About

Assalamu’alaikum Wr. Wb Dengan nama Allah, Tuhan Pengasih dan Penyayang. Segala puji bagi Tuhan Rahmat dan salam untuk Nabi Muhammad Saw. Rasul pilihan. Syukur alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat-Nya, karena hanya dengan rahmat-Nya jualah saya dapat membangun sebuah blog ini, dengan suatu harapan agar kita semua selalu dapat menjalin silaturrahmi dan hubungan baik serta berbagi informasi.Dengan adanya blog ini, kita dapat saling bertegur sapa lewat dunia maya. Blog ini sebagai wahana untuk knowledge sharing dan melengkapi kebutuhan kita semua untuk mencari informasi di dunia maya (internet). Besar harapan adanya flashback, masukan serta kritik membangun dalam rangka pengembangan dan pengayaan content dalam blog kami. Semoga memberi banyak manfaat. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholat. Tampilkan semua postingan

17 Okt 2012

Keutamaan Sholat Berjamaah di Masjid

Masjid merupakan sebuah tempat suci yang tidak asing lagi kedudukannya bagi umat Islam. Masjid selain sebagai pusat ibadah umat Islam, ia pun sebagai lambang kebesaran syiar dakwah Islam. Alhamdulillah, kaum muslimin pun telah terpanggil untuk bahu-membahu membangun masjid-masjid di setiap daerahnya masing-masing. Hampir tidak dijumpai lagi suatu daerah yang mayoritasnya kaum muslimin kosong dari masjid. Bahkan terlihat renovasi bangunan masjid-masjid semakin diperlebar dan diperindah serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas, agar dapat menarik dan membuat nyaman jama’ah. Semoga semua usaha ini menjadi amal ibadah yang barakah karena mengamalkan hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membangun masjid karena mengharap wajah Allah, niscaya Allah akan bangunkan baginya semisalnya di al jannah.” (Al Bukhari no. 450)

Tentunya akan lebih barakah lagi bilamana mampu merealisasikan tujuan dibangunnya masjid. Salah satu fungsi dibangunnya masjid adalah menegakkan shalat berjam’ah di dalamnya. Ternyata, bila kita menengok kondisi masjid-masjid yang ada terlihat shaf (barisan) ma’mum semakin maju alias sepi dari jama’ah. Bahkan ada beberapa masjid yang tidak menegakkan shalat berjama’ah lima waktu secara penuh. Kondisi ini seharusnya menjadikan kita tersentuh untuk bisa berupaya dan ikut serta bertanggung jawab dalam mamakmurkan masjid.
Para pembaca, dalam edisi kali ini akan dimuat pembahasan keutamaan dan kedudukan shalat berjama’ah lima waktu di masjid. Semata-mata sebagai nasehat untuk kita bersama dalam mewujudkan kemakmuran masjid-masjid yang merupakan pusat syiar-syiar Islam dan mewujudkan hamba-hamba Allah subhanahu wata’ala yang benar-benar beriman kepada-Nya.

Memakmurkan Masjid Ciri Khas Orang-Orang Yang Beriman

Ciri khas yang harus dimiliki oleh orang yang beriman adalah tunduk dan patuh memenuhi panggilan-Nya. Ciri khas ini sebagai tanda kebenaran dan kejujuran imannya kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul, bila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang dapat menghidupkan hati kalian…” (Al Anfal: 24)

Allah subhanahu wata’ala telah memanggil kaum mu’minin untuk memakmurkan masjid. Siapa yang memenuhi panggilan Allah subhanahu wata’ala ini, maka Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas kebenaran dan kejujuran iman dia kepada-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (At Taubah: 18)

Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i (bermadzhab Syafi’i) seorang ulama’ besar dan ahli tafsir berkata: “Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.” (Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18)
Sesungguhnya termasuk syi’ar Islam terbesar adalah memakmurkan masjid-masjid dengan menegakkan shalat berjama’ah. Bila masjid itu sepi atau kosong dari menegakkan shalat berjama’ah pertanda mulai rapuh dan melemahnya kebesaran dan kemulian dakwah Islam.

Keutamaan Mengerjakan Shalat Berjama’ah Di Masjid

Berikut ini beberapa keutamaan mendatangi shalat berjama’ah di masjid, diantaranya:
1. Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: الإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ

Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)
2. Mendapat balasan seperti haji
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الحاَجِّ المُحْرِمِ

Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu (secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yang memakai kain ihram.” (HR. Abu Dawud no. 554, dan di hasankan oleh Asy Syaikh Al Albani)
3. Menghapus dosa-dosa dan mengangkat beberapa derajat (Lihat HR. Muslim no. 251)
4. Disediakan baginya Al Jannah (Lihat H.R. Al Bukhari no. 662 dan Muslim no. 669)
5. Mendapat dua puluh lima/dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian (Lihat HR. Al Bukhari no. 645-646)
Demikian artikel pendek ini, semoga bermanfaat

Waktu-waktu Yang Terlarang Untuk Shalat

Waktu-waktu yang terlarang untuk shalat :

 1. Ketika matahari terbit sampai tinggi,
2.Saat matahari di tengah langit, ketika tidak ada bayangan benda di timur dan di barat,

3.Ketika matahari hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam
Dan bolehnya shalat pada waktu-waktu yang dilarang
‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu berkata:

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim no. 1926)
Dalam hadits di atas kita pahami ada tiga waktu yang terlarang bagi kita untuk melaksanakan shalat di waktu tersebut, yaitu:

1. Ketika matahari terbit sampai tinggi
2. Saat matahari di tengah langit, ketika tidak ada bayangan benda di timur dan di barat
3. Ketika matahari hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam
Dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu disebutkan, termasuk waktu yang dilarang untuk shalat adalah setelah shalat subuh sampai matahari tinggi dan setelah shalat ashar sampai matahari tenggelam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ وَلاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغِيْبَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah subuh sampai matahari tinggi dan tidak ada shalat setelah ashar sampai matahari tenggelam.” (HR. Al-Bukhari no. 586 dan Muslim no. 1920)
Adapun sebab dilarangnya shalat di tiga waktu di atas (pada hadits ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu) disebutkan dalam hadits berikut ini:
‘Amr bin ‘Abasah radhiyallahu ‘anhu mengabarkan tentang pertemuannya dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah setelah sebelumnya ia pernah bertemu dengan beliau ketika masih bermukim di Makkah. Saat bertemu di Madinah ini, ‘Amr bertanya kepada beliau tentang shalat maka beliau memberi jawaban:

صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ؛ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُوْرَةٌ، حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ حِيْنَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ. فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُوْدَةٌ مَحْضُورَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ

“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga tombak tidak memiliki bayangan, kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat karena ketika itu neraka Jahannam dinyalakan/dibakar dengan nyala yang sangat. Apabila telah datang bayangan (yang jatuh ke arah timur/saat matahari zawal) shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga engkau mengerjakan shalat ashar (terus boleh mengerjakan shalat sampai selesai shalat ashar, pent.), kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari tenggelam karena matahari tenggelam di antara dua tanduk syaitan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” (HR. Muslim no. 1927)

Al-Imam An Nawawi rahimahullahu berkata, “Umat sepakat tentang dibencinya shalat yang dikerjakan tanpa sebab pada waktu-waktu terlarang tersebut. Mereka juga sepakat bolehnya mengerjakan shalat fardhu yang ditunaikan pada waktu-waktu terlarang tersebut. Adapun untuk shalat nawafil (shalat sunnah) yang dikerjakan karena ada sebab, mereka berbeda pendapat. Seperti shalat tahiyatul masjid, sujud tilawah dan sujud syukur, shalat id, shalat kusuf (gerhana), shalat jenazah dan mengqadha shalat yang luput dikerjakan. Mazhab Asy-Syafi’i dan satu kelompok membolehkan semua itu tanpa ada karahah (kemakruhan). Mazhab Abu Hanifah dan yang lainnya memandang semuanya masuk ke dalam larangan karena keumuman hadits-hadits yang melarang. Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu dan orang-orang yang sependapat dengannya berargumen bahwa telah tsabit (shahih) dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengqadha shalat sunnah yang mengikuti shalat zuhur setelah shalat ashar (1). Ini jelas menunjukkan tentang bolehnya mengqadha shalat sunnah yang luput dikerjakan pada waktunya. Tentunya kebolehan untuk mengerjakan shalat sunnah yang memang pada waktunya lebih utama lagi. Dan mengerjakan shalat faridhah (wajib) yang diqadha karena luput dari waktunya lebih utama lagi. Termasuk dalam kebolehan ini adalah shalat yang dikerjakan karena ada sebab.” (Al-Minhaj, 6/351)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata setelah membawakan ucapan Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu di atas, “Penukilan ijma’ dan kesepakatan oleh Al-Imam Nawawi perlu dikomentari. Karena, selain beliau telah menghikayatkan dari sekelompok salaf tentang bolehnya shalat di waktu-waktu terlarang secara mutlak sementara hadits-hadits yang melarang tersebut mansukh (dihapus hukumnya) –menurut pendapat Dawud dan selainnya dari ahlu zahir, dan ini yang dipastikan oleh Ibnu Hazm rahimahullahu–; ada pula penghikayatan dari kelompok yang lain tentang larangan secara mutlak dalam seluruh shalat. Didapatkan adanya berita yang shahih dari Abu Bakrah dan Ka’b bin Ujrah tentang larangan mengerjakan shalat fardhu pada waktu-waktu terlarang ini. Ulama yang lainnya menghikayatkan adanya ijma’ tentang bolehnya shalat jenazah di waktu-waktu yang makruh. Namun pendapat ini perlu dikomentari dengan penjelasan yang akan datang pada babnya. Ibnu Hazm rahimahullahu dan selainnya ketika menyatakan mansukh-nya hadits yang menyebutkan waktu-waktu terlarang shalat, mereka bersandar dengan hadits:

مَنْ أَدْرَكَ مِنَ الصُّبْحِ رَكْعَةً قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَلْيُصَلِّ إِلَيْهَا أُخْرَى

“Siapa yang mendapati satu rakaat subuh sebelum matahari terbit maka hendaklah ia mengerjakan rakaat yang berikutnya.”
Maka ini menunjukkan bolehnya shalat pada waktu-waktu yang dilarang.
Namun yang lainnya mengatakan, “Pengkhususan (takhshish) lebih utama daripada menganggap adanya naskh. Sehingga pelarangan ini dibawa kepada pemahaman bahwa yang dilarang adalah shalat yang dikerjakan tanpa adanya sebab. Adapun shalat yang memiliki sebab maka dikhususkan dari pelarangan (yakni boleh dilakukan di waktu-waktu terlarang, pent.) dalam rangka menggabungkan di antara dalil-dalil yang ada.” (Fathul Bari, 2/78)

Penulis Taisirul ‘Allam Syarhu ‘Umdatil Ahkam berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang shalat di waktu-waktu terlarang. Jumhur ulama berpandangan dibencinya mengerjakan shalat di waktu tersebut. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang shahih ini dan selainnya. Zahiriyah berpandangan bolehnya shalat di waktu tersebut. Adapun hadits-hadits yang melarang, mereka mengatakannya mansukh. Namun semua hadits yang mereka anggap mansukh, ulama menjadikannya termasuk bab membawa nash yang muthlaq kepada yang muqayyad, atau membangun yang khusus di atas yang umum. Tidak perlu menghukumi mansukh kecuali bila nash-nash tersebut tidak mungkin dikumpulkan/digabungkan. Sementara nash-nash dalam masalah ini mungkin bahkan mudah dikumpulkan.

Kemudian ulama berbeda pendapat lagi, shalat apa sajakah yang dilarang untuk dikerjakan di waktu-waktu tersebut?
Hanafiyyah, Malikiyyah, dan Hanabilah berpandangan yang dilarang adalah seluruh shalat sunnah kecuali dua rakaat thawaf. Mereka berdalil dengan keumuman larangan yang disebutkan dalam hadits-hadits.
Asy-Syafi’iyyah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad, serta pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan sekelompok muridnya, yang dilarang adalah shalat-shalat sunnah yang dikerjakan tanpa sebab. Adapun yang memiliki sebab seperti shalat tahiyatul masjid bagi orang yang masuk masjid, shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu, maka dibolehkan ketika ada sebabnya di waktu apa saja. Dalil mereka dalam hal ini adalah hadits-hadits khusus yang menyebutkan tentang shalat-shalat ini sebagai pengkhususan bagi hadits-hadits yang berisi pelarangan secara umum (2).

Dengan pendapat ini terkumpullah dalil-dalil seluruhnya dan bisa diamalkan seluruh hadits dari dua pihak yang berbeda pendapat.
Kemudian ulama berbeda pendapat lagi, apakah larangan yang ada dimulai pada waktu subuh dari mulai terbitnya fajar kedua atau dimulai dari pengerjaan shalat subuhnya?
Hanafiyyah berpendapat pelarangan dimulai dari waktu terbitnya fajar kedua. Pendapat ini juga masyhur dari mazhab Hanabilah. Mereka berdalil dengan beberapa hadits di antaranya hadits yang diriwayatkan Ashabus Sunan Al-Arba’ah (penulis kitab Sunan yang empat) dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ الْفَجْرِ إِلاَّ سَجْدَتَيْنِ

“Tidak ada shalat setelah fajar kecuali dua sujud (shalat dua rakaat).”
Hadits ini menunjukkan haramnya mengerjakan shalat sunnah setelah terbitnya fajar kecuali dua rakaat qabliyah fajar. Karena yang dimaukan dari penafian (peniadaan dalam hadits di atas dengan lafadz: “Tidak ada shalat….”-pent.) adalah pelarangan. Mayoritas ulama berpendapat larangan dimulai dari selesai pelaksanaan shalat fajar (yakni tidak ada shalat sunnah yang dikerjakan setelah mengerjakan shalat fajar/subuh, pent.) bukan dimulai dari terbitnya fajar. Mereka berdalil dengan beberapa hadits di antaranya hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah shalat fajar sampai matahari terbit.”
Juga hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ صَلاَةَ بَعْدَ صَلاَةِ الصُّبْحِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ

“Tidak ada shalat setelah shalat fajar sampai matahari terbit.”
Juga hadits-hadits selainnya yang banyak lagi shahih.
Adapun hadits yang dijadikan dalil oleh kelompok pertama, ada maqal (masih diperbincangkan). Tidak bisa dihadapkan dengan semisal hadits-hadits ini.” (Taisirul ‘Allam, 1/129)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
________________________________________________________________________
(1) Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata:

صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَعْدَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ وَقَالَ: شَغَلَنِي نَاسٌ مِنْ عَبْدِ الْقَيْسِ عَنْ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dua rakaat setelah ashar dan mengatakan, ‘Orang-orang dari Abdul Qais menyibukkan aku dari mengerjakan shalat sunnah dua raka’at setelah zuhur’.” (HR. Al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, kitab Mawaqitush Shalah, bab Ma Yushalla ba’dal ‘Ashri minal Fawait wa Nahwiha)
(2) Pendapat inilah yang rajih menurut penulis. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Tahajjud

Tahajjjud (Arabic: تهجد), yang juga disebut sebagai “sholat malam” merupakan suatu sholat sunnah, yang dilakukan oleh pemeluk Islam. Sholat ini bukan merupakan sholat wajib lima waktu yang diharuskan bagi seluruh umat Muslim, walau begitu, nabi Islam, Muhammad S.A.W. diriwayatkan melakukan sholat ini di banyak waktu dan mendorong para sahabatnya untuk melakukannya untuk meraih banyak pahala dan keuntungan.
Bukti-bukti di dalam Al Qur’an akan sholat Tahajjud
Di dalam buku terkenalnya, Fiqh As-Sunnah, Sheikh Sayyid Sabiq memaparkan subyek Tahajjud sebagai berikut:
"Memerintahkan Rasul-Nya untuk melakukan sholat Tahajjud, Allah S.W.T. berfirman yang artinya:
* {Dan pada sebagian malam, lakukanlah sholat Tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.}* (Al-Israa’ 17:79)
Perintah ini, walau pun ditujukan khusus kepada Muhammad (S.A.W), juga dimaksudkan kepada seluruh umat Muslim, dimana Mohammad (S.A.W) merupakan contoh sempurna dan panduan bagi seluruh umat di dalam segala hal.
Terlebih lagi, melakukan sholat Tahajjud terus-menerus akan mendorong seseorang dalam kebenaran dan menolong seseorang memperoleh karunia dan rahmat Allah S.W.T. Dalam memuji mereka yang melakukan sholat di tengah malam tersebut, Muhammad(S.A.W) mengatakan yang artinya:
* {Dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri}* (Al-Furqan 25:64)
Bukit-bukti di dalam Hadist
Disamping ayat-ayat Al Qur’an tersebut, terdapat juga beberapa hadist (yang diriwayatkan dan dikonfirmasikan secara tradisi dari Mohammad (S.A.W) yang memperkuat akan pentingnya Tahajjud.
Etiket dalam Sholat
Tindakan-tindakan berikut direkomendasikan bagi mereka yang hendak melakukan Sholat Tahajjud:  Setelah pergi tidur,  seseorang harus memiliki niat untuk melakukan Sholat.  Abu Ad-Darda' mengutip Muhammad(S.A.W) yang mengatakan:
“Siapapun yang pergi tidur dengan berkeinginan bangun dan melaksanakan sholat di waktu malam. tetapi, menjadi terlelap dalam tidurnya, gagal melakukan sholat, dia akan dicatat sebagaimana kehendaknya, dan tidurnya akan dihitung sebagai amal (tindakan yang dirahmati)) baginya dari Tuhan-nya.” (An-Nasa'i dan Ibn Majah)
Di waktu bangun, direkomendasikan bagi seseorang untuk membasuh mukanya, menggosok gigi, dan melihat ke langit dan berdoa sebagaimana yang dilaporkan dari Mohammad (S.A.W)
Abu Hudhaifa melaporkan:
"Kapan pun Nabi hendak pergi tidur, beliau akan membaca: (Dengan Nama-Mu, Ya Allah, Aku meninggal dan Aku hidup)." Dan ketika beliau bangun dari tidurnya, beliau akan berkata: (Segala puji adalah bagi Allah yang membuat kami hidup setelah Dia membuat kami mati (tidur) dan kepada-Nya-lah kami dibangkitkan)" (Al-Bukhari)
Seseorang harus memulai dengan dua raka’at pendek dan kemudian dapat berdoa apa pun yang dia harapkan setelahnya. `A’ishah mengatakan:
“Ketika Nabi melaksanakan sholat di waktu tengah malam, beliau akan memulainya dengan dua raka’at pendek.” (Muslim)
Direkomendasikan bagi seseorang untuk membangunkan anggota keluarganya, dimana Abu Hurairah melaporkan bahwa Mohammad (S.A.W) mengatakan:
“Semoga Allah memberkahi seseorang yang bangun di malam hari untuk sholat dan membangunkan istrinya dan siapa pun, jika dia menolak untuk bangun, cipratkan air pada mukanya. Dan semoga Allah memberkahi para wanita yang bangun di malam hari untuk sholat dan membangunkan suaminya dan, jika dia menolaknya, cipratkan air ke wajahnya.” (Ahmad)
Waktu yang direkomendasikan untuk Tahajjud
Tahajjud boleh dilaksanakan di awal sebagian malam, pertengahan sebagian malam, atau di akhir sebagian malam, tetapi diharuskan setelah Sholat Isya’ (sholat malam).
Dalam meng-komentari hal ini, Ibn Hajar mengatakan:
“Tidak ada waktu tertentu dimana Nabi (kedamaian dan keberkahan baginya) akan melaksanakan sholat tengah malamnya, tetapi dia selalu melaksanakan apa pun yang termudah baginya.”
Waktu Terbaik untuk Tahajjud
Adalah terbaik untuk menunda Sholat ini untuk sepertiga malam terkahir. Abu Hurairah mengutip Mohammad(S.A.W) yang mengatakan:
“Tuhan kita turun ke langit terendah selama sepertiga malam terakhir, dan bertanya: ‘Siapa yang akan memanggil-Ku sehingga Aku dapat menjawabnya? Siapa yang akan meminta sesuatu kepada-Ku sehingga Aku dapat memberikan padanya? Siapa yang meminta ampun kepada-Ku sehingga aku dapat mengampuninya?’” (Al-Bukhari)
`Amr ibn `Absah meng-klaim bahwa dia mendengar Mohammad (S.A.W) berkata:
“Yang terdekat bagi seorang hamba datang kepada Tuhan-nya adalah selama tengah malam sebagian malam terakhir. Jika kamu termasuk mereka yang mengingat Allah Yang Maha Esa pada saat tersebut, maka lakukanlah..” (At-Tirmidhi)
Jumlah Raka’at dalam Tahajjud
Sholat Tahajjud tidak disebutkan jumlah raka’at tertentu yang harus dilaksanakan, juga tidak ada batas maksimum yang diperbolehkan dilaksanakan. Sholat ini akan terpenuhi walau jika seseorang hanya melakukan sholat witir satu raka’at setelah sholat Isya’.

Shalat Malam (Tahajjud), Apakah Harus Tidur Dahulu?

Hukum sholat malam adalah sunah muakkad, yaitu mendekati wajib tetapi tidak wajib. Dengan kata lain, shalat malam sangat dianjurkan, itulah sebabnya  para orang saleh terdahulu menjadikan shalat malam sebagai kebiasaan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah subhana wa ta'ala'
”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.” (QS. Al Israa ” 79)

Waktu shalat malam adalah setelah sholat ‘isya sampai dengan sebelum waktu sholat shubuh. Dengan demikian, semua shalat yang dilakukan setelah 'isya (di luar shalat sunat rawatib 2 raka'at setelah 'isya) sampai masuknya waktu shubuh, disebut dengan shalat malam.

Lalu, bagaimana dengan tahajjud? Apakah bedanya dengan shalat malam?
Ibnu Faris berkata, “Adapun orang yang ber-tahajud (اَلْمُتَهَجِّدُ) adalah orang yang salat di waktu malam.” (Lihat Fathul Bari, 3:5, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Cet. 1, Thn. 1419 H/1998 M)
Dari terjemahan tersebut, diketahui bahwa shalat malam dan tahajjud adalah hal yang sama. Hanya beda istilah saja.
Banyak orang yang beranggapan bahwa untuk tahajjud, kita harus tidur terlebih dahulu. Anggapan ini kurang tepat karena tidur bukanlah 'keharusan' atau 'syarat sah'nya tahajjud.

Rasulullah salallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Apabila kamu mengantuk ketika shalat, maka tidurlah terlebih dahulu sampai hilang rasa kantukmu. Karena bila kamu mengantuk dalam shalat, mungkin suatu ketika kamu bermaksud memohon ampunan kepada ALLAH, tetapi ternyata kamu justru memaki-maki diri kamu sendiri."

[HR. Bukhari 205, Muslim 1309]
Tidur terlebih dahulu adalah anjuran, bukan keharusan, karena waktu utama tahajjud adalah 1/3 terakhir malam agar kita tidak mengantuk dan kepayahan. Namun, semampu kita, tidur ataupun tidak tidur terlebih dahulu, shalat malam adalah ibadah yang sangat direkomendasikan karena banyak sekali keutamaannya.

Semoga Allah memudahkan kita mengamalkannya

Sholat : Suatu Tangisan Jiwa Yang Terdalam

Kesombongan dan kebanggaan sering menjadikan seseorang tersebut berlaku sebagai penindas dan tiran. Beberapa orang yang telah membawa pergi kepentingan diri sendiri meng-klaim mereka atas keilahian. Fir'aun, pemberi kebijakan Mesir, merupakan salah satu dari mereka yang menyebutkan:

"Saya adalah Tuhan tertinggi kalian."
Dengan rasa kebesaran dan kebanggaannya, Fir'aun menundukkan orang-orang Israel dan membuat hidup mereka berantakan dan penuh kekacauan.
Tetapi apakah orang-orang ini benar-benar kuat dan besar seperti ego yang dikatakanya? Al Qur'an menceritakan pada kita realitas alami manusia.
"Allah-lah yang Menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia Menciptakan apa yang Dia Kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa."(QS. Ar-Rum 30:54)

Kelemahan di awal dan kelemahan di akhir. Ini adalah esensi dari manusia. Manusia sangat lemah dan butuh pertolongan pada saat dilahirkan, dimana keseluruhan keberadaannya tergantung pada orang tua dan keluarganya. Jika dia diabaikan dalam tahun-tahun krusial pertama, dia tidak akan dapat bertahan hidup dengan sendirinya. Dia membutuhkan tangan yang melindungi dan penuh kasih, bukan hanya saat bayi, tetapi juga masa kecilnya, dan bahkan saat tahun-tahun remaja.

Di saat anak ini menginjak tahun-tahun remaja dan kemandiriannya, dia mulai mengambil alih kendali atas hidupnya sendiri. Dia melihat dengan kebanggaan tersendiri akan kuatnya fisik, keelokan rupanya dan bakat-bakat lainnya. Dia mulai menghina kemampuan-kemampuan yang lebih kurang darinya, bahkan mencibir orangtuanya yang mengorbankan kesehatan diri mereka sendiri demi dia. Dia menjadi tidak adil dan kejam, menggunakan kekuatannya dan semangatnya untuk mendominasi yang lainnya.

Dia berpikir dia adalah master, bebas beraksi sesukanya, tetapi apakah remaja ini, keelokan rupa dan kekuatannya akan berlangsung selamanya? Hanya dalam beberapa dekade dia akan mulai kehilangan kekuatannya, kesehatannya akan mulai menurun, rambut mulai memutih dan lambat laun, keremajaannya berubah menjadi tua. Transformasi dari masa muda ke masa tua ini berjalan lambat, tetapi akan tetap ada. Di tahap kedua adalah makin jauhnya, kurangnya rahmat, dan mengubah setiap orang muda menjadi lebih tua. Seorang Diktator Muda satu saat akan menjadi lemah dan tak berdaya seperti saat dia dilahirkan. Tetapi saat tersebut tidak akan ada lagi orang tua yang akan mengasuhnya, jika, seperti yang sering terjadi, dia akan ditolak oleh keluarganya sendiri, masa depannya akan menjadi seorang yang kesepian di dalam rumah yang ditinggali beberapa orang.

"Kelemahan di awal, kelemahan di akhir."
Pesan ini sangat jelas: Master sesungguhnya adalah Allah. Hanya Dia-lah yang Maha Esa. Hanya Dia-lah yang Maha Besar.

Allah u Akbar - Allah Maha Besar.
Melalui pesan yang jelas dalam benaknya ini, seseorang menyadari bahwa dia harus memperlihatkan kerendahan hati-nya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang menciptakannya. Dan cara apa yang lebih baik untuk memperlihatkan kerendahan hati seseorang dibanding berdiri seperti seorang hamba-Nya untuk ruku' dan sujud kepada-Nya, untuk mengangkat tangannya berdoa memohon kepada-Nya.

Sholat bukanlah suatu hal yang memaksa seseorang, tetapi lebih kepada tangisan setiap lubuk hati terdalam yang mengenal Penciptanya. Memang benar tetapi ini suatu bukti kecil atas rasa terima kasih untuk seluruh karunia terbaik yang tak terhingga yang diberikan kepada umat manusia oleh Sang Pencipta.

Di setiap hari kehidupan kita, kita tersenyum dan mengucapkan terima kasih untuk sebuah kebaikan kecil yang orang lain perbuat pada kita, lalu bagaimana dengan berterima kasih kepada Allah. Yang dengan Rahmat-Nya yang tak terbatas, menyediakan setiap kebutuhan kita. Lihatlah keindahan dan kesempurnaan bumi di sekitarnya dan bersungkurlah untuk berterima kasih pada-Nya

Apa Yang Baik adalah Sholat

Di dalam salah satu Surat Edaranya Sayyidina Umar ibn Khattab (RadiAllahu Anhu) mengirimkan instruksi kepada seluruh administratornya dan berkata,
“Menurut pendapatku, Sholat (Dijelaskan sebagai penyembahan atau do’a dalam Islam. Kata prayer (dalam bahasa Inggris) yang berarti doa itu sendiri, bagaimana pun, juga digunakan untuk permohonan atau doa dan karenanya dihindarkan di dalam artikel ini) merupakan hal yang sangat penting akan kewajibanmu. Siapa pun yang menjaga dengan baik dan mengamankannya berarti mengamankan agamanya dan siapa pun yang melalaikannya akan melalaikan hal lain bahkan lebih banyak. Dia kemudian menambahkan instruksi-intruksi tentang waktu Sholat lima waktu dan pelajaran melawan rasa kantuk sebelum Isha.
(Muwatta Imam Malik, Hadist No. 5)

Surat dari pembuat kebijakan luas Maharaja kepada pemerintahan resminya ini – dapatkah kita sebut sebagai Perintah Eksekutif -- memberikan kita untuk lebih banyak bercermin atas sesuatu. Untuk sholat yang merupakan hampir keseluruhan perintah dalam Shariah. Kenyatannya hal ini juga kelalaian atas kewajiban di kehidupan kita saat ini.

Bahkan seorang anak sekolah muslim mengetahui bahwa Sholat adalah tiang agama. Apa yang Sayyidina Umar (radiAllahu anhu) mengekspresikan bahwa itu adalah benar pada segala tingkatan dan di segala keadaan, dari privat sampai publik. Sekali seseorang tidak dapat membangun kehidupan yang Islami, komunitas Islam, institusi Islam, atau pemerintahan Islam ketika melalaikan atau memperlemah tiang ini. Ini merupakan penilaian status luar biasa bahwa tidak seperti kebijakan lainnya perintah untuk Sholat diberikan oleh Allah Yang Maha Tinggi kepada Nabi Muhammad (SAW) selama perjalanan yang penuh keajaiban ke Surga atau Mi’raj. Sangat tepat sekali, untuk Sholat yang merupakan meraj bagi orang-orang yang beriman.

Pertama memulai sholat dengan berdiri menghadap Ka’bah atau Rumah Allah, mengisolasikan dirinya dari hubungan keduniawian, dan kemudian menyapa Allah langsung: “ Ya Allah, Engkau Yang Maha Suci dan (aku mulai) dengan memuja Engkau. Nama-Mu di Berkati dan Kebesaran-Mu adalah Yang Maha Tinggi. Dan tidak ada yang lain yang lebih berharga disembah kecuali Engkau.” Selama sholat orang yang beriman tersebut mengulangi berdiri, ruku, dan sujud kepada Allah.  Setiap tindakan ini membawanya lebih dekat dan lebih dekat lagi kepada Master dan Penciptanya yang mengisi dirinya dengan perasaan-perasaan cinta, ketaatan, dan kepatuhan. Posisi duduk bahkan juga termasuk rekreasii percakapan yang membawa ke tempat antara Nabi (SAW) dan Allah selama perjalanan ke Surga.

Nabi (SAW): “Seluruh sapaan, berkat, dan tindakan baik adalah untuk Allah.”
Allah: “Kedamaian besertamu wahai Nabi, dan yang dirahmati, dan yang diberkati Allah.”
“Kedamaian beserta kita dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada dewa (Tuhan) kecuali Allah.”
“Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Kedekatan ini adalah pemberian yang lebih bernilai untuk orang yang beriman. Ini merupakan sumber dari seluruh kekuatan dalam menjalani hidup. Ini merupakan sungai yang memandikan dan membersihkannya dari seluruh dosa dan kontaminasi. Dalam kesulitan hidup, ini merupakan sumber hiburan dan kekuatan. Ini merupakan kebijakan dari kehidupan muslim, jadwal harian orang yang beriman yang dibangun dari sholat lima waktu. Ini merupakan sumber kesenangan dan kebahagiaan, makanan dan pen-sucian spiritual. Ini merupakan kunci untuk mencapai seluruh kesuksesan. Merupakan kunci menuju Surga.

Di pihak lain, kelalaian akan sholat adalah kunci ke Neraka. Dalam Al Qur’sn dikatakan, Celakalah wahai orang-orang yang lalai dalam sholat mereka.” Hadist mengatakan: “Sholat berdiri antara manusia dan kekafiran.” Hadits lainnya mengatakan: “Sholat adalah tiang agama.  Siapa pun yang merusaknya maka telah merusak agamanya.” Hadits lainnya menginformasikan kita bahwa sholat adalah hal pertama yang mana akan dipertanyakan setelah kematian. Seseorang yang menggagalkan hal ini memiliki sedikit kesempatan untuk mendapatkan sisanya. Kemudian hadits lainnya memperingatkan kita bahwa seseorang yang melalaikan sholatnya telah berjalan pergi meninggalkan lindungan Allah. Kita dapat mengerti kekejaman akan kehilangan hanya satu sholat dalam hadits tersebut yang mengatakan bahwa seperti seseorang yang kehilangan seluruh keluarganya dan kemakmurannya!

Di dalam kehadiran akan seluruh persuasi dan pelajaran tentang sholat di dalam Qur’an dan hadits, seseorang kagum bagaimana seorang bijak yang beriman di dilalaikan dalam hal ini. Kepada orang yang meng-klaim sebagai seorang yang beriman padahal ia tidak melaksanakan sholat sebagaimana mestinya lima waktu sehari, kita harus bertanya: Apa penilaianmu? Lebih dari seorang yang berpikir akan hal tersebut maka akan lebih baginya untuk menyadari bahwa tidak ada yang lain. Sama sekali tidak ada.

Seseorang tidak dapat membela bahwa dia tidak mengetahui tentang kewajibannya atau luar biasa pentingya. Bahkan jika muslim bahkan tidak pernah membuka Qur’an atau hadits seumur hidupnya, dia tidak dapat mengetahui akan panggilan untuk sholat yang datang dari setiap masjid di seluruh dunia dalam lima kali sehari. Dimana selalu mengingatkannya berulangkali: “Marilah Sholat, Mari Mencapai Kemenangan.”

Distribusi masjid di dunia saat ini adalah seperti suatu panggilan untuk sholat dapat didengar diseputar waktu yang tidak ada hentinya dimana selalu bergerak di belahan dunia. Di satu tempat dapat memulai dengan adzan subuh di Indonesia dan diikuti jeda waktu kemudian di Malaysia, Bangladesh, India, Pakistan, Afghanistan, Iran, Iraq, Saudi Arabia dan Mesir dan lain-lainnya. Pada saat tersebut Adzan Dzuhur sudah dimulai di Indonesia. 24 (dua puluh empat) jam kemudian saat Muazzin di Indonesia memperdengarkan kembali untuk Adzan Subuh, Muazzin di Afrika memperdengarkan adzan untuk Isya. Bagaimana seseorang dapat membela diri dengan mengabaikan hal ini sebagai panggilan massal dan berkelanjutan yang universal?

Seseorang tidak dapat membela kewajibannya yang terlalu sulit atas penggunaan waktu. Ketika kewajiban selebihnya apakah seseorang dalam keadaah sehat atau sakit, dan apakah hari ini hujan atau terang-benderang, Shariah membawa menjabarkan panjang lebar untuk mengakomodasi keadaan ini. Jika kamu tidak dapat berdiri, kamu dapa melakukannya dengan duduk. Tidak dapat duduk? Kamu dapa melakukannya dengan tidur. Tidak dapat bergerak? Gunakan apapun sikap yang mungkin. Dalam perjalanan? Hanya melakukannya dua kali dibanding yang empat kali. Tidak dapat menemukan arah Kiblat? Gunakan penilaian terbaikmu. Tidak dapat menggunakan air untuk men-sucikan dirimu untuk persiapan sholat? Bertayamumlah.

Sebagaimana orang selalu berdalih untuk mencoba melihat hal yang rasional. Apa yang baik tentang sholat jika pikiran orang tersebut berada di tempat lain? Sebenarnya tugas kita adalah untuk mencoba berkonsentrasi bukan untuk mencapai konsentrasi. Kita melakukan pekerjaan kita jika kita mudah membuat upaya Apa yang baik akan sholat jika seseorang masih berbuat dosa, seperti perumpamaan orang yang mencuri dan sholat? Jawaban mudah adalah hidup kita adalah kombinasi dari baik dan buruk. Tujuan kita adalah untuk meningkatkan kebaikan dan mengurangi atau menghapus keburukan. Dan hal ini tidak akan terjadi dengan menempatkan kebaikan dalam masa tunggu sampai kita dapat keluar dari melakukan kejahatan. Hal ini mungkin juga berguna untuk mengingat bahwa pencurian terbesar adalah sholat itu sendiri

Mengapa Manusia Perlu Sholat?

Setelah seharian yang panjang dan sibuk dalam bekerja, seberapa sulit bagi seseorang yang sudah lelah bahkan untuk berdiri di atas sajadah sholat dan berkonsentrasi pada sholatnya untuk Allah S.W.T?

Berselimut dalam tempat tidur yang hangat dan nyaman, seberapa sulit untuk bangun ketika mendengar panggilan mu'azin: "Marilah sholat, mari mencapai kesuksesan."

Dokter dan filsuf ternama Ibnu Sina (Avicenna) mengingat kembali akan satu moment di dalam hidupnya. Di satu malam yang dingin dan sedingin es, dia dan budaknya sedang beristirahat di suatu penginapan di bagian wilayah Khurasan. Pada malam tersebut dia merasa kehausan dan berteriak kepada budaknya untuk mengambilkan dia air. Budaknya tidak memiliki semangat untuk beranjak dari tempat tidurnya yang hangat, sehingga dia berpura-pura tidak mendengar panggilan Ibnu Sina. Tetapi, akhirnya, setelah mendengar panggilan lagi, dia bergegas berdiri dan mengambilkan air.  Selang beberapa saat kemudian, suara melodi azan terdengar di udara.

Ibnu Sina mulai berpikir akan orang ini, yang memanggil orang-orang beriman untuk sholat. Budakku Abdullah, dia terinspirasi, selalu menghormati, dan mengagumiku. Dia mengambil beberapa kesempatan untuk memuji dan mengasihiku, tetapi malam ini, dia lebih memilih kenyamanan dirinya sendiri dibandingkan memenuhi kebutuhanku. Di lain pihak, lihat budak Persia Allah ini. Dia meninggalkan kehangatan tempat tidurnya untuk pergi di tengah malam yang sangat dingin. Dia berwudhu dengan air yang sedingin es, dan dia naik ke tempat tertinggi di mesjid untuk mengagungkan Allah kepada siapa dia melayani.

"Aku bersaksi tiada yang patut disembah kecuali Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
Malam ini, Ibnu Sina mencatat, aku mempelajari esensi dari cinta sejati;  yaitu cinta yang menghasilkan kepatuhan yang lengkap. Cinta kepada Allah harus total dan kepatuhan tanpa syarat.

Allah S.W.T. berfirman:
"Katakanlah (wahai Muhammad S.A.W. kepada manusia): "Jika kamu (sungguh) mencintai Allah maka ikutilah aku (yaitu: menerima Islam agama Tunggal, mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah), niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. 3:31)

Agar Khusyu’ dalam Sholat

Apa itu Khusyu?
Khusyu' selama sholat sering disalahartikan oleh sebagian besar orang dengan cara menangis dan meratap. Lebih dari itu, merupakan persiapan hati selama menjalankan ibadah. Ketika hati seseorang dipenuhi dengan apa yang dikatakan dan didengarnya, maka dia akan berada dalam keadaan khusyu'.
Konsep khusyu dalam sholat adalah sangat penting:
1. Merupakan faktor penting di dalam membuat seseorang sukses di dalam hidupnya saat ini dan kemudian.
Bagaimanapun, orang-orang yang beriman, yang dapat khusyu' dalam sholatnya, adalah pemenang.
2. Merupakan suatu faktor kontribusi dalam menerima sholat.
3. Merupakan cara-cara untuk mendapatkan pahala lebih dari Allah S.W.T, semakin seseorang khusyu' dalam sholat, semakin besar pahala yang akan didapat.
4. Tanpa khusyu, hati kita tidak dapat dengan mudah dibersihkan.

Cara-cara agar dapat Khusyu':

A. Sebelum Sholat
1. Seorang muslim harus mengetahui Tuhan-nya dengan sangat. Mengetahui kepada siapa dia menyembah akan membuatnya menjadi penyembah yang lebih baik. Memiliki pengetahuan yang jelas dan otentik tentang Allah akan meningkatkan Cinta-Nya di hati kita. Sebagai konsekuensi, keimanan kita akan bertambah.
2. Hindari melakukan dosa-dosa besar dan kecil akan sangat membantu agar khusyu, karena hati akan menjadi lebih mendalami firman-firman Allah selama dan setelah Sholat.
3. Membaca Al-Qur'an lebih sering dan konsisten akan melembutkan hati dan mempersiapkan agar khusyu'. Hati yang keras tidak akan dapat khusyu'.
4. Perkecil keterkaitan akan masalah-masalah dunia. Mengingat Hari Kemudian akan membantu melawan keterkaitan dengan hidup.
5. Hindari tertawa berlebihan dan argumentasi yang tidak berguna karena hal-hal tersebut akan memperkeras hati dan menjadikan kurang keinginan belajar.
6. Berhentilah bekerja begitu kamu mendengar azan. Ketika kamu mendengar panggilan untuk sholat, ulangi perkataan Mu'azin dan kemudian berdo'alah. Hal ini akan mempersiapkan diri anda untuk transisi dari bisnis (urusan) dunia dengan urusan sholat.
7. Berwudhulah seketika mendengar azan, yang akan membuat anda tidak menunda sholat. Wudhu juga dapat menjadikan kita berada di zona penyangga sebelum melaksanakan sholat.
8. Pergi ke masjid lebih cepat untuk melakukan sholat dan dilanjutkan dengan menyebut Allah akan menjadikan setan pergi dan membantu kita agar konsentrasi.
9. Waktu tunggu untuk sholat akan membantu kita berada di zona penyangga antara pikiran sebelum dan selama menjalankan sholat.

B. Selama Sholat
1. Iqomah itu sendiri merupakan tanda bagi kita untuk mempersiapkan agar lebih baik dalam melaksanakan sholat. Ingatlah saat Rasulullah berkata pada Bilal (r.a.), "Mari kita nikmati akan kenyamanan dalam sholat."
2. Ketika anda berdiri menghadap Kiblat ingatlah hal-hal berikut:
a. Mungkin itu merupakan sholat terakhir anda dalam hidup. Tidak ada garansi untuk hidup lebih lama untuk melaksanakan sholat berikutnya.
b. Anda berdiri diantara tangan Allah, Tuhan dunia. Bagaimana anda masih disibukkan dengan hal lainnya?
c. Malaikat kematian sedang mengejar anda.
3. Jangan lupa melakukan Isti'azah. Hal tersebut akan menghindarkan anda dari bisikan-bisikan setan.
4. Fokuskan mata anda pada tempat sujud. Hal ini akan membantu anda untuk lebih berkonsentrasi.
5. Ketika membaca Al-Fatihah, cobalah untuk mendengar respon dari Allah kepada anda setelah membaca setiap ayatnya. (ketika anda mengucapkan, "Alhamdulillahi Rabbil 'alamin) Allah akan merespon: "Hamba-Ku memuji-Ku." dan lain-sebagainya. Perasaan berbicara kepada Allah ini akan meletakkanmu pada mood (suasana hati) yang baik akan khusyu'.
6. Memperindah bacaan Al-Qur'an akan berdampak positif pada hati anda.
7. Bacalah Al-Qur'an dengan perlahan dan usahakan untuk memahami artinya secara mendalam.
8. Direkomendasikan untuk mengganti Surah-surah yang anda baca dari waktu ke waktu untuk mengindari seperti mesin dalam membacanya.
9. Alternatif antara sunah otentik yang beragam seperti membaca do'a-do'a pembuka yang berbeda di setiap sholat.
10. Tidak diragukan lagi, memahami Bahasa Arab akan membantu anda fokus dalam memahami artinya.
11. Berinteraksilah dengan setiap ayat yang dibaca:
a. Jika anda mendengar ayat tentang Allah, besarkanlah nama-Nya dengan perkataan "Subhana Allah"
b. Jika anda mendengar ayat tentang neraka, katakanlah "A'uuthu billahi mina-n-naar".
c. Jika anda mendengar perintah untuk beristigfar, maka beristighfarlah.
d. Jika anda mendengar ayat yang memerintahkan untuk bertasbih, maka bertasbihlah.
12. Interaksi-interaksi ini akan sangat membantu anda untuk tetap fokus.
13. Saat anda bersujud, ingatlah bahwa posisi ini akan membawa anda lebih dekat kepada Allah. Gunakan kesempatan tersebut untuk berdo'a. Investasikan saat-saat tersebut untuk membaca do'a.

C. Setelah Sholat
e. Saat melakukan tasliim, beristighfarlah kepada Allah seperti saat anda melakukannya selama sholat.
f. Saat anda memuji Allah, berterimakasihlah pada-Nya dari lubuk hati anda bahwa anda mengalami pengalaman akan sholat yang indah di dalam hati anda.
Membiasakan hal ini akan membuat anda lebih siap dalam melakukan sholat berikutnya, karena anda akan selalu ingin fokus dalam sholat.
g. Satu kesempurnaan akan membawa pada kesempurnaan yang lain. Jika sekali seseorang melaksanakan sholat dengan sempurna, maka kemudian dia akan menjadikan dirinya termotivasi untuk melanjutkannya dalam level yang sama.
Semoga Allah mengisi hati kita dengan Khusyu'. Amin.
Beranilah
Bersiaplah untuk berjuang
Bertahanlah
Yakinlah bahwa Islam akan memperoleh Kemenangan.
Takutlah pada Allah dimanapun anda berada di segala waktu dan segala tempat.
Berdirilah untuk Islam bagaimanapun orang suka atau tidak suka.
Dedikasikan diri anda untuk mengubah dunia. Pergilah untuk melawan butiran-butiran (kesewenang-wenangan)
Dunia membutuhkan anda. Anda adalah komunitas terbaik bagi pertumbuhan umat manusia