1. Pelayanan-pelayanan Nabi s.a.w.
a. Anas bin Malik.
Di antara pelayan – peIayan laki-laki Nabi s.a.w. ialah Anas bin Malik
Al Anshari. Ia adalah pelayan yang paling khusus di antara
pelayan-pelayan Nabi. Ia telah melayani Nabi sejak beliau tiba di
Madinah hingga wafat. “Selama lebih dari 20 tahun aku mengabdikan
diriku kepada Rasulullah, belum pernah sekalipun beliau bertanya apa yang sedang atau tidak aku lakukan” kata Anas bin Malik.
b. Abdullah bin Mas’ud
Ia mengurus siwak dan sandal Nabi. Jika Nabi berdiri, maka keduanya
diberikannya kepada beliau; dan jika Nabi duduk, maka keduanya
diletakkannya di lengannya. Ia berjalan di hadapan Nabi dengan
sebatang tongkat hingga beliau memasuki biliknya. Nabi sesungguhnya
tidak suka diperlakukan seperti ini. Itulah sebabnya Abdullah
melakukannya dengan memaksa. Selebihnya, Abdullah kebanyakan hanya
menemani Nabi saja daripada melakukan sesuatu.
e. Mu ’aiqib Al Dausi
Ia adalah pengurus khatim Nabi. Riwayat Mu’aiqib tidak tercatat
dengan jelas. Tidak ada catatan kapan Mu’aiqib bersama Nabi dan sampai
kapan.
d. Uqbah bin Amir al Juhny
Ia mengurus baghal (hewan tunggangan sejenis keledai) Nabi dan dia pulalah yang bertugas menuntunnya di dalam perjalanan.
e. Asla’ bin Syarik
Ia adalah pengurus onta Nabi dan yang menuntunnya buat beliau. Sama
seperti Uqbah, tugas Asla’ adalah mengurusi hewan tunggangan Nabi.
Hewan ibarat ujung tombak pergerakan dakwah Islam di masa masa awal.
Tanpa hewan yang kuat dan sehat, maka urusan dakwah bisa terganggu.
Itulah sebabnya para sahabat berebut untuk merawat hewan hewan Nabi.
Tapi, seperti juga Anas bin Malik, baik Asla’ maupun Uqbah semua bekerja
pernah diminta Nabi.
f. Bilal
Seorang bekas budak yang kehidupan sehari harinya dibelanjai oleh
beliau. Tapi sejatinya ia sudah dimerdekakan oleh Abu Bakar Shidiq.
Bilal sangat mencintai Nabi, ketika Nabi wafat, Bilal yang sehari
harinya bertugas melantunkan azan sholat, tidak mau lagi azan. Bilal
merasa tidak sanggup mengumandangkan nama Nabi pada lafal azan tsb.
Adapun di antara para pelayan wanita Nabi s.a.w. ialah: Amatullah, Khaulah, Maria ibu Raba, dan Maria nenek Mutsanna bin Saleh.
Para sahaya beliau yang sudah beliau merdekakan adalah sebagai berikut:
1. Yang laki-laki ialah Zaid bin Haritsah,
yang merupakan pemberian Khadijah untuk beliau sebelum nubuwah dan
kemudian diangkat beliau sebagai anak angkat. Ia adalah kecintaan Nabi
s.a.w. Kemudian putranya Usamah. Saudara Usamah dari pihak ibunya
Aiman bin Ummu Aiman Barakah Al-Habisyiah.
2. Abu Rafi’ adalah seorang Qibthy. Nabi membebaskannya ketika ia
memberitahukan kabar gembira kepada beliau tentang keislaman Abbas.
3. Syuqran, seperti yang disebutkan di dalam Al—Mawaizib dan Shirak
Al•Halahiya/1, namanya adalah Salah. Dia seorang Habsy (budak hitam),
dan ada pula yang mengatakan orang Parsi.
4. Tsauban.
5. Anjisyah, seorang budak hitam.
6. Rabah, seorang budak hitam.
7. Yassar, yang kemudian dibunuh oleh orang-orang Persia.
8. Safinah, seorang budak hitam. Dialah yang bertemu dengan seekor
singa ketika tersesat di suatu tempat, lalu ia berkata: “Hai singa, aku
adalah maula Rasululiah s.a.w.! Kemudian singa itu berjalan di mukanya
sebagai petunjuk jalan.
9. Salman Al-Farisi, asalnya merdeka lalu dijadikan budak secara paksa oleh para penyamun.
10. Khasshi, dihadiahkan oleh Muqauqis, disebut juga Ma’bur. Ia tidak masuk Islam, namun tetap sebagai seorang Nasrani.
11. Pelayan Iainnya disebut Sandar, _
Mengenai sahaya perempuan, di antaranya ialah Ummu Aiman, Amimah,
Sirin dan Qaisar dua orang terakhir ini dihadiahkan oleh Muqauqis kepada
beliau bersama-sama dengan Maria; keduanya adalah saudara Maria.
Diberitahukan bahwa beliau telah menghadiahkan Sirin kepada Hassan bin
Tsabit dan menghadiahkan Qaisar kepada J ahm bin Wais A1-Abadari. Telah
disebutkan di muka bahwa Nabi s.a.w. pada waktu sakit menjelang ajalnya
telah memerdekakan empat puluh orang sahaya.
0 komentar:
Posting Komentar