.
 
Wahyu ketujuh adalah surat  "Sabbihisma."  Dalam  surat  ini
disebutkan  kata-kata  "Rabbuka,"  "Allah,"  dan  "Rabbihi"
masing-masing sekali. Di  sõnilah  kata  "Allah"  disebutkan
untuk  pertama kalinya dalam rangkaian wahyu-wahyu Al-Quran.
Namun perlu digarisbawahi bahwa surat ini justru menjelaskan
sifat-sifat    Allah   Yang   Mahasuci,   serta   perbuatan-
perbuatan-Nya.
 
Wahyu  kedelapan  adalah  Alam  Nasyrah,  wahyu   kesembilan
Al-Ashr, wahyu kesepuluh Al-Fajr, wahyu kesebelas Adh-Dhuha,
wahyu kedua belas Al-Lail, wahyu  ketiga  belas  Al-'Adiyat,
wahyu   keempat   belas   Al-Kautsar,   wahyu  kelima  belas
At-Takwir, wahyu keenam  belas  At-Takatsur,  wahyu  ketujuh
belas Al-Ma'un, wahyu kedelapan belas Al-Fil.
 
Dalam  Wahyu  kedelapan  hingga  kedelapan belas tersebut di
atas,  tidak  terdapat  kata  "Allah."  Nanti   pada   wahyu
kesembilan  belas  yaitu, Qul Huwa Allahu Ahad, barulah kata
Allah dijelaskan secara rinci, sebagai jawaban terhadap kaum
musyrik yang mempertanyakan tentang Tuhan yang disembah oleh
Nabi Muhammad Saw.
 
 WAWASAN AL-QURAN
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Penerbit Mizan
Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124
Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038
mailto:mizan@ibm.net

TUHAN (3/4)

2. RASA YANG TERDAPAT DALAM JIWA MANUSIA
 
Dalam konteks ini, Al-Quran misalnya mengingatkan manusia,
 
"Katakanlah   (hai   Muhammad  kepada  yang  mempersekutukan
Tuhan), 'Jelaskanlah  kepadaku  jika  datang  siksaan  Allah
kepadamu,  atau  datang  hari  kiamat,  apakah  kamu menyeru
(tuhan) selain Allah, jika  kamu  orang-orang  yang  benar?'
Tidak!  Tetapi  hanya  kepada-Nya  kamu  bermohon,  maka Dia
menyisihkan bahaya yang karenanya  kamu  berdoa  kepada-Nya,
jika  Dia menghendaki, dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan
yang  kamu  sekutukan  (dengan  Allah)"  (QS  Al-An'am  [6]:
40-41).
 
"Dialah   Tuhan  yang  menjadikan  kamu  dapat  berjalan  di
daratan, dan (berlayar) di lautan. Sehingga bila kamu berada
di  dalam  bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa para
penumpangnya dengan  tiupan  angin  yang  baik,  dan  mereka
bergembira  karenanya:  (kemudian) datanglah angin badai dan
apabila  gelombang  dari  segenap  penjuru  menimpanya,  dan
mereka  yakin  bahwa  mereka  telah terkepung (bahaya), maka
mereka berdoa kepada  Allah  dengan  mengikhlaskan  ketaatan
kepada-Nya  semata-mata. (Mereka berkata) 'Sesungguhnya jika
Engkau menyelamatkan kami dari  bahaya  ini,  pastilah  kami
akan  termasuk  orang-orang yang bersyukur'" (QS Yunus [10]:
22).
 
Demikian Al-Quran menggambarkan  hati  manusia.  Karena  itu
sungguh  tepat  pandangan  sementara filosof yang menyatakan
bahwa manusia dapat  dipastikan  akan  terus  mengenal  dari
berhubungan  dengan  Tuhan sampai akhir zaman, walaupun ilmu
pengetahuan membuktikan lawan dari hal tersebut. Ini  selama
tabiat  kemanusiaan  masih  sama  seperti  sediakala,  yakni
memiliki naluri mengharap, cemas, dan takut,  karena  kepada
siapa  lagi  jiwanya  akan  mengarah  jika  rasa  takut atau
harapannya tidak lagi dapat dipenuhi oleh makhluk, sedangkan
harapan dan rasa takut manusia tidak pernah akan putus.
 
                                       3. DALIL-DALIL LOGIKA
 
Bertebaran  (ayat-ayat  yang  menguraikan dalil-dalil aqliah
tentang Keesaan Tuhan- Misalnya,
 
"Bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia  tidak  mempunyai
istri.   Dia   yang  menciptakan  segala  sesuatu,  dan  Dia
mengetahui segala sesuatu" (QS Al-An'am [6]: 101)
 
"Seandainya pada keduanya (langit dan bumi) ada  dua  Tuhan,
maka pastilah keduanya binasa" (QS Al-Anbiya' [21]: 22)
 
Maksud  ayat  ini  adalah "seandainya ada dua pencipta, maka
akan  kacau  ciptaan,  karena  jika  masing-masing  Pencipta
menghendaki  sesuatu  yang tidak dikehendaki oleh yang lain,
maka kalau keduanya berkuasa, ciptaan pun  akan  kacau  atau
tidak  akan mewujud; kalau salah satu mengalahkan yang lain,
maka yang kalah  bukan  Tuhan;  dan  apabila  mereka  berdua
bersepakat, maka itu merupakan bukti kebutuhan dan kelemahan
mereka, sehingga keduanya bukan Tuhan,  karena  Tuhan  tidak
mungkin membutuhkan sesuatu atau lemah atas sesuatu."
 
Pengalaman   ruhani   pun  disebutkan  oleh  Al-Quran  yaitu
pengalaman para Nabi dan  Rasul.  Misalnya  pengalaman  Nabi
Musa   a.s.  (Baca  QS  Thaha  [20]:  9-47).  Demikian  juga
pengalaman  Nabi  Ibrahim  dan  Nabi  Muhammad  Saw.,  serta
nabi-nabi yang lain dengan berbagai rinciannya yang berbeda,
namun semuanya bermuara pada tauhid atau Keesaan Tuhan.
 
Di samping mengemukakan dalil-dalil di atas,  Al-Quran  juga
mengajak  mereka yang mempersekutukan Tuhan untuk memaparkan
hujjah mereka
 
"Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah,
'Kemukakan bukti kalian!'" (QS Al-Anbiya' [21]: 24).
 
"Katakanlah,  'Jelaskanlah  kepadaku  tentang  apa yang kamu
sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah
mereka  ciptakan dan bumi ini, atau adakah mereka berserikat
(dengan Allah) dalam (penciptaan) langit.  Bawalah  kepadaku
kitab   sebelum   (Al-Quran)   ini,   atau  peninggalan  dan
pengetahuan   (orang-orang   dahulu)   jika   kamu    adalah
orang-orang yang benar'" (QS Al-Ahqaf [46]: 4)
 
                                         MACAM-MACAM KEESAAN
 
Berbicara  tentang  macam-macam  keesaan  Allah mengantarkan
kita untuk memahami paling tidak surat Al-Ikhlas, sedikitnya
tentang ayatnya yang pertama,
 
"Katakanlah! Dia Allah Yang Maha Esa."
 
Abu As-Su'ud, salah seorang pakar tafsir dan tasawuf menulis
dalam tafsirnya, bahwa Al-Quran menempatkan kata huwa  untuk
menunjuk  kepada  Allah,  padahal  sebelumnya  tidak  pernah
disebut dalam susunan redaksi ayat ini  kata  yang  menunjuk
kepada-Nya.  Ini,  menurutnya, untuk memberi kesan bahwa Dia
Yang Mahakuasa itu, sedemikian terkenal dan nyata,  sehingga
hadir  dalam  benak setiap orang dan hanya kepada-Nya selalu
tertuju segala isyarat.
 
Ahad yang diterjemahkan dengan kata Esa terambil  dari  akar
kata wahdat yang berarti "kesatuan," seperti juga kata wahid
yang berarti "satu." Kata ini  sekali  berkedudukan  sebagai
nama,  dan  sekali  sebagai  sifat  bagi sesuatu. Apabila ia
berkedudukan sebagai sifat, maka ia  hanya  digunakan  untuk
Allah Swt. semata.
 
Dalam  ayat di atas, kata Ahad berfungsi sebagai sifat Allah
Swt., dalam arti bahwa Allah memiliki sifat-sifat tersendiri
yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.
 
Dari  segi  bahasa,  kata  Ahad walaupun berakar sama dengan
Wahid, tetapi masing-masing memiliki  makna  dan  penggunaan
tersendiri.  Kata  Ahad  hanya  digunakan untuk sesuatu yang
tidak dapat menerima penambahan  baik  dalam  benak  apalagi
dalam  kenyataan,  karena  itu  kata  ini  -ketika berfungsi
sebagai  sifat-  tidak  termasuk  dalam  rentetan  bilangan,
berbeda  halnya  dengan wahid (satu); Anda dapat menambahnya
sehingga  menjadi  dua,  tiga,  dan   seterusnya,   walaupun
penambahan itu hanya dalam benak pengucap atau pendengarnya.
 
Berbicara  tentang  angka  -dalam  kaitannya  dengan bahasan
tauhid- agaknya menarik untuk  dihayati  bahwa  kata  "Ahad"
terulang  di  dalam  Al-Quran  sebanyak 85 kali, namun hanya
sekali yang menjadi sifat Tuhan yakni firman-Nya dalam surat
Al-Ikhlas,   "Qul   Huwa  Allahu  Ahad."  Seakan-akan  Allah
bermaksud untuk  menekankan  keyakinan  tauhid,  bukan  saja
dalam  maknanya,  tetapi  juga  dalam  bilangan  pengulangan
lafalnya,  serta  kandungan  lafal  itu.  Ini  menggambarkan
kemurnian  mutlak  dalam  keesaan.  Bukankah kata Wahid yang
berarti "satu," dapat  berbilang  unsurnya,  berbeda  dengan
kata  Ahad  yang mutlak tidak berbilang, walau hanya sekadar
unsurnya?
 
Benar! Allah  terkadang  juga  disifati  dengan  kata  Wahid
seperti antara lain dalam firman-Nya:
 
"Tuhan-Mu  adalah  Tuhan yang Wahid, tiada Tuhan selain Dia,
Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"  (QS  Al-Baqarah
[2]: 163)
 
Sementara  ulama  berpendapat bahwa kata Wahid dalam ayat di
atas,  menunjuk  kepada  keesaan  Zat-Nya  disertai   dengan
keragaman  sifat-sifat-Nya, bukankah Dia Maha Pengasih, Maha
Penyayang,  Mahakuat,  Maha  Mengetahui,   dan   sebagainya,
sedangkan  kata  Ahad  dalam  surat  Al-Ikhlas  itu, mengacu
kepada keesaan Zat-Nya saja, tanpa memperlihatkan  keragaman
sifat-sifat tersebut.
 
Terlepas  dari  setutu  atau tidak dengan pembedaan terakhir
ini, namun yang jelas bahwa Allah Maha Esa, dan  Keesaan-Nya
itu mencakup empat macam keesaan
 
1. Keesaan Zat
2. Keesaan Sifat
3. Keesaan Perbuatan, dan
4. Keesaan dalam beribadah kepada-Nya.
 
                                          1. KEESAAN ZAT-NYA
 
Keesaan Zat  mengandung  pengertian  bahwa  seseorang  harus
percaya  bahwa  Allah  Swt.  tidak terdiri dari unsur-unsur,
atau bagian-bagian,  karena  bila  Zat  Yang  Mahakuasa  itu
terdiri  dari dua unsur atau lebih -betapapun kecilnya unsur
atau bagian itu- maka ini berarti Dia membutuhkan unsur atau
bagian  itu.  Atau  dengan  kata  lain unsur atau bagian itu
merupakan syarat bagi wujud-Nya. Ambil sebagai contoh sebuah
jam   tangan.  Anda  menemukan  jam  tersebut  terdiri  dari
beberapa bagian, ada jarum yang menunjuk angka,  ada  logam,
ada  karet, dan lain-lain. Bagian-bagian tersebut dibutuhkan
oleh sebuah jam tangan, karena tanpa bagian  itu,  ia  tidak
dapat  menjadi  jam  tangan.  Nah,  ketika itu, walaupun jam
tangan ini hanya  satu,  tetapi  ia  tidak  esa,  karena  ia
terdiri  dari  bagian-bagian  tersebut.  Jika  demikian, Zat
Tuhan pasti tidak  terdiri  dari  unsur  atau  bagian-bagian
betapapun  kecilnya,  karena  jika  demikian, Dia tidak lagi
menjadi Tuhan. Benak kita  tidak  dapat  membayangkan  Tuhan
membutuhkan sesuatu dan Al-Quran pun menegaskan demikian:
 
"Wahai  seluruh  manusia kamulah yang butuh kepada Allah dan
Allah Mahakaya tidak membutuhkan sesuatu lagi Maha  Terpuji"
(QS Fathir [35]: 15).
 
Setiap penganut paham tauhid berkeyakinan bahwa Allah adalah
sumber segala sesuatu dan Dia sendiri tidak  bersumber  dari
sesuatu pun. Al-Quran menegaskan bahwa,
 
"Tidak  ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat" (QS Al-Syura [42]: 11)
 
Perhatikan redaksi ayat di atas, "Tidak ada sesuatupun  yang
serupa  dengan-Nya."  Yang  serupa dengan-Nya pun tidak ada,
apalagi yang seperti Dia. lebih-lebih yang sama  dengan-Nya.
Karena itu, jangankan secara faktual di dunia nyata ada yang
seperti dengan-Nya, yang secara  imajinatif  pun  tidak  ada
yang serupa dengan-Nya.
 
Keragaman  dan  bilangan  lebih  dari  satu adalah substansi
setiap makhluk, bukan ciri  Khaliq.  Itulah  sebagian  makna
Keesaan dalam Zat-Nya.
 
                                        2. KEESAAN SIFAT-NYA
 
Adapun keesaan sifat-Nya, maka itu antara lain berarti bahwa
Allah memiliki sifat yang tidak  sama  dalam  substansi  dan
kapasitasnya dengan sifat makhluk, walaupun dari segi bahasa
kata yang digunakan  untuk  menunjuk  sifat  tersebut  sama.
Sebagai  contoh,  kata  Rahim  merupakan  sifat  bagi Allah,
tetapi juga  digunakan  untuk  menunjuk  rahmat  atau  kasih
sayang  makhluk.  Namun  substansi  dan kapasitas rahmat dan
kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya.
 
Allah Esa dalam sifat-Nya, sehingga tidak ada yang  menyamai
substansi dan kapasitas sifat tersebut.
 
Sementara  ulama  memahami lebih jauh keesaan sifat-Nya itu,
dalam  arti  bahwa  Zat-Nya  sendiri  merupakan   sifat-Nya.
Demikian  mereka  memahami keesaan secara amat murni. Mereka
menolak adanya "sifat" bagi  Allah,  walaupun  mereka  tetap
yakin   dan   percaya  bahwa  Allah  Maha  Mengetahui,  Maha
Pengampun, Maha Penyantun, dan lain-lain  yang  secara  umum
dikenal  ada  sembilan  puluh sembilan. Mereka yakin tentang
hal tersebut, tetapi mereka menolak menamainya  sifat-sifat.
Lebih  jauh penganut paham ini berpendapat bahwa "sifat-Nya"
merupakan satu kesatuan, sehingga kalau dengan  tauhid  Zat,
dinafikan segala unsur keterbilangan pada Zat-Nya, betapapun
kecilnya unsur  itu,  maka  dengan  tauhid  sifat  dinafikan
segala  macam dan bentuk ketersusunan dan keterbilangan bagi
sifat-sifat Allah.  Berapa  jumlah  sifat  Allah  itu?  Yang
populer  menurut  sebuah hadis ada 99 sifat. Tetapi Muhammad
Husain  Ath-Thabathaba'i,   setelah   menelusuri   ayat-ayat
Al-Quran,  menyimpulkan  bahwa ada 127 nama atau sifat Allah
yang  ditemukan   dalam   Al-Quran,   kesemuanya   merupakan
Al-Asma',     Al-Husna.    Rincian    sifat/nama-nama    itu
dikemukakannya dalam Tafsirnya Al-Mizan  ketika  menafsirkan
QS Al-A'raf [7]: 180.
 
                                    3. KEESAAN PERBUATAN-NYA
 
Keesaan ini mengandung arti bahwa segala sesuatu yang berada
di alam raya ini, baik  sistem  kerjanya  maupun  sebab  dan
wujud-Nya,  kesemuanya  adalah hasil perbuatan Allah semata.
Apa  yang  dikehendaki-Nya  terJadi,  dan  apa  yang   tidak
dikehendaki-Nya  tidak  akan  terjadi, tidak ada daya (untuk
memperoleh manfaat),  tidak  pula  kekuatan  (untuk  menolak
madarat), kecuali bersumber dari Allah Swt., itulah makna:
 
[tulisan Arab]
 
Tetapi   ini   bukan   berarti   bahwa  Allah  Swt.  berlaku
sewenang-wenang,   atau   "bekerJa"   tanpa   sistem    yang
ditetapkanNya.   Keesaan   perbuatan-Nya   dikaitkan  dengan
hukum-hukum,    atau    takdir    dan    sunnatullah    yang
ditetapkan-Nya.
 
Dalam mewujudkan kehendak-Nya Dia tidak membutuhkan apa pun.
 
"Sesungguhnya   keadaan-Nya  bila  Dia  menghendaki  sesuatu
hanyalah berkata, 'Jadilah!' Maka jadilah  ia"  (QS  Ya  Sin
[36]: 82)
 
Tetapi  ini  bukan juga berarti bahwa Allah membutuhkan kata
"jadilah;" ayat ini hanya bermaksud menggambarkan bahwa pada
hakikatnya  dalam  mewujudkan  sesuatu Dia tidak membutuhkan
apa pun. Ayat ini juga tidak berarti  bahwa  segala  sesuatu
yang  diciptakan-Nya  tercipta  dalam sekejap, tanpa proses,
sesuai dengan kehendak-Nya. Bukankah Isa a.s. dinyatakan-Nya
sebagai tercipta dengan kun.
 
"Sesungguhnya  keadaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah
seperti Adam, diciptakan dari  tanah  kemudian  Dia  katakan
kepadanya  kun  (jadilah),  maka jadilah dia" (9S Ali 'Imran
[3]: 59).
 
Pada ayat lain, Al-Quran menggambarkan proses kejadian  Isa,
yang   dimulai  dengan  kehadiran  malaikat  kepada  Maryam,
kehamilannya, sakit perut menjelang kelahiran, dan  akhirnya
lahir (Baca QS Maryam [19]: 16-26).
 
Sekali  lagi,  kata  kun  bukan berarti bahwa segala sesuatu
yang dikehendaki-Nya terjadi serta-merta tanpa suatu proses.

TUHAN (2/4)

Karena  itu  ketika  memaparkan  tauhid kepada umatnya, Nabi
mulia ini tidak lagi berkata  sebagai  Nabi-nabi  sebelumnya
berkata,
 
"Sembahlah Allah, kalian tidak memiliki Tuhan selain-Nya,"
 
tetapi dinyatakannya,
 
"Sembahlah  Allah  dan bertakwalah kepada-Nya, yang demikian
itu  lebih  baik  untukmu  kalau  kamu  mengetahuinya"   (QS
Al-'Ankabut [29]: 16)
 
Dan  dinyatakannya  bahwa  Tuhan  yang disembah adalah Tuhan
seru sekalian alam,  bukan  Tuhan  suku,  bangsa  dan  jenis
makhluk tertentu saja.
 
"Sesungguhnya  aku  menghadapkan  wajahku  kepada Tuhan yang
menciptakan langit dan bumi dengan  cenderung  kepada  agama
yang  benar,  dan  aku  bukanlah  termasuk  orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan" (QS Al-'An'am [6]: 79).
 
"Dia (Ibrahim) berkata (kepada kaumnya),  'Sebenarnya  Tuhan
kamu  adalah  Tuhan  seluruh  langit  dan  bumi  yang  telah
menciptakannya, dan  aku  termasuk  orang-orang  yang  dapat
memberikan  bukti  atas  yang  demikian  itu" (QS Al-Anbiya,
[21]: 56).
 
Terlihat juga dari Al-Quran  bagaimana  beliau  "berdiskusi"
dengan  umatnya  dalam  rangka membuktikan kesesatan mereka,
dan menunjukkan kebenaran akidah tauhid (antara  lain  surat
Al-Anbiya, [21]: 51-67).
 
Demikianlah  tahap  baru dalam uraian tauhid, dan karena itu
-seperti  ditulis  oleh  Abdul-Karim  Al-Khatib  dalam  buku
karyanya, Qadhiyat Al-Uluhiyyah baina Al-Falsafah wa Ad-Din-
sejak Nabi Ibrahim, sampai dengan nabi-nabi sesudahnya tidak
dikenal   lagi   pemusnahan   total   bagi  umat  satu  Nabi
sebagaimana yang terjadi terhadap umat-umat sebelumnya.
 
Pemaparan tauhid pun dari hari ke hari  semakin  mantap  dan
jelas   hingga  mencapai  puncaknya  dengan  kehadiran  Nabi
Muhammad Saw.
 
Uraian Al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad Saw.
dimulai  dengan  pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya.
Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun.
 
"Bacalah demi Tuhan-Mu yang  menciptakan  (segala  sesuatu).
Dia  telah  menciptakan  manusia  dari  'alaq.  Bacalah  dan
Tuhan-mulah yang  (bersifat)  Maha  Pemurah,  yang  mengajar
manusia  dengan  qalam,  mengajar  manusia  apa  yang  tidak
diketahui(-nya)" (QS Al-'Alaq [96]: 1-5).
 
Dalam  rangkaian  wahyu-wahyu  pertama.  Al-Quran   menunjuk
kepada kepadaTuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan)
Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata "Allah."1
 
Hal ini untuk menggarisbawahi Wujud  Tuhan  Yang  Maha  Esa,
yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya.
 
Dari  satu  sisi  memang  dikenal  satu  ungkapan  yang oleh
sementara pakar dinilai sebagai hadis Qudsi yang berbunyi:
 
"Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak  untuk
dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku."
 
Di   sisi   lain,   tidak  digunakannya  kata  "Allah"  pada
wahyu-wahyu pertama  itu,  adalah  dalam  rangka  meluruskan
keyakinan  kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata
"Allah" untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan  mereka
tentang  Allah  berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh
Islam.
 
Mereka  misalnya  beranggapan  bahwa  ada  hubungan   antara
"Allah"  dan  jin (QS Al-Shaffat [37]: 158), dan bahwa Allah
memiliki anak-anak wanita  (QS  Al-Isra'  [17]:  40),  serta
manusia  tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan Allah,
karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para  malaikat
dan      berhala-berhala      perlu     disembah     sebagai
perantara-perantara antara mereka dengan Allah (QS  Al-Zumar
[39]: 3)
 
Dan   kekeliruan-kekeliruan  itu,  maka  Al-Quran  melakukan
pelurusan-pelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai  gaya
bahasa,  cara dan bukti. Sekali dengan pernyataan tegas yang
didahului dengan sumpah, misalnya:
 
"Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya,
dan  demi  (rombongan)  yang  melarang  (perbuatan  durhaka)
dengan sebenar-benamya, dan demi (rombongan) yang membacakan
pelajaran.   Sesungguhnya  Tuhanmu  benar-benar  Esa,  Tuhan
langit dan bumi serta apa yang ada di antara  keduanya,  dan
Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari" (QS Al-Shaffat [37]:
1-5).
 
Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman,
 
"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang  banyak  bermacam-macam
itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" (QS Yusuf
[12]: 39).
 
Kemudian  Al-Quran  juga   menggunakan   gaya   perumpamaan,
seperti:
 
"Perumpamaan  orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung
selain Allah adalah seperti laba-laba  yang  membuat  rumah.
Sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah rumah laba-laba,
kalau mereka mengetahui" (QS Al-'Ankabut [29]: 41).
 
Ayat  ini  memberi  perumpamaan  mengenai  orang-orang  yang
meminta  perlindungan  kepada selain Allah, sebagai serangga
yang berlindung ke sarang laba-laba. Serangga itu tentu akan
terjerat  menjadi  mangsa laba-laba, dan bukannya terlindung
olehnya. Bahkan jangankan serangga yang berlainan  jenisnya,
yang  satu  jenis  pun  seperti  jantan  laba-laba, berusaha
diterkam  oleh  laba-laba  betina  begitu   mereka   selesai
berhubungan  seks.  Kemudian telur-telur laba-laba yang baru
saja menetas, saling tindih-menindih sehingga  yang  menjadi
korban adalah yang tertindih.
 
Dalam  kesempatan lain, Al-Quran memaparkan kisah-kisah yang
bertujuan menegakkan  tauhid,  seperti  kisah  Nabi  Ibrahim
ketika   memorak-porandakan   berhala-berhala  kaumnya  (QS
Al-Anbiya' [21]: 51-71)
 
                                   BUKTI-BUKTI KEESAAN TUHAN
 
Ada sementara orang yang menuntut bukti  wujud  dan  keesaan
Tuhan   dengan  pembuktian  material.  Mereka  ingin  segera
melihat-Nya di dunia ini. Nabi Musa a.s. suatu ketika pernah
bermohon agar Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya, sehingga
Tuhan berfirman sebagai jawaban atas permohonannya,
 
"'Engkau sekali-kali tidak  akan  dapat  melihat-Ku.  Tetapi
lihatlah  ke  bukit itu, jika ia tetap di tempatnya [seperti
keadaannya semula), niscaya kamu dapat melihat-Ku.'  Tatkala
Tuhannya   tampak   bagi   gunung   itu,  kejadian  tersebut
menjadikan gunung  itu  hancur  luluh  dan  Musa  pun  jatuh
pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, 'Maha
suci Engkau, aku bertobat  kepada-Mu,  dan  aku  orang  yang
pertama  (dari  kelompok)  orang beriman'" (QS Al-A'raf [7]:
143).
 
Peristiwa ini membuktikan  bahwa  manusia  agung  pun  tidak
berkemampuan   untuk   melihat-Nya   -paling   tidak-  dalam
kehidupan   dunia   ini.   Agaknya   kenyataan   sehari-hari
menunjukkan  bahwa  kita  dapat  mengakui keberadaan sesuatu
tanpa harus melihatnya. Bukankah kita mengakui adanya angin,
hanya dengan merasakan atau melihat bekas-bekasnya? Bukankah
kita mengakui adanya "nyawa"  bukan  saja  tanpa  melihatnya
bahkan tidak mengetahui substansinya?
 
Di  sisi  lain  ada dua faktor yang menjadikan makhluk tidak
dapat melihat sesuatu. Pertama,  karena  sesuatu  yang  akan
dilihat terlalu kecil apalagi dalam kegelapan. Sebutir pasir
lebih-lebih di malam yang kelam tidak mungkin ditemukan oleh
seseorang.  Namun  kegagalan  itu  tidak  berarti pasir yang
dicari  tidak  ada  wujudnya.  Faktor  kedua  adalah  karena
sesuatu  itu  sangat  terang. Bukankah kelelawar tidak dapat
melihat di siang hari, karena  sedemikian  terangnya  cahaya
matahari  dibanding  dengan kemampuan matanya untuk melihat?
Tetapi bila malam tiba,  dengan;  mudah  ia  dapat  melihat.
Demikian  pula  manusia tidak sanggup menatap matahari dalam
beberapa saat saja, bahkan sesaat setelah menatapnya ia akan
menemukan kegelapan Kalau demikian wajar jika mata kepalanya
tak mampu melihat Tuhan Pencipta matahari itu.
 
Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya  oleh  seorang  sahabatnya
bernama Zi'lib Al-Yamani,
 
"Apakah   Anda   pernah  melihat  Tuhan?"  Beliau  menjawab,
"Bagaimana saya menyembah yang  tidak  pernah  saya  lihat?"
"Bagaimana  Anda  melihat-Nya?"  tanyanya  kembali. Imam Ali
menjawab,"Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya
yang  kasat,  tetapi  bisa  dilihat oleh hati dengan hakikat
keimanan ..."
 
Mata hati  jauh  lebih  tajam  dan  dapat  lebih  meyakinkan
daripada  pandangan  mata. Bukankah mata sering menipu kita?
Kayu yang lurus terlihat bengkok di  dalam  sungai,  bintang
yang besar terlihat kecil dari kejauhan.
 
Dalam  kaitan dengan argumen-argumen dan bukti-bukti logika,
kita dapat menyatakan bahwa  tidak  ada  satu  argumen  yang
dikemukakan  oleh  para  filosof  tentang  Wujud dan Keesaan
Tuhan yang tidak dikemukakan Al-Quran. Hanya  bedanya  bahwa
kalimat-kalimat yang digunakan Al-Quran sedemikian sederhana
dan  mudah  ditangkap,  berbeda  dengan  para  filosof  yang
seringkali berbelit-belit.
 
Dahulu  dikenal  apa yang dinamai bukti ontologi, kosmologi,
dan  teleologi.  Bukti  ontologi  menggambarkan  bahwa  kita
mempunyai  ide  tentang  Tuhan, dan tidak dapat membayangkan
adanya sesuatu yang lebih berkuasa dan-Nya. Bukti  kosmologi
berdasar  pada  ide  "sebab dan akibat" yakni, tidak mungkin
tertadi sesuatu tanpa ada penyebabnya, dan penyebab terakhir
pastilah  Tuhan.  Bukti teleologi, berdasar pada keseragaman
dan keserasian alam, yang tidak dapat terjadi tanpa ada satu
kekuatan yang mengatur keserasian itu
 
Kini  para  filosof memperkenalkan bukti-bukti baru, seperti
pengalaman moral. Pengalaman moral merupakan  tanda  tentang
adanya  yang  real;  pengalaman ini tidak akan berarti tanpa
adanya susunan moral yang objektif, dan ini pada  gilirannya
tidak  akan  berarti  tanpa adanya satu Zat Yang Mahatinggi,
Tuhan Yang Mahakuasa.
 
Bukti lain adalah pengalaman  keagamaan  yang  dialami  oleh
kebanyakan  manusia  yang  tidak diragukan kejujurannya, dan
yang intinya mengandung informasi yang sama.
 
Bukti-bukti  yang  dipaparkan  di  atas,  dikemukakan   oleh
Al-Quran   dengan   berbagai   cara,  baik  tersurat  maupun
tersirat.
 
Secara umum kita dapat membagi uraian Al-Quran tentang bukti
Keesaan Tuhan dengan tiga bagian pokok, yaitu:
 
1. Kenyataan wujud yang tampak.
2. Rasa yang terdapat dalam jiwa manusia.
3. Dalil-dalil logika.
 
                              1. KENYATAAN WUJUD YANG TAMPAK
 
Dalam konteks ini Al-Quran menggunakan seluruh wujud sebagai
bukti,  khususnya  keberadaan  alam  raya  ini dengan segala
isinya. Berkali-kali manusia diperintahkan  untuk  melakukan
nazhar,  fikr, serta berjalan di permukaan bumi guna melihat
betapa alam raya ini tidak mungkin terwujud tanpa  ada  yang
mewujudkannya.
 
"Tidakkah  mereka  melihat kepada unta bagaimana diciptakan,
dan ke langit bagaimana ia ditinggikan, ke gunung  bagaimana
ia ditancapkan, serta ke bumi bagaimana ia dihamparkan?" (QS
Al-Ghasyiyah [88]: l7-20).
 
Dalam   uraian    Al-Quran    tentang    kenyataan    wujud,
dikemukakannya keindahan dan keserasian alam raya.
 
"Tidakkah mereka melihat ke langit di atas mereka, bagaimana
Kami meninggikannya dan menghiasinya dan  langit  itu  tidak
mempunyai  retak-retak  sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi
serta Kami letakkan padanya gunung-gunung  yang  kokoh,  dan
Kami  tumbuhkan  padanya  segala  macam  tanaman  yang indah
dipandang mata." (QS Qaf [50]: 6-7).
 
Adapun keserasiannya, maka dinyatakannya:
 
"(Allah) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.  Kamu
sama  sekali  tidak  melihat  pada  ciptaan  Tuhan Yang Maha
Pengasih  sesuatu  yang  tidak   seimbang.   Maka   lihatlah
berulang-ulang,   adakah   sesuatu  yang  kamu  lihat  tidak
seimbang?   Kemudian   pandanglah   sekali   lagi,   niscaya
penglihatanmu  akan  kembali kepadamu dengan tidak menemukan
sesuatu pun yang cacat,  dan  penglihatanmu  itu  pun  dalam
keadaan payah" (QS Al-Mulk [67]: 3-4).

TUHAN (1/4)

Kalau kita menengok  ke  belakang,  mempelajari  kepercayaan
umat  manusia,  maka yang ditemukan adalah hampir semua umat
manusia mempercayai adanyaTuhan yang mengatur alam raya ini.
Orang-orang Yunani Kuno menganut paham politeisme (keyakinan
banyak tuhan): bintang adalah  tuhan  (dewa),  Venus  adalah
(tuhan)   Dewa  Kecantikan,  Mars  adalah  Dewa  Peperangan,
Minerva adalah  Dewa  Kekayaan,  sedangkan  Tuhan  tertinggi
adalah Apollo atau Dewa Matahari.
 
Orang-orang  Hindu  -masa lampau juga mempunyai banyak dewa,
yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Keyakinan  itu  tercermin
antara  lain  dalam  Hikayat  Mahabarata.  Masyarakat Mesir,
tidak terkecuali. Mereka meyakini  adanya  Dewa  Iziz,  Dewi
Oziris, dan yang tertinggi adalah Ra'. Masyarakat Persia pun
demikian, mereka percaya bahwa ada  Tuhan  Gelap  dan  Tuhan
Terang. Begitulah seterusnya.
 
Pengaruh  keyakinan  tersebut  merambah  ke masyarakat Arab,
walaupun jika mereka ditanya tentang Penguasa  dan  Pencipta
langit  dan bumi mereka menjawab, "Allah." Tetapi dalam saat
yang sama mereka menyembah juga berhala-berhala Al-Lata, Al-
Uzza,  dan  Manata, tiga berhala terbesar mereka, di samping
ratusan berhala lainnya.
 
Al-Quran  datang  untuk  meluruskan  keyakinan  itu,  dengan
membawa ajaran tauhid. Tulisan ini berusaha untuk memaparkan
wawasan Al-Quran tentang hal tersebut, meskipun harus diakui
bahwa   tulisan   ini   tidak   mungkin   dapat   menjangkau
keseluruhannya. Dapat  dibayangkan  betapa  luas  pembahasan
tentang  Tuhan  Yang  Maha Esa bila akan dirujuk keseluruhan
kata yang menunjuk-Nya. Kata  "Allah"  saja  dalam  Al-Quran
terulang  sebanyak  2697  kali. Belum lagi kata-kata semacam
Wahid, Ahad, Ar-Rab, Al-Ilah, atau  kalimat  yang  menafikan
adanya  sekutu  bagi-Nya  baik dalam perbuatan atau wewenang
menetapkan hukum, atau kewajaran beribadah kepada selain-Nya
serta   penegasian   lain   yang  semuanya  mengarah  kepada
penjelasan tentang tauhid.
 
             FITRAH MANUSIA: KEYAKINAN TENTANG KEESAAN ALLAH
 
Kalau kita membuka lembaran-lembaran Al-Quran, hampir  tidak
ditemukan  ayat yang membicarakan wujud Tuhan. Bahkan Syaikh
Abdul  Halim  Mahmud  dalam  bukunya  Al-Islam  wa   Al-'Aql
menegaskan  bahwa,  "Jangankan  Al-Quran,  Kitab Taurat, dan
Injil dalam bentuknya yang sekarang pun (Perjanjian Lama dan
Baru) tidak menguraikan tentang wujud Tuhan." Ini disebabkan
karena wujud-Nya sedemikian  jelas,  dan  "terasa"  sehingga
tidak perlu dijelaskan.
 
Al-Quran mengisyaratkan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri
setiap  insan,  dan  bahwa  hal  tersebut  merupakan  fitrah
(bawaan)  manusia  sejak asal kejadiannya. Demikian dipahami
dari firman-Nya dalam surat Al-Rum (30): 30.
 
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah  atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah  itu.  Tiada  perubahan  pada  fitrah  Allah.
(Itulah)  agama  yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui."
 
Dalam ayat lain dikemukakan, bahwa:
 
"Dan  (ingatlah)  ketika  Tuhanmu   mengeluarkan   keturunan
anak-anak  Adam  dari  sulbi  mereka,  dan  Allah  mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah
Aku  ini  Tuhanmu?'  Mereka  menjawab:  'Betul (Engkau Tuhan
kami), kami menyaksikan'" (QS Al-A'raf [7]: 172).
 
Apabila Anda duduk termenung  seorang  diri,  pikiran  mulai
tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi,
terdengarlah  suara  nurani,  yang   mengajak   Anda   untuk
berdialog,  mendekat  bahkan  menyatu dengan suatu totalitas
wujud Yang Maha mutlak.
 
Suara itu mengantar Anda  untuk  menyadari  betapa  lemahnya
manusia dihadapan-Nya. dan betapa kuasa dan perkasa Dia Yang
Mahaagung itu. Suara yang Anda dengarkan itu,  adalah  suara
fitrah  manusia.  Setiap  orang  memiliki  fitrah  itu,  dan
terbawa serta  olehnya  sejak  kelahiran,  walau  seringkali
-karena kesibukan dan dosa-dosa- ia terabaikan, dan suaranya
begitu lemah sehingga  tidak  terdengar  lagi.  Tetapi  bila
diusahakan untuk didengarkan, kemudian benar-benar tertancap
di dalam jiwa, maka  akan  hilanglah  segala  ketergantungan
kepada  unsur-unsur  lain kecuali kepada Allah semata, tiada
tempat bergantung, tiada tempat  menitipkan  harapan,  tiada
tempat  mengabdi  kecuali kepada-Nya. La haula wa la quwwata
illa billahi-'Aliyyil-'Azhim (Tiada  daya  untuk  memperoleh
manfaat,  tiada  pula  kuasa  untuk menolak mudarat, kecuali
bersumber dari Allah Yang Mahatinggi  lagi  Mahaagung).  Dan
dengan  demikian  tidak  ada lagi rasa takut yang menghantui
atau mencengkeram, tiada pula rasa sedih yang akan mencekam.
 
Sesungguhnya orang-orang  yang  berkata  (berprinsip)  bahwa
Tuhan  Pemelihara  kami adalah Allah, serta istiqamah dengan
prinsip  itu,  akan  turun  kepada  mereka  malaikat  (untuk
menenangkan  mereka  sambil  berkata)  "Jangan takut, jangan
bersedih, berbahagialah kalian dengan surga yang dijanjikan"
(QS Fushshilat [41]: 30)
 
"Orang-orang  yang  beriman dan jiwa mereka menjadi tenteram
karena  mengingat  Allah.  Memang  hanya  dengan   mengingat
Allahlah jiwa menjadi tenteram" (QS Al-Ra'd [13]: 28).
 
Memang  boleh  jadi  ada  saat-saat dalam hidup ini -singkat
atau panjang-  dimana  manusia  mengalami  keraguan  tentang
wujud-Nya,  bahkan boleh jadi keraguan tersebut mengantarnya
untuk   menolak    kehadiran    Tuhan    dan    menanggalkan
kepercayaannya,  tetapi  ketika itu keraguannya akan beralih
menjadi kegelisahan, khususnya pada saat-saat ia merenung.
 
Di atas telah penulis katakan bahwa hampir  tidak  ditemukan
ayat  yang  membicarakan  tentang  wujud  Tuhan. Ini, karena
harus diakui bahwa ada beberapa  ayat  Al-Quran  yang  dapat
dipahami sebagai berbicara tentang wujud Tuhan, dan ada pula
beberapa ayat yang mengisyaratkan adanya segelintir  manusia
yang ateis. Misalnya,
 
"Dan  mereka  berkata,  'Kehidupan  ini  tidak lain hanyalah
kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak
ada  yang  membinasakan  kita selain masa.'" (QS Al-Jatsiyah
[45]: 24)
 
Namun seperti bunyi lanjutan ayat di atas,
 
"Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,
dan mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."
 
Bahkan boleh jadi kita dapat berkata bahwa mereka yang tidak
mempercayai wujud Tuhan adalah  orang-orang  yang  kehabisan
akal   dan   keras  kepala  ketika  berhadapan  dengan  satu
kenyataan yang tidak sesuai dengan "nafsu kotornya" itu.
 
Yang demikian dapat  dipahami  dari  ayat  yang  menguraikan
diskusi  yang  terjadi antara Nabi Ibrahim a.s. dan penguasa
masanya (Namrud) (QS  Al-Baqarah  [2]:  258),  atau  Fir'aun
ketika  berhadapan  dengan  Musa  a.s. yang bertanya, "Siapa
Tuhan semesta alam itu?" (QS Al-Syu'ara, 126]: 23).
 
Salah satu bukti bahwa pernyataan ini lahir dari sikap keras
kepala  adalah  pengakuan Fir'aun sendiri ketika ruhnya akan
meninggalkan   jasadnya.   Dalam   konteks   ini   Al-Quran,
menjelaskan  sikap  Fir'aun  yang  ketika itu kembali kepada
fitrah, namun sayang dia telah terlambat.
 
"... hingga saat Fir'aun telah hampir tenggelam,  berkatalah
dia.  'Saya  percaya  bahwa  tidak ada Tuhan melainkan Tuhan
yang  dipercayai  oleh  Bani  Israil,  dan   saya   termasuk
orang-orang  yang  berserah  diri  (kepada  Allah).'  Apakah
sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah
durhaka  sejak  dahulu  dan  kamu  termasuk orang-orang yang
berbuat kerusakan?" (QS Yunus [10]: 90-91).
 
Ayat  ini  sekaligus  membuktikan  bahwa   kehadiran   Tuhan
merupakan  fitrah manusia yang merupakan kebutuhan hidupnya.
Kalaupun  ada  yang   mengingkari   wujud   tersebut,   maka
pengingkaran  tersebut  bersifat sementara. Dalam arti bahwa
pada akhirnya -sebelum jiwanya berpisah dengan jasadnya-  ia
akan     mengakui-Nya.     Memang,     kebutuhan     manusia
bertingkat-tingkat, ada yang harus dipenuhi  segera  seperti
kebutuhan  udara, ada yang dapat ditangguhkan untuk beberapa
saat, seperti kebutuhan minum. Kebutuhan untuk makan,  dapat
ditangguhkan  lebih  lama daripada kebutuhan minuman, tetapi
kebutuhan pemenuhan seksual  bisa  lebih  lama  ditangguhkan
daripada   kebutuhan   pada   makan   dan   minum;  demikian
seterusnya. Kebutuhan yang paling  lama  dapat  ditangguhkan
adalah  kebutuhan  tentang keyakinan akan adanya Allah Swt.,
Tuhan Yang Maha Esa.
 
                    TAUHID ADALAH PRINSIP DASAR AGAMA SAMAWI
 
Merujuk kepada Al-Quran, dapat kita temukan bahwa para  Nabi
dan Rasul selalu membawa ajaran tauhid.
 
"Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, kecuali
Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada  Tuhan  selain  Aku,
maka sembahlah Aku" (QS Al-Anbiya' [21]: 25).
 
"Wahai  kaumku,  sembahlah  Allah, sekali-kali tak ada Tuhan
bagimu selain-Nya."
 
Demikian ucapan Nabi  Nuh,  Hud,  Shaleh  dan  Syu'aib  yang
diabadikan Al-Quran masing-masing secara berurut dalam surat
Al-A'raf (7): 59, 65, 73, dan 85.
 
Demikian juga ajaran yang diterima Musa a.s. langsung  dari
Allah:
 
"Aku  yang  memilihmu, maka dengarkan dengan tekun, apa yang
diwahyukan (padamu): 'Sesungguhnya Aku adalah  Allah,  tidak
ada  Tuhan  selain Aku. Sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat
untuk mengingat-Ku'" (QS Thaha [20] 13-14)
 
Nabi Isa a.s. juga mengajarkan prinsip ini kepada umatnya:
 
"Isa  berkata  (kepada  Bani  Israil),  'Hai  Bani   Israil,
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.' Sesunguhnya siapa yang
mempersekutukan-Nya maka Allah mengharamkan  baginya  surga,
dan tempatnya adalah neraka. Tiada penolong bagi orang-orarg
yang aniaya." (QS Al-Maidah [5]: 72)
 
Namun, walaupun semua nabi membawa ajaran  tauhid,  terlihat
melalui   ayat-ayat   Al-Quran  bahwa  ada  perbedaan  dalam
pemaparan mereka tentang prinsip tauhid. Jelas sekali  bahwa
Nabi  Muhammad  Saw.,  melalui Al-Quran diperkaya oleh Allah
dengan  aneka  penjelasan  dan  bukti,  serta  jawaban  yang
membungkam siapa pun yang mempersekutukan Tuhan
 
Allah  Swt.  menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada
para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat
mereka.  Karena  itu hampir tidak ada bukti-bukti logis yang
dikemukakan oleh Nabi Nuh kepada umatnya, dan pada  akhirnya
setelah  mereka  tetap  membangkang,  jatuhlah  sanksi  yang
memusnahkan mereka:
 
"Maka  topan  membinasakan   mereka,   dan   mereka   adalah
orang-orang aniaya" (QS Al-'Ankabut [29]: 14).
 
Ketika  tiba  masa Nabi Hud a.s. -yang masanya belum terlalu
jauh dari Nuh- pemaparan beliau hampir tidak berbeda, tetapi
di  sana  sini  telah  jelas bahwa masyarakat yang diajaknya
berdialog, memiliki kemampuan berpikir sedikit di atas  umat
Nuh.  Karena  itu, pemaparan tentang tauhid yang dikemukakan
oleh   Hud   a.s.   disertai   dengan   peringatan   tentang
nikmat-nikmat  Allah  yang  mereka dapatkan. Dalam rangkaian
ayat-ayat yang mengingatkan mereka akan keesaan  Allah,  Hud
mengingatkan:
 
"Ingatlah  (nikmat  Allah)  oleh  kamu sekalian ketika Allah
menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang  berkuasa)
sesudah  lenyapnya  kaum  Nuh; dan Tuhan melebihkan kekuatan
tubuh dan perawakanmu (daripada  kaum  Nuh),  maka  ingatlah
nikmat-nikmat  Allah  supaya kamu mendapat keberuntungan (QS
Al-A'raf [7]:  69,  dan  juga  dalam  QS  Al-Syu'ara'  [26]:
123-140)
 
Nabi Shaleh yang datang sesudah Nabi Hud a.s. lebih luas dan
rinci penjelasannya, karena wawasan umatnya lebih luas pula.
Mereka misalnya diingatkan tentang asal kejadian mereka dari
tanah atau tugas mereka memakmurkan bumi (QS Hud [11]: 61).
 
Akal yang mampu mencerna dapat memahami bahwa asal  kejadian
manusia  berasal  dari  tanah  -dalam arti bahwa sperma yang
dituangkan  ke  rahim  istri  berasal  dari   makanan   yang
dihasilkan  oleh bumi. Manusia yang memiliki akal yang dapat
mencerna ini  atau  walau  hanya  memahaminya  secara  umum,
pastilah  lebih  mampu  dari  mereka yang sekadar dipaparkan
kepadanya nikmat-nikmat Ilahi, sebagaimana halnya  kaum  Hud
dan Nuh- Di samping itu ada bukti lain yang dikemukakan Nabi
Shaleh:
 
"Dan kepada Tsamud (Kami mengutus)  saudara  mereka  Shaleh.
Dia  berkata,  'Wahai  kaumku  sembahlah  Allah, sekali-kali
tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang
bukti  yang  sangat  nyata  kepadamu;  unta betina Allah ini
sebagai bukti untuk kamu ...'" (QS Al-A'raf [7]: 73).
 
Ketika tiba masa Syu'aib, ajakan dakwahnya lebih luas  lagi,
melampaui batas yang disinggung oleh ketiga Nabi sebelumnya.
Kali  ini  ajaran  tauhid  tidak   saja   dikaitkan   dengan
bukti-bukti,  tetapi  juga  dirangkaikan  dengan hukum-hukum
syariat.
 
"Dan kepada penduduk Madyan (Kami mengutus)  saudara  mereka
Syu'aib.   Ia   berkata,   'Hai   kaumku,  sembahlah  Allah,
sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya.  Sesungguhnya
telah  datang  kepadamu  bukti  yang nyata dan Tuhanmu. Maka
sempurnakanlah takaran dan  timbangan,  dan  janganlah  kamu
kurangkan    bagi    manusia   barang-barang   takaran   dan
timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan  di  bumi
sesudah  Tuhan  memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik
bagimu, jika kamu  benar-benar  orang  yang  beriman.'"  (QS
Al-A'raf [7]: 85).
 
Ayat  ini  bahkan  menggugah  jiwa dan menuntut mereka untuk
membangun satu masyarakat yang penuh dengan  kemakmuran  dan
keadilan.
 
Setelah  itu,  datang  ajakan  Nabi  Ibrahim, yang merupakan
periode baru dari tuntunan tentang Ketuhanan Yang Maha  Esa.
Nabi  Ibrahim a.s. dikenal sebagai "Bapak Para Nabi," "Bapak
Monoteisme,"  serta  "Proklamator  Keadilan  Ilahi"   karena
agama-agama  samawi terbesar dewasa ini merujuk kepada agama
beliau.
 
Ibrahim a.s.  menemukan  dan  membina  keyakinannya  melalui
pencarian    dan   pengalaman-pengalaman   keruhanian   yang
dilaluinya dan hal ini -secara Qurani- terbukti  bukan  saja
dalam  penemuannya tentang keesaan Tuhan seru sekalian alam,
sebagaimana diuraikan dalam surat Al-An'am ayat  75,  tetapi
juga dalam keyakinan tentang hari kebangkitan. Menarik untuk
diketahui bahwa beliaulah  satu-satunya  Nabi  yang  disebut
Al-Quran bermohon kepada Allah untuk diperlihatkan bagaimana
cara-Nya menghidupkan yang mati, dan permintaan  beliau  itu
dikabulkan Allah (QS Al-Baqarah [2]: 260)
 
Para  ilmuwan seringkali berbicara tentang penemuan-penemuan
manusia yang  mempengaruhi  atau  bahkan  mengubah  jalannya
sejarah kemanusiaan. Tetapi, seperti ditulis Abbas Al-'Aqqad
dalam Abu Al-Anbiyya': "Penemuan yang dikaitkan dengan  Nabi
Ibrahim  a.s.  merupakan penemuan manusia yang terbesar, dan
yang tidak dapat diabaikan oleh para ilmuwan atau sejarawan.
Ia  tidak  dapat  dibandingkan  dengan  penemuan  roda, api,
listrik,  atau  rahasia-rahasia  atom  -betapapun   besarnya
pengaruh penemuan-penemuan tersebut- yang semua itu dikuasai
oleh manusia.  Penemuan  Ibrahim  menguasai  jiwa  dan  raga
manusia.   Penemuan  Ibrahim menjadikan manusia yang tadinya
tunduk kepada  alam  menjadi  mampu  menguasai  alam,  serta
menilai baik buruknya.  Penemuan manusia dapat menjadikannya
berlaku sewenang-wenang,  tetapi  kesewenangan-wenangan  ini
tidak  mungkin  dilakukannya  selama  penemuan  Ibrahim a.s.
tetap menghiasi jiwanya.  Penemuan tersebut berkaitan dengan
apa   yang   diketahui   dan   tidak-diketahuinya  berkaitan
kedudukannya  sebagai  makhluk,  dan  hubungan  makhluk  ini
dengan Tuhan, alam raya, dan makhluk-makhluk sesamanya."

INILAH RAHASIA TAKDIR

Jika ada seseorang yang mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A maka sesungguhnya semua hal itu telah ditetapkan dan ditulis oleh Allah sejak 50.000 tahun yang lalu. Kejadian itu pasti akan terjadi, tak akan bisa dicegah dan tak akan bisa berubah. Tak akan ada yang berubah dalam hal yang sudah ditakdirkan Allah dan dicatat Allah di lauhul mahfudz.

“…….sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. [surat Al-Hajj: 70]

“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum menciptakan langit dan bumi. Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (hadits riwayat muslim)

Iman kepada takdir punya 4 tingkatan, dan iman yang sempurna harus mengimani ke-4 tingkat itu, jika hanya sampai tingkat 1 atau 3 maka imannya masih cacat.

1. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENGETAHUI segala hal yang akan terjadi di dunia ini

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENGETAHUI bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

2. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENULIS APA YANG DIKETAHUINYA ITU

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENULIS bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

3. Percaya bahwa sejak dahulu kala Allah telah MENGHENDAKI HAL YANG AKAN TERJADI TERSEBUT (jika Allah tidak menghendaki sesuatu hal, tentu hal itu tidak akan terjadi, karena segala sesuatu hanya bisa terjadi jika diizinkan Allah untuk terjadi)

contohnya: Sejak dahulu kala Allah telah MENGHENDAKI bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

4. Percaya bahwa Allah YANG MENCIPTAKAN HAL YANG AKAN TERJADI TERSEBUT (jika Allah tidak menciptakan sesuatu hal, tentu hal itu tidak akan terjadi, karena tidak ada pencipta selain Allah)

contohnya:  Allah YANG MENCIPTAKAN KEJADIAN bahwa si X akan mati dengan cara bunuh diri pada jam sekian, tanggal sekian, di tempat A

=================================================

TAKDIR MANAKAH YANG BISA DIUBAH DENGAN DOA?

Takdir yang bisa diubah dengan doa atau dengan amal baik adalah takdir kontemporer(sementara), misalnya catatan takdir yang ada di catatan malaikat. Sedangkan yang di lauhul mahfuz maka tidak akan berubah, bahkan perbuatan berdoa atau tidak berdoa, itupun sudah tercatat di lauhul mahfudz. Seseorang yang berdoa pada jam sekian, tanggal sekian, ditempat B, maka sebenarnya telah ditakdirkan oleh Allah sejak dahulu kala bahwa orang itu memang akan berdoa pada jam sekian, tanggal sekian, ditempat B.

Jadi, catatan takdir-takdir kontemporer(sementara) akan berubah-ubah sehingga isinya menjadi sama dengan “takdir” yang tertulis di lauhul mahfudz. Bahkan akan terjadinya perubahan pada catatan takdir-takdir kontemporer(sementara) itupun telah tercatat di lauhul mahfudz.

“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami… .’” [At-Taubah: 51]

“…Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka saling membunuh. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” [Al-Baqarah: 253]

“…Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk … .” [Al-An’aam: 35]

“Dan kalau Allah menghendaki niscaya mereka tidak mempersekutukan(-Nya)… .” [Al-An’aam: 107]

“Dan jikalau Rabb-mu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya… .” [Yunus: 99] [3]

“Allah Yang menciptakan segala sesuatu… .” [Az-Zumar: 62]

Imam Al-Bukhari Rahimahullah meriwayatkan dalam kitab Khalq Af’aalil ‘Ibaad dari Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan semua (makhluk) yang berbuat dan juga sekaligus perbuatannya.”

Barang-siapa berbuat dosa lalu bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam Alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalihkan dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka (yaitu ADAM), dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, iblis.

===============================================================

APA KEWAJIBAN HAMBA BERKENAAN DENGAN MASALAH TAKDIR?

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

Kewajiban seorang hamba dalam masalah ini ialah mengimani qadha’ Allah dan qadar-Nya, serta mengimani syari’at, perintah dan larangan-Nya. Ia berkewajiban untuk membenarkan khabar (berita) dan mentaati perintah. [1]

Jika ia berbuat kebajikan, hendaklah ia memuji Allah dan jika ia berbuat keburukan, hendaklah ia memohon ampun kepada-Nya. Ia pun mengetahui bahwa semua itu terjadi dengan qadha’ Allah dan qadar-Nya. Sesungguhnya, ketika Nabi Adam Alaihissalam melakukan dosa, maka dia bertaubat, lalu Rabb-nya memilihnya dan memberi petunjuk kepadanya. Sedangkan iblis, ia tetap meneruskan dosa dan menghujat, maka Allah melaknat dan mengusirnya. Barang-siapa yang bertaubat, maka ia sesuai dengan sifat Nabi Adam Alaihissalam, dan barangsiapa yang meneruskan dosanya serta berdalihkan dengan takdir, maka ia sesuai dengan sifat iblis. Maka orang-orang yang berbahagia akan mengikuti bapak mereka, dan orang-orang yang celaka akan mengikuti musuh mereka, iblis. [2]

“Dengan pemahaman terhadap qadar Allah dan pelaksanaan terhadap syari’at-Nya secara benar, maka manusia akan menjadi seorang hamba -yang hakiki-, sehingga dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, ash-shiddiqin, asy-syuhada’ dan ash-shalihin. Cukuplah dengan persahabatan ini suatu keberuntungan dan kebahagiaan.” [3]

Kesimpulannya, ia wajib mengimani keempat tingkatan takdir yang telah disinggung sebelumnya. Yaitu, tidak ada sesuatu pun yang terjadi melainkan Allah telah mengetahui, mencatat, meng-hendaki, dan menciptakannya. Ia mengimani juga bahwa Allah memerintahkan agar mentaati-Nya dan melarang bermaksiat kepada-Nya, lalu ia melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Apabila Allah memberi taufik kepadanya untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, maka hendaklah ia memuji Allah dan meneruskan hal itu. Tetapi apabila dirinya dibiarkan dan dipasrahkan (oleh Allah) kepada dirinya sendiri, lalu ia melakukan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan, maka hendaklah ia beristighfar dan bertaubat.

Kemudian, hamba juga berkewajiban untuk bekerja demi kemaslahatan duniawinya, dan menempuh cara-cara yang benar yang dapat menghantarkan ke sana, lalu ia berjalan di muka bumi dan segala penjurunya. Jika berbagai perkara datang sesuai dengan apa yang dikehendakinya, hendaklah ia memuji Allah, dan jika datang tidak sesuai dengan yang diinginkannya, maka ia terhibur dengan qadar Allah. Ia tahu bahwa itu semua terjadi dengan qadar Allah Azza wa Jalla, dan bahwa apa yang menimpanya tidak pernah luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya.

“Jika hamba mengetahui secara global bahwa Allah dalam apa yang diciptakan dan diperintahkan-Nya memiliki hikmah yang besar, maka hal ini cukuplah baginya (menjadikannya tenang). Kemudian setiap kali bertambah ilmu dan keimanannya, maka semakin tampak pula baginya hikmah Allah dan rahmat-Nya yang mengagumkan akalnya, serta menjelaskan kepadanya kebenaran apa yang dikabarkan Allah dalam kitab-Nya.” [4]

Bukan menjadi suatu keharusan bagi setiap orang untuk mengetahui detil pembicaraan tentang iman kepada qadar, tetapi keima-nan secara global ini sudah mencukupi. Ahlus Sunnah wal Jama’ah -sebagaimana yang dinyatakan oleh mereka- tidak mewajibkan atas orang yang lemah apa yang diwajibkan atas orang yang mampu.

Alhamdulillaah, selesailah pembahasan kita mengenai dalil-dalil syari’at, fitrah, akal, dan secara inderawi, yang tidak ada kontradiksi di dalamnya dan tidak ada kesamaran.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
__________
Footenotes
[1]. Lihat, Jaami’ur Rasaa-il, Ibnu Taimiyyah, (II/341) dan lihat, Dar’ Ta’aarudhil ‘Aql wan Naql, (VIII/405).
[2]. Lihat, al-Fataawaa, (VIII/64) dan Thariiqul Hijratain, hal. 170.
[3] At-Tuhfah al-Mahdiyyah fii Syarh ar-Risaalah at-Tadmuriyyah, Syaikh Falih bin Mahdi, (II/140) dan lihat, Taqriib at-Tadmuriyyah, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 119.
[4]. Majmuu’ul Fatawaa, (VIII/97).

17 Okt 2012

Berdoa Hanya Kepada Allah Semata

Apa hukum berdoa kepada selain Allah?
Al-Hamdulillah. Allah Subhanahu wa Ta'ala dekat dengan para hamba-Nya. Allah mengetahui kedudukan mereka, mengabulkan permohonan mereka dan tidak ada sedikitpun urusan mereka yang tidak Dia ketahui."Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit." (QS. Ali Imran : 5)
  Hanya Allah semata yang menciptakan kita dan memberi rezeki kepada kita. Di tangan-Nya jua-lah kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Firman Allah:
"Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Maa-idah : 120)

Di tangan Allah-lah segala kebaikan. Apabila Allah memberikan perintah dalam Kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya, harus ditaati dan dituruti. Firman Allah:
"Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." (QS. Al-Anfaal : 24)

Allah yang Maha Kuasa dapat mendengar doa para hamba-Nya di setiap tempat dan waktu dengan pelbagai kebutuhan dan bercorak ragam bahasa mereka. Sebagaimana firman Allah:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186)

Allah telah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dengan suara perlahan, dengan tunduk dan pasrah. Firman Allah:
"Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.." (QS. Al-A'raaf : 55)

Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki segala kekuasaan dan segala pujian. Dan Allah juga menguasai segala sesuatu. Langit dan bumi serta segala yang terdapat di dalamnya bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman Allah:
"Berdo'alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.." (QS. Al-Israa : 44)

Allah telah mengancam orang-orang yang takkabur dan enggan beribadah serta berdoa kepada-Nya dengan Neraka Jahannam. Firman Allah:
"Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk naar Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS. Al-Mukmin : 60)

Berdoa kepada Allah harus dengan cara yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antaranya berdoa kepada Allah dengan menjadikan Asma Allah Al-Husna sebagai perantara.
"Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raaf ; 180)

Misalnya kita ucapkan: "Wahai Ar-Rahman (yang Maha Pengasih) kasihanilah kami; wahai Al-Ghafur (Yang Maha Pengampun) ampunilah kami; wahai Ar-Razzaq (Yang Maha Memberi rezeki, berikan rezeki kepada kami," dan sejenisnya.

Apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, terkadang Allah memberikan apa yang dia mohon, dan terkadang Allah menghindarikan dirinya dari bahaya yang lebih besar daripada permohonan yang dia minta; atau bisa jadi Allah menyimpan pahala doanya itu hingga Hari Akhir nanti. Karena Allah memerintahkan berdoa dan berjanji akan mengabulkannya. Allah berfirman:

"Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu." (QS. Al-Mukmin : 60)

Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya semata, dan memperingatkan kita agar tidak beribadah kepada syetan. Allah berfirman:
"Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu.. Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus." (QS. Yaasin : 60-61)

Berdoa kepada selain Allah untuk memenuhi kebutuhan atau menolak bala atau untuk mencari kesembuhan dari penyakit kesemuanya dapat mengotori akal dan membutakan mata hati. Allah berfirman:
"Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita.." (QS. Al-An'aam : 71)

Sesungguhnya berdoa kepada dzat yang tidak dapat memberikan manfaat dan mudharrat, yang tidak mampu memerintah dan melarang, tidak mampu mendengar dan tidak mampu memperkenankan doa, baik itu dari kalangan para nabi dan rasul, jin atau malaikat, bintang-bintang atau benda langit lainnya, pepohonan dan bebatuan serta orang-orang yang sudah mati, kesemuanya adalah kezhaliman yang besar, merupakan kesesatan dari jalan yang lurus dan perbuatan syirik terhadap Allah yang Maha Agung. Allah berfirman:
"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim". (QS. Yunus : 106)

Juga firman Allah:
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do'anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do'a mereka." (QS. Al-Ahqaaf : 5)

Berdoa kepada selain Allah adalah perbuatan syirik dan merupakan dosa besar, bahkan dosa terbesar. Segala bentuk dosa bisa diampuni oleh Allah bagi siapa yang Allah kehendaki, kecuali dosa syirik. Sebagaimana firman Allah:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisaa : 48)

Pada Hari Kiamat nanti Allah akan mengumpulkan orang-orang musyrik dan setiap orang yang beribadah kepada-Nya, namun para sesembahan tersebut akan berlepas diri dari mereka, bahkan mengingkari penyembahan mereka. Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. ( Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui. (Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji." (QS. Al-Faathir : 13-15)
Dari kitab Ushul Ad-Dienil Islami oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri

Iman dan Taqwa Landasan Mencapai Kesuksesan

Kita diciptakan di dunia ini untuk satu hikmah yang agung dan bukan hanya untuk bersenang-senang dan bermain-main. Tujuan dan hikmah penciptaan ini telah dijelaskan dalam firman Allah ta’ala:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh"
(QS. Adz Dzariyaat:56-58)

Allah ta’ala telah menjelaskan dalam ayat-ayat ini bahwa tujuan asasi dari penciptaan manusia adalah ibadah kepadaNya saja tanpa berbuat syirik.
Sehingga Allah ta’ala pun menjelaskan salahnya dugaan dan keyakinan sekelompok manusia yang belum mengetahui hikmah tersebut dengan menyakini mereka diciptakan tanpa satu tujuan tertentu dalam firmanNya :
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami."(QS. Al Mu’minuun : 115)

Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main saja, namun diciptakan untuk satu hikmah. Allah ta’ala tidak menjadikan manusia hanya untuk makan, minum dan bersenang-senang dengan perhiasan dunia, kemudian tidak dimintai pertanggungjawaban atas semua perilakunya di dunia ini. Tentu saja jawabannya adalah kita semua diciptakan untuk satu hikmah dan tujuan yang agung dan dibebani perintah dan larangan, kewajiban dan pengharaman, untuk kemudian dibalas dengan pahala atas kebaikan dan disiksa atas keburukan (yang dia amalkan) serta (mendapatkan) surga atau neraka.

Adapun orang-orang kafir dan musyrik dan sejenis mereka adalah orang yang berkeyakinan bahwa mereka diciptakan di kehidupan dunia ini seperti di ciptakannya binatang ternak dan agar meninkmati kehidupan ini seperti kehidupan binatang ternak. Keadaan dan pernyataan mereka menyatakan, seperti yang Allah ta’ala ceritakan:
Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa."(Al Jaatsiyah. :24).

Lalu Allah menghukumi mereka dengan firmanNya:
"Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."(QS. Al Jaatsiyah :24)

Allah ta’ala juga mengancam mereka dengan api neraka sebagai tempat kembali mereka dengan sebab keyakinan tersebut, dalam firmanNya:
"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.Dan neraka adalah tempat tinggal mereka."(QS. Muhammad : 12)

Karena mereka tidak beriman kepada kebangkitan dan hari pembalasan dan tidak juga beriman kepada negeri akherat! Sehingga mereka seperti orang-orang kafir dan munafiq yang Allah ta’ala sifatkan dengan firmanNya:
"Mereka tuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)"(QS. Al Baqarah : 18)

Sedangkan orang kafir Allah ta’ala nyatakan:
"Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti."
(QS. Al Baqarah : 171)

Maknanya mereka tidak mau mendengarkan kebenaran, dan seandainya mau mendengarkan pun mereka tidak mau menerimanya. Mereka tidak berbicara dengan kebenaran, seandainyapun mereka berbicara tentu tidak akan dikerjakan dan diamalkan. Bahkan mereka memperturutkan kemauan hawa nafsunya sehingga jadilah mereka seperti kedudukan hewan!.
Kemudian Allah ta’ala membuat permisalan lain dalam firmanNya:
"Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja."(QS. Al Baqarah : 171)

Allah ta’ala jadikan mereka seperti onta dan kambing yang dipanggil penggembalanya, namun hewan-hewan tersebut tidak bisa memahami panggilannya, dan mereka hanyalah mendengar suara dan mengikuti sumbernya. Ini adalah permisalan buruk untuk mereka.
Sepatutnya seorang muslim mengambil pelajaran dan menjauhkan diri dari meniru mereka, itu dengan memiliki pandangan jauh, pendengaran yang dapat mengambil manfaat dan akal yang berfikir tentang hal-hal yang bemanfaat.
Demikianlah, seorang manusia yang ingin sukses harus dapat bersikap profesional dan proporsonal dalam mencapai tujuan tersebut, sebab sesungguhnya tujuan akhir seorang manusia adalah mewujudkan peribadatan kepada Allah ta’ala dengan iman dan taqwa. Oleh karena itu, orang yang paling sukses dan paling mulia di sisi Allah ta’ala adalah yang paling taqwa, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah ta’ala:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal"
(QS. Al Hujuraat:13)

Namun untuk mencapai kemulian tersebut membutuhkan dua hal:

1. I’tishom bihablillah. Hal ini dengan komitmen terhadap syariat Allah ta’ala dan berusaha merealisasikannya dalam semua sisi kehidupan kita. Sehingga dengan ini kita selamat dari kesesatan. Namun hal ini pun tidak cukup tanpa perkara yang berikutnya, yaitu;

2. I’tishom billah. Hal ini diwujudkan dalam tawakkal dan berserah diri serta memohon pertolongan kepada Allah ta’ala dari seluruh rintangan dan halangan dalam mewujudkan yang pertama tersebut. Sehingga dengannya kita selamat dari rintangan mengamalkannya.
Sebab, seorang bila ingin mencapai satu tujuan tertentu, pasti membutuhkan dua hal, pertama, pengetahuan tentang tujuan tersebut dan bagaimana cara mencapainya dan kedua, selamat dari rintangan yang menghalangi terwujudnya tujuan tersebut.

Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan:
Poros kebahagian duniawi dan ukhrowi ada pada I’tishom billahi dan I’tishom bihablillah dan tidak ada kesuksesan kecuali bagi orang yang komitmen dengan dua hal ini. Sedangkan I’tishom bi hablillah melindungi seseorang dari kesesatan dan I’tishom billahi melindungi seseorang dari kehancuran. Sebab orang yang berjalan mencapai (keridhoan) Allah seperti seorang yang berjalan di atas satu jalanan menuju tujuannya. Ia pasti membutuhkan petunjuk jalan dan selamat dalam perjalanan, sehingga tidak mencapai tujuan tersebut kecuali setelah memiliki dua hal ini. Dalil (petunjuk) menjadi penjamin perlindungan dari kesesatan dan menunjukinya kejalan (yang benar) dan persiapan, kekuatan dan senjata menjadi alat keselamatan dari para perampok dan halangan perjalanan. I’tishom bi hablillah memberikan hidayah petunjuk dan mengikuti dalil sedang I’tishom billah memberikan kesiapan, kekuatan dan senjata yang menjadi penyebab keselamatannya di perjalanan.
[Pernyataan beliau diambil dari kitab Bada’i Al Tafasir Al Jaami’ Litafsir imam Ibni Qayyim Al Jauziyah, karya Yasri Al Sayyid Muhammad, terbitan Dar Ibnul Jauzi 1/506-507.>

Oleh karena itu hendaknya kita menekuni bidang kita masing-masing sehingga menjadi ahlinya tanpa meninggalkan upaya mengenal, mengetahui dan mengamalkan ajaran islam yang merupakan satu kewajiban pokok setiap muslim. Agar dapat mencapai tujuan penciptaan tersebut dengan menjadikan keahlian dan kemampuan kita sebagai sarana ibadah dan peningkatan iman dan takwa kita semua.

Tentu saja hal ini menuntut kita untuk dapat mengambil faedah dan pengetahuan tantang syariat sebagai wujud syukur kita atas nikmat yang Allah ta’ala anugerahkan. Semua itu agar mereka mengakui bahwa mereka adalah makhluk yang tunduk dan diatur dan mereka memiliki Rabb yang maha pencipta dan maha mengatur mereka.
Mudah-mudahan bermanfaat

Iman Kepada Qadha dan Qadar

Tanya: Bagaimana kedudukan "kesabaran" dalam Islam?  Terhadap apa saja seorang muslim harus bersabar?
 
Jawab:
Mengimani qadha dan qadar termasuk salah satu rukun iman. Iman seorang muslim hanya dapat sempurna apabila ia mengetahui bahwa segala yang menimpanya tidak akan mungkin meleset. Dan segala yang meleset darinya tidak akan mengenainya. Juga bahwa segala sesuatu itu terjadi dengan takdir dan ketentuan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Firman Allah:
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.." (Al-Qamar : 49)
Kesabaran dalam iman itu ibarat kepada pada tubuh. Kesabaran adalah sifat mulia, hasilnya juga terpuji. Orang-orang yang sabar akan mendapatkan pahala yang tidak terputus. Allah berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar : 10)
Segala musibah dan cobaan yang terjadi di dunia, pada diri, harta, keluarga atau yang lainnya, semua itu sudah diketahui oleh Allah sebelum terjadi dan sudah Allah tuliskan pula dalam Al-lauh Al-Mahfuzh. Firman Allah:
"Tiada sesuatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Luhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.." (Al-Hadid : 22)
segala musibah yang menimpa manusia, maka itu merupakan kebaikan baginya, mungkin ia mengetahui mungkin juga tidak mengetahuinya. Karena Allah hanya menetapkan takdir yang lebih baik bagi orang tersebut. Sebagaimana firman Allah:
"Katakanlah:"Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal". (At-Taubah : 51)
Segala musibah yang terjadi, semuanya dengan ijin Allah. Orang yang beriman kepada Allah akan tahu, bahwa bila Allah menghendaki, musibah itu tak akan terjadi. Akan tetapi Allah menghendakinya, maka musibah itupun terjadi, sebagaimana firman Allah:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu…" (At-Taghaabun : 11)
Segala musibah terjadi dengan ijin Allah. Orang yang beriman kepada Allah, akan diberi petunjuk pada hatinya. Allah itu Maha Pengetahui segala sesuatu. Pahala dari kesabaran adalah Surga. Allah berfirman:
"Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali denga izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (At-Taghaabun : 11)
Apabila seorang hamba sudah menyadari bahwa musibah itu semuanya berasal dari takdir dan ketentuan Allah, maka ia harus bersabar dan berserahdiri. Pahala kesabaran adalah Surga, sebagaimana firman Allah:
"Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) jannah dan (pakaian) sutera.." (Al-Insaan : 12)
Mengajak kepada jalan Allah adalah satu misi yang agung, karena orang yang melakukannya menghadapi banyak cobaan dan rintangan. Oleh sebab itu Allah memerintahkan bersabar dalam mengajak menuju jalan Allah. Firman Allah:
"..Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati.." (Al-Ahqaaf : 35)
Allah telah memberikan bimbingan kepada kaum mukminin apabila mereka terkotak-kotak karena satu persoalan, atau tertimpa satu musibah, hendaknya mereka memanfaatkan kesabaran dan shalat agar Allah menghilangkan kesedihan mereka dan mempercepat datangnya kemenangan mereka. Firman Allah:
"..Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah : 153)
Seorang mukmin wajib bersabar terhadap takdir Allah, bersabar untuk taat kepada Allah dan bersabar untuk menghindari maksiat terhadap Allah. Orang yang bersabar, akan diberikan pahala tanpa batas oleh Allah di Hari Kiamat nanti. Allah berfirman:
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas." (Az-Zumar : 10)
Secara khusus, seorang mukmin mendapatkan pahala dalam keadaan susah dan senang. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh ajaib keadaan seorang mukmin, karena seluruh kondisinya adalah baik baginya. Hal itu hanya berlaku bagi seorang mukmin saja. Apabila ia mendapatkan kesenangan, lalu ia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa musibah, lalu ia bersabar, maka itupun menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim No. 2999)
Allah memberi bimbingan kepada kita apa yang harus kita ucapkan ketika tertimpa musibah. Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang bersabar memiliki kedudukan mulia di sisi Rabb mereka. Firman Allah:
"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, ((yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah : 155-157)
Sumber: Islamqa
Dari buku Ushuliddien Al-Islami tulisan Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri