Di dalam salah satu Surat Edaranya Sayyidina Umar ibn Khattab
(RadiAllahu Anhu) mengirimkan instruksi kepada seluruh administratornya
dan berkata,
“Menurut pendapatku, Sholat (Dijelaskan sebagai
penyembahan atau do’a dalam Islam. Kata prayer (dalam bahasa Inggris)
yang berarti doa itu sendiri, bagaimana pun, juga digunakan untuk
permohonan atau doa dan karenanya dihindarkan di dalam artikel ini)
merupakan hal yang sangat penting akan kewajibanmu. Siapa pun yang
menjaga dengan baik dan mengamankannya berarti mengamankan agamanya dan
siapa pun yang melalaikannya akan melalaikan hal lain bahkan lebih
banyak. Dia kemudian menambahkan instruksi-intruksi tentang waktu Sholat
lima waktu dan pelajaran melawan rasa kantuk sebelum Isha.
(Muwatta Imam Malik, Hadist No. 5)
(Muwatta Imam Malik, Hadist No. 5)
Surat dari pembuat kebijakan luas Maharaja kepada pemerintahan
resminya ini – dapatkah kita sebut sebagai Perintah Eksekutif --
memberikan kita untuk lebih banyak bercermin atas sesuatu. Untuk sholat
yang merupakan hampir keseluruhan perintah dalam Shariah. Kenyatannya
hal ini juga kelalaian atas kewajiban di kehidupan kita saat ini.
Bahkan seorang anak sekolah muslim mengetahui bahwa Sholat adalah
tiang agama. Apa yang Sayyidina Umar (radiAllahu anhu) mengekspresikan
bahwa itu adalah benar pada segala tingkatan dan di segala keadaan, dari
privat sampai publik. Sekali seseorang tidak dapat membangun kehidupan
yang Islami, komunitas Islam, institusi Islam, atau pemerintahan Islam
ketika melalaikan atau memperlemah tiang ini. Ini merupakan penilaian
status luar biasa bahwa tidak seperti kebijakan lainnya perintah untuk
Sholat diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi kepada Nabi Muhammad (SAW)
selama perjalanan yang penuh keajaiban ke Surga atau Mi’raj. Sangat
tepat sekali, untuk Sholat yang merupakan meraj bagi orang-orang yang
beriman.
Pertama memulai sholat dengan berdiri menghadap Ka’bah atau Rumah
Allah, mengisolasikan dirinya dari hubungan keduniawian, dan kemudian
menyapa Allah langsung: “ Ya Allah, Engkau Yang Maha Suci dan (aku
mulai) dengan memuja Engkau. Nama-Mu di Berkati dan Kebesaran-Mu adalah
Yang Maha Tinggi. Dan tidak ada yang lain yang lebih berharga disembah
kecuali Engkau.” Selama sholat orang yang beriman tersebut mengulangi
berdiri, ruku, dan sujud kepada Allah. Setiap tindakan ini membawanya
lebih dekat dan lebih dekat lagi kepada Master dan Penciptanya yang
mengisi dirinya dengan perasaan-perasaan cinta, ketaatan, dan kepatuhan.
Posisi duduk bahkan juga termasuk rekreasii percakapan yang membawa ke
tempat antara Nabi (SAW) dan Allah selama perjalanan ke Surga.
Nabi (SAW): “Seluruh sapaan, berkat, dan tindakan baik adalah untuk Allah.”
Allah: “Kedamaian besertamu wahai Nabi, dan yang dirahmati, dan yang diberkati Allah.”
Allah: “Kedamaian besertamu wahai Nabi, dan yang dirahmati, dan yang diberkati Allah.”
“Kedamaian beserta kita dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada dewa (Tuhan) kecuali Allah.”
“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Kedekatan ini adalah pemberian yang lebih bernilai untuk orang yang
beriman. Ini merupakan sumber dari seluruh kekuatan dalam menjalani
hidup. Ini merupakan sungai yang memandikan dan membersihkannya dari
seluruh dosa dan kontaminasi. Dalam kesulitan hidup, ini merupakan
sumber hiburan dan kekuatan. Ini merupakan kebijakan dari kehidupan
muslim, jadwal harian orang yang beriman yang dibangun dari sholat lima
waktu. Ini merupakan sumber kesenangan dan kebahagiaan, makanan dan
pen-sucian spiritual. Ini merupakan kunci untuk mencapai seluruh
kesuksesan. Merupakan kunci menuju Surga.
Di pihak lain, kelalaian akan sholat adalah kunci ke Neraka. Dalam Al Qur’sn dikatakan, Celakalah wahai orang-orang yang lalai dalam sholat mereka.” Hadist mengatakan: “Sholat berdiri antara manusia dan kekafiran.” Hadits lainnya mengatakan: “Sholat adalah tiang agama. Siapa pun yang merusaknya maka telah merusak agamanya.”
Hadits lainnya menginformasikan kita bahwa sholat adalah hal pertama
yang mana akan dipertanyakan setelah kematian. Seseorang yang
menggagalkan hal ini memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan
sisanya. Kemudian hadits lainnya memperingatkan kita bahwa seseorang
yang melalaikan sholatnya telah berjalan pergi meninggalkan lindungan
Allah. Kita dapat mengerti kekejaman akan kehilangan hanya satu sholat
dalam hadits tersebut yang mengatakan bahwa seperti seseorang yang
kehilangan seluruh keluarganya dan kemakmurannya!
Di dalam kehadiran akan seluruh persuasi dan pelajaran tentang sholat
di dalam Qur’an dan hadits, seseorang kagum bagaimana seorang bijak
yang beriman di dilalaikan dalam hal ini. Kepada orang yang meng-klaim
sebagai seorang yang beriman padahal ia tidak melaksanakan sholat
sebagaimana mestinya lima waktu sehari, kita harus bertanya: Apa penilaianmu?
Lebih dari seorang yang berpikir akan hal tersebut maka akan lebih
baginya untuk menyadari bahwa tidak ada yang lain. Sama sekali tidak
ada.
Seseorang tidak dapat membela bahwa dia tidak mengetahui tentang
kewajibannya atau luar biasa pentingya. Bahkan jika muslim bahkan tidak
pernah membuka Qur’an atau hadits seumur hidupnya, dia tidak dapat
mengetahui akan panggilan untuk sholat yang datang dari setiap masjid di
seluruh dunia dalam lima kali sehari. Dimana selalu mengingatkannya
berulangkali: “Marilah Sholat, Mari Mencapai Kemenangan.”
Distribusi masjid di dunia saat ini adalah seperti suatu panggilan
untuk sholat dapat didengar diseputar waktu yang tidak ada hentinya
dimana selalu bergerak di belahan dunia. Di satu tempat dapat memulai
dengan adzan subuh di Indonesia dan diikuti jeda waktu kemudian di
Malaysia, Bangladesh, India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq, Saudi
Arabia dan Mesir dan lain-lainnya. Pada saat tersebut Adzan Dzuhur sudah
dimulai di Indonesia. 24 (dua puluh empat) jam kemudian saat Muazzin di
Indonesia memperdengarkan kembali untuk Adzan Subuh, Muazzin di Afrika
memperdengarkan adzan untuk Isya. Bagaimana seseorang dapat membela diri
dengan mengabaikan hal ini sebagai panggilan massal dan berkelanjutan
yang universal?
Seseorang tidak dapat membela kewajibannya yang terlalu sulit atas
penggunaan waktu. Ketika kewajiban selebihnya apakah seseorang dalam
keadaah sehat atau sakit, dan apakah hari ini hujan atau
terang-benderang, Shariah membawa menjabarkan panjang lebar untuk
mengakomodasi keadaan ini. Jika kamu tidak dapat berdiri, kamu dapa
melakukannya dengan duduk. Tidak dapat duduk? Kamu dapa melakukannya
dengan tidur. Tidak dapat bergerak? Gunakan apapun sikap yang mungkin.
Dalam perjalanan? Hanya melakukannya dua kali dibanding yang empat kali.
Tidak dapat menemukan arah Kiblat? Gunakan penilaian terbaikmu. Tidak
dapat menggunakan air untuk men-sucikan dirimu untuk persiapan sholat?
Bertayamumlah.
Sebagaimana orang selalu berdalih untuk mencoba melihat hal yang rasional. Apa yang baik tentang sholat jika pikiran orang tersebut berada di tempat lain? Sebenarnya tugas kita adalah untuk mencoba berkonsentrasi bukan untuk mencapai konsentrasi. Kita melakukan pekerjaan kita jika kita mudah membuat upaya Apa yang baik akan sholat jika seseorang masih berbuat dosa, seperti perumpamaan orang yang mencuri dan sholat? Jawaban mudah adalah hidup kita adalah kombinasi dari baik dan buruk. Tujuan kita adalah untuk meningkatkan kebaikan dan mengurangi atau menghapus keburukan. Dan hal ini tidak akan terjadi dengan menempatkan kebaikan dalam masa tunggu sampai kita dapat keluar dari melakukan kejahatan. Hal ini mungkin juga berguna untuk mengingat bahwa pencurian terbesar adalah sholat itu sendiri
0 komentar:
Posting Komentar