Asbabunnuzul adalah sebuah ilmu yang menerangkan tentang
latar belakang turunnya suatu ayat. Atau bisa juga keterangan yang
menjelaskan tentang keadaan atau kejadian pada saat suatu ayat
diturunkan, meski tidak ada kaitan langsung dengan turunnya ayat. Tetapi
ada konsideran dan benang merah antara keduanya.
Seringkali peristiwa yang terkait dengan turunnya suatu ayat bukan
hanya satu, bisa saja ada beberapa peristiwa sekaligus yang menyertai
turunnya suatu ayat. Atau bisa juga ada ayat-ayat tertentu yang turun
beberapa kali, dengan motivasi kejadian yang berbeda.
Tentu saja ilmu asbabun-nuzul ini wajib dan mutlak dimiliki oleh
seorang mufassir. Dan memang ilmu ini merupakan salah satu bagian dari
sekian banyak syarat yang harus dimiliki oleh mufassir.
Kami kutipkan dari salah satu rujukan yang ada, tentang beberapa syarat yang harus dimiliki oleh seorang mufassir, antara lain:
1. Sehat Aqidah
Seorang yang beraqidah menyimpang dari aqidah yang benar tentu tidak
dibenarkan untuk menjadi mufassir. Sebab ujung-ujungnya dia akan
memperkosa ayat-ayat Al-Quran demi kepentingan penyelewengan aqidahnya.
Maka kitab-kitab yang diklaim sebagai tafsir sedangkan penulisnya
dikenal sebagai orang yang menyimpang dari aqidah ahlusunnah wal jamaah,
tidak diakui sebagai kitab tafsir.
2. Terbebas dari Hawa Nafsu
Seorang mufassir diharamkan menggunakan hawa nafsu dan kepentingan
pribadi, kelompok dan jamaah ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Juga
tidak terdorong oleh ikatan nafsu, dendam, cemburu, trauma dan
perasaan-perasaan yang membuatnya menjadi tidak objektif.
Dia harus betul-betul meninggalkan subjektifitas pribadi dan golongan
serta memastikan objektifitas, profesionalisme dan kaidah yang baku
dalam menafsirkan.
3. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran
Karena Al-Quran turun dari satu sumber, maka tiap ayat menjadi
penjelas dari ayat lainnya, dan tidak saling bertentangan. Sebelum
mencari penjelasan dari keterangan lain, maka yang pertama kali harus
dirujuk dalam menafsirkan Al-Quran adalah ayat Al-Quran sendiri.
Seorang mufassir tidak boleh sembarangan membuat penjelasan apa pun
dari ayat yang ditafsrikannya, kecuali setelah melakukan pengecekan
kepada ayat lainnya.
Hal itu berarti juga bahwa seorang mufassir harus membaca, mengerti
dan meneliti terlebih dahulu seluruhayat Al-Quran secara lengkap, baru
kemudian boleh berkomentar atas suatu ayat. Sebab boleh jadi penjelasan
atas suatu ayat sudah terdapat di ayat lain, tetapi dia belum
membacanya.
4. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah
Berikutnya dia juga harus membaca semua hadits nabi secara lengkap,
dengan memilah dan memmilih hanya pada hadits yang maqbul saja. Tidak
perlu menggunakan hadits yang mardud seperti hadits palsu dan
sejenisnya.
Tentang kekuatan dan kedudukanhadits nabi, pada hakikatnya berasal
dari Allah juga. Jadi boleh dibilang bahwa hadits nabi sebenarnya
merupakan wahyu yang turun dari langit. Sehingga kebenarannya juga
mutlak dan qath'i sebagaimana ayat Al-Quran juga.
5. Merujuk kepada Perkataan Shahabat
Para shahabat nabi adalah orang yang meyaksikan langsung bagaimana
tiap ayat turun ke bumi. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang justru
menjadi objek sasaran diturunkannnya ayat Al-Quran.
Maka boleh dibilang bahwa orang yang paling mengerti dan tahu tentang
suatu ayat yang turun setelah Rasulullah SAW adalah para shahabat nabi
SAW.
Maka tidak ada kamusnya bagi mufassir untuk meninggalkan komentar,
perkataan, penjelasan dan penafsiran dari para shahabat Nabi SAW atas
suatu ayat. Musaffri yang benar adalah yang tidak lepas rujukannya dari
para shahabat Nabi SAW.
6. Merujuk kepada Perkataan Tabi'in
Para tabi'in adalah orang yang pernah bertemu dengan para shahabat
Nabi SAW dalam keadaan muslim dan meninggal dalam keadaan muslim pula.
Mereka adalah generasi langsung yang telah bertemu dengan generasi para
shahabat.
Maka rujukan berikutnya buat para mufassir atas rahasia dan pengertian tiap ayat di Al-Quran adalah para tabi'in.
7. Menguasai Bahasa Arab, Ilmu dan Cabang-cabangnya
Karena Al-Quran diturunkan di negeri Arab dan merupakan dialog kepada
kepada orang Arab, maka bahasanya adalah bahasa Arab. Walaupun isi dan
esensinya tidak terbatas hanya untuk orang Arab tetapi untuk seluruh
manusia.
Namun kedudukan Arab sebagai transformator dan komunikator antara
Allah dan manusia, yaituAl-Quran menjadi mutlak dan absolut.Kearaban
bukan hanya terbatas dari segi bahasa, tetapi juga semua elemen yang
terkait dengan sebuah bahasa. Misalnya budaya, adat, 'urf, kebiasaan,
logika, gaya, etika dan karakter.
Seorang mufassir bukan hanya wajib mengerti bahasa Arab, tetapi harus
paham dan mengerti betul budaya Arab, idiom, pola pikir dan logika yang
diberkembang di negeri Arab. Karena Al-Quran turun di tengah kebudayaan
mereka. Pesan-pesan di dalam Al-Quran tidak akan bisa dipahami kecuali
oleh bangsa Arab.
Tidak ada cerita seorang mufassir buta bahasa dan budaya Arab. Sebab
bahasa terkait dengan budaya, budaya juga terkait dengan 'urf, etika,
tata kehidupan dan seterusnya.
Dan kalau dibreak-down, bahasa Arab mengandung beberapa
cabang ilmu seperti adab (sastra), ilmu bayan, ilmu balaghah,
ilmul-'arudh, ilmu mantiq, dan lainnya. Semua itu menjadi syarat mutlak
yang harus ada di kepala seorang mufassir.
8. Menguasai Cabang-cabang Ilmu yang Terkait dengan Ilmu Tafsir
Kita sering menyebutnya dengan 'Ulumul Quran. Di antara
cabang-cabangnya antara lainilmu asbabunnuzul, ilmu nasakh-manskukh,
ilmu tentang al-'aam wal khash, ilmu tentang Al-Mujmal dan Mubayyan, dan
seterusnya.
Tidak pernah ada seorang mufassir yang kitab tafsirnya diakui oleh
dunia Islam, kecuali mereka adalah pakar dalam semua ilmu tersebut.
9. Pemahaman yang Mendalam
Syarat terakhir seorang mufassir adalah dia harus merupakan orang
yang paling paham dan mengerti tentang seluk belum agama Islam, yaitu
hukum dan syariat Islam. Sehingga dia tidak tersesat ketika menafsirkan
tiap ayat Al-Quran.
Dia juga harus merupakan seorang yang punya logika yang kuat, cerdas,
berwawasan, punya pengalaman, serta berkapasitas seorang ilmuwan.
Demikian sekelumit syarat mendasar bagi seorang mufassir sebagaimana
yang dijelaskan oleh Syeikh Manna' Al-Qaththan dalam kitabnya, Mabahits
fi 'Ulumil Quran. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan.
Wallahu a'lam bishshawab
0 komentar:
Posting Komentar