Hayat Nabi Muhammad
Oleh Al Imam AL Allamah AL Syaikh Muhammad bin Ali-Shaban
(Sebuah Biografi Singkat)
Silsilah Nabi s.a.w.
Beliau bernama Sayyid Muhammad, putra Abdullah, putra Abdul
Mutthalib, putra Hasyim, putra Abdul Manaf, putra Qushai, putra Kilab,
putra Murrah, putra Ka’ab, putra Luai, putra Ghalib, putra Fihr, putra
Malik, putra Al Nadhar, putra Kinanah, putra Khuzaimah, putra Mudrikah,
putra Ilyas, putra Mudhar,
putra Nizar, putra Ma’ad, putra Adnan.
Adapun seterusnya, maka terdapat perselisihan di kalangan ulama.
Imam Malik r.a. memakruhkan menyebut nasab beliau sampai kepada Nabi
Adam a.s.
Ibu beliau ialah Aminah putri Wahab, putra Abdu Manaf, putra Zahrah, putra Kilab seperti yang tersebut di atas tadi. .
Nama Abdul Mutthalib adalah Syaibatul Hamdi, sebab
ketika beliau dilahirkan, pada rambutnya terdapat wama putih disertai
harapan pujian dari manusia baginya. Adapun kemudian namanya berubah
menjadi Abdul Mutthalib adalah karena ketika pamannya, Al Mutthalib,
membawanya dari keluarga paman-pamannya Bani Najar di Madinah, beliau
masih kanak-kanak. Pamannya, Al Mutthalib, menggendong beliau di
belakangnya di atas tunggangannya.
Adapun Hasyim, nama sebenarnya adalah Umar dan Ula’,
karena ketinggian martabatnya, beliau digelari Hasyim karena telah
bermurah hati memberikan roti kepada orang orang pada masa kelaparan
yang menimpa mereka. Abdul Manaf asalnya bernama
Al-Mughirah; sedang Manaf itu berasal dari kata Manah, yaitu nama salah
satu berhala yang paling besar di masa itu. Ketika itu, ibu beliau
menjadikan beliau sebagai pelayan berhala tersebut.
Nama Qushai yang sebenarnya adalah Zaid. Ada pula yang mengatakan Yazid. Dipanggil Qushai karena beliau berada jauh dari keluarganya.
Kilab namanya adalah Hakim. Ada pula yang mengatakan
Urwah. Dipanggil Kilab karena beliau suka sekali berburu, dan setiap
kali pergi berburu, beliau selalu disertai anjing.
Luai lebih sering dibaca dengan “hamzah” daripada tidak memakai “hamzah”.
Fihr adalah nama aslinya, sedang julukannya adalah Quraisy. Karena beliau
suka menyelidiki orang-orang yang membutuhkan sesuatu lalu dipenuhinya.
Pada diri beliau inilah seluruh suku Quraisy bertemu tali nasabnya. Orang orang Arab
yang berasal dari keturunannya, disebut suku Quraisy, sedangkan yang bukan, tidak disebut demikian.
Adapun nama Al-Nadhar itu ialah Qais. Beliau
dijuluki demikian, karena kecantikannya. Mudrikah namanya Umar.
Dijuluki Mudrikah sebab beliau memperoleh semua kemuliaan dan kejayaan
nenek moyangnya.
Dan Ilyas, diberi nama demikian, karena beliau dilahirkan sesudah orangtuanya telah lanjut.
Masa di Kandungan
Rasulullah dilahirkan — menurut pendapat yang paling sahih — adalah
di kota Makkah. Pada waktu fajar menyingsing di hari Senin, 12 Rabi’ul
Awwal, tahun Gajah. Yang bertindak sebagai bidannya ialah Syifa’,
ibunda Abdurrahman bin Auf.
Beliau lahir dalam keadaan sudah dikhitan. Tapi ada pula yang mengatakan
bahwa kakeknya — Abdul Mutthalib — yang mengkhitannya pada hari
ketujuh dari kelahiran beliau. Hal ini boleh jadi disebabkan ketika itu
khitan beliau belum sempurna sebagaimana biasa sering terjadi pada
sebagian bayi, kemudian disempurnakan oleh kakeknya.
Ada yang mengatakan Jibril-lah yang mengkhitankannya, pada saat ia membelah kalbu beliau di tempat ibu susu beliau, Halimah.
Pada saat beliau dilahirkan, Aminah menyaksikan suatu sinar keluar dari
tubuhnya yang memancar sampai ke istana Bushra. Dan selagi beliau masih
berada dalam kandungan, ibunda beliau sama sekali tidak merasakan susah
payah, seperti yang biasa dialami oleh wanita-wanita yang sedang
hamil. Aminah baru
mengetahui bahwa dirinya sedang bamil karena pemberitahuan malaikat yang
mendatanginya ketika ia berada dalam keadaan setengah tidur, yang
mengatakan bahwa ia telah mengandung seorang nabi dan penghulu umat
manusia. Di samping juga ditandai dengan haidnya yang terputus dan
berpindahnya cahaya dari wajah Abdullah — ayahanda beliau — ke wajah
Aminah.
Pada malam kelahiran beliau, terjadilah peristiwa-peristiwa aneh. Di
antaranya adalah padamnya api di negeri Parsi yang selama seribu tahun
belum pernah padam; térjadi goncangan yang amat dahsyat di mahligai
Kisra hingga retak dan empat belas terasnya ambruk; air danau Sawah
menjadi surut dan berhala berhala berjungkir-balik.
Demikian juga ketika beliau masih di dalam kandungan. Ayahandanya,
Abdullah, meninggal dunia ketika beliau masih dalam rahim ibunya,
demikianlah menurut pendapat yang paling sahih di antara sebagian be-
sar ulama. Dan pada hari ketujuh dari kelahiran beliau, kakeknya Abdul
Mutthalib, mengadakan akikah untuk beliau dengan menyembelih seekor
kambing.
Masa Penyusuan
Adapun wanita-wanita yang menyusui beliau ada delapan, dan ada yang mengatakan lebih dari delapan.
Pertama, ibunya Aminah, kemudian Tsuwaibah
— sahaya pamannya Abu Lahab yang telah dimerdekakan oleh pamannya itu
ketika ia memberitahukan tentang kelahiran beliau — dan yang paling
banyak menyusui beliau ialah Halimah Al-Sa’diyah.
Selama menyusui beliau, Halimah banyak menyaksikan kebaikan dan
keberkatan. Di antaranya ialah susunya yang asalnya sedikit menjadi
bertambah banyak; beliau menyusu hanya dari buah dada yang sebelah
kanan dan membiarkan yang kiri untuk saudara—saudara sepersusuannya;
keledai betina milik Haliinah yang sebelumnya berjalan agak terbelakang,
setelah pulang membawa beliau menjadi berlari kencang sehingga dapat
mendahului yang lain; dan kambing-kambing milik Halimah yang sebelumnya
hanya mengeluarkan susu sedikit, setelah ia mengasuh beliau, maka
melimpah limpahlah susunya.
Masa Penyapihan dan Sepeninggal Ibunya
Halimah menyapih beliau ketika beliau setelah berusia dua tahun.
Perkembangan beliau berbeda dengan perkembangan anak-anak lain
seusianya. Kemudian dengan perasaan berat, Halimah mengantarkan beliau
kembali kepada orang tuanya di Makkah, dengan penuh pengharapan agar
diizinkan untuk dapat mengasuh beliau lagi. Akhirnya setelah berjumpa
dengan orang tua beliau, Halimah mengutarakan maksudnya untuk mengasuh
beliau lagi, dan diizinkan.
Tatkala beliau berusia empat tahun, pada saat sedang bermain main dengan
saudara sepersusuannya, sekonyong konyong datanglah dua malaikat
mendekati beliau (ada yang mengatakan bahwa kedua malaikat itu ialah
Jibril dan Mikail) Lalu mereka membelah dada beliau dan mengeluarkan
segumpal darah hitam dari dalamnya, yang merupakan tempat setan
memompakan perkara-perkara yang menyesatkan. Kemudian kedua malaikat
tadi mencuci gumpalan darah hitam itu dengan salju (es). Lantas
saudara-saudara sepersusuan beliau melaporkan kejadian tersebut kepada
ibu bapak mereka, maka pergilah keduanya untuk melihat keadaan beliau.
Mereka dapati beliau dalam keadaan pucat-pasi. Mereka bertanya kepada
beliau, apa yang sudanh terjadi. Lalu beliau menceritakan kepada
keduanya pengalamannya tadi. Mendengar hal itu, keduanya menjadi
khawatir, hingga akhirnya beliau dikembalikan lagi kepada orangtuanya di
Makkah.
Kebanyakan ulama menyatakan keislaman Halimah ini, dan sebagian
menyatakan keislaman suami dan anak-anaknya; dan sebagian lagi
menyatakan keislaman Tsuwaibah juga. Kemudian baliau dibawa oleh ibunya
ke Madinah untuk menyambangi paman-pamannya dari Abdul Mutthalib,
(kabilah Bani Najar). Dalam perjalanan pulang, ibunda beliau jatuh
sakit dan akhirnya meninggal dunia, lalu dikuburkan di Abwa. Ketika
itu usia beliau baru enam tahun, sebagairnana yang dikatakan oleh Ibnu
Ishaq. Kemudian beliau dirawat dleh Ummu Aiman Barakah Al Habasyiah,
yang diwarisinya dari ayahandanya. Ummu Aiman inilah yang membawa beliau
ke Makkah, kembali kepada neneknya Abdul Mutthalib.
Lalu beliau dipelihara oleh kakeknya ini sampai usianya mencapai
delapan tahun. Tatkala Abdul Mutthalib merasa ajalnya telah dekat, ia
berwasiat kepada Abu Thalib, paman beliau, supaya mengasuh beliau.
Karena keluhuran budinya, lagi pula ia adalah saudara kandung Abdullah,
ayahanda beliau. Setelah Abdul Mutthalib
meninggal dunia, maka untuk selanjutnya Abu Thaliblah yang mengasuh beliau.
Selama mengasuh dan membesarkan beliau, Abu Thalib banyak memperoleh
kebaikan dan keberkatan. Di antaranya adalah; kéluarganya akan merasa
kenyang bila beliau ikut makan bersama mereka, dan tidak akan merasa
kenyang bila beliau tidak makan bersama mereka. Turunnya hujan yang
berlimpah ketika ia melakukan “istisqa” atas nama beliau, pada waktu
musim kemarau yang melanda kota Makkah. Sambutan hangat yang
diterimanya dari Buhaira (rahib Bushra) ketika ia membawa beliau ke
negari Syam dan singgah di Bushra. Buhaira ini adalah rahib Nasrani
yang banyak mengetahui tentang tanda tanda kenabian. Ketika itu ia
sedang berada di biaranya, lalu tampak olehnya tanda-tanda kenabian
yang ada pada diri beliau. Maka ia pun mengadakan jamuan makan untuk
menyambut rombongan kafilah Abu Thalib itu, demi beliau. Padahal sebelum
itu, Abu Thalib dan rombongannya sering melalui tempat itu, namun
Buhaira tidak pemah menyapa atau mempersilakan mereka singgah di
biaranya. Kemudian Buhaira berkata kepada Abu Thalib: “Bawalah pulang
keponakanmu ini,
dan jagalah ia dari orang-orang Yahudi!”
Setelah menyelesaikan transaksi perdagangannya, dengan segera Abu Thalib
membawa pulang beliau ke Makkah. Kala itu beliau telah berusia tiga
belas tahun, menurut salah satu pendapat.
Pada tahun ketujuh dari kelahirannya, beliau ditimpa penyakit mata yang
berat. Dan masih pada tahun itu juga, nenek beliau Abdul Mutthalib
membawa beliau melakukan “istisqa”.
Pada tahun ketigabelas dari kelahirannya, beliau menemani kedua
pamannya, Zubair dan Abbas – dua orang putra Abdul Mutthalib – pergi
untuk berniaga ke negeri Yaman. `
Usia Dua Puluh Lima Tahun
Tatkala beliau berusia dua puluh lima tahun, yang di Makkah populer
dengan panggilan Al Amin, beliau berangkat lagi ke negeri Syam, membawa
barang dagangan Siti Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza
bin Qushai, ditemani oleh Maisarah, sahaya Siti Khadijah. Siti Khadijah
berpesan kepada sahayanya: ”Janganlah melanggar perintahnya, dan jangan
pula menentang pendapatnya!”
Dalam perniagaanya tadi, Siti Khadijah memperoleh keuntungan berlipat
ganda dibandingkan dengan perniagaannya yang sudah sudah. Selama dalam
perjalanan, Maisarah menyaksikan sifat-sifat terpuji yang dimiliki oleh
beliau yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Ia pun menyaksikan dua
malaikat menaungi beliau dari terik matahari. Dan salah seorang rahib
yang bernama Nastura memberitahukan kepadanya bahwa beliau adalah
seorang nabi umat
Pernikahan Pertamanya
Tatkala rombongan mendekati Mekah, , Siti Khadijah menyaksikan
naungan kedua malaikat tersebut, dan kemudian ia mendengar dari Maisarah
tentang apa yang telah dilihat dan didengamya dari beliau. Maka Siti
Khadijah melipatgandakan pemberiannya kepada beliau. Kemudian Khadijah
melamar beliau, dan akhirnya beliau menikah dengannya. Ketika itu usia
beliau telah mencapai duapuluh lima tahun lebih dua bulan, menurut
salah satu pendapat, sedangkan Siti Khadijab telah berusia empat puluh
tahun. Beliau 22 tahun. Beliau lalu mengadakan “walimah” dengan
menyembelih séekor kambing; dan ada yang mengatakan dua ekor, dan ini
adalah “walimah” yang pertama sekali diadakan oleh Nabi.
Adapun “Mak Comblang” antara mereka berdua ialah Naiisah binti Munabbih.
Sedangkan yang menikahkan dari pihak Siti Khadijah ialah pamannya yang
bernama Amru bin Asad, dan dari pihak beliau ialah pamannya Abu Thalib,
serta dihadiri oleh Hamzah. Mas kawinnya adalah emas dua belas setengah
pond yang
sama dengan perak empatpuluh dirham.
Ketika itu Khadijah adalah seorang wanita Quraisy yang paling baik
nasabnya, paling banyak hartanya dan paling cantik parasnya. Di
kalangan suku Quraisy, ia dikenal dengan sebutan Al—Thahirah dan
penghulu wanita Quraisy. Selama hidup bersamanya, beliau tidak menikah
dengan wanita lain, hingga Khadijah meninggal dunia.
Sebelum menikah dengan beliau, Siti Khadijah sudah pernah menikah dengan
dua pria lain. Dan Siti Khadijah inilah orang yang pertama tama sekali
menyatakan keimanannya kepada belian secara mutlak. Adapun perbedaan
pendapat itu adalah tentang orang pertama yang beriman sesudahnya.
Perjalanan yang disebutkan di atas tadi adalah salah satu perjalanan
niaga beliau di antara tiga perjalanan niaga yang memperniagakan
barang-barang Khadijah.
Tetapi kedua perjalanan niaga yang pertama adalah ke negeri Yaman.
Dan diberitakan pula bahwa sebelumnya, beliau pernahmengambil upahan
sebagai penggembala kambing, demikian pula halnya dengan nabi-nabi
sebelum beliau seperti Nabi Musa a.s.
Hikmahnya adalah bahwa dalam menggembalakan kambing, yang merupakan
binatang lemah, itu dapat menumbuhkan rasa welas asih dan lemah lembut,
sehingga kelak apabila beralih menjadi penggembala g manusia, maka
sudah terbiasa.
Pembangunan Ka’bah
Tatkala usia beliau mencapai tigapuluh lima tahun, orang orang Quraisy
memperbaiki bangunan Ka’bah karena dinding dindingnya ada yang retak seba-
gai akibat banjir yang melandanya yang didahului oleh kebakaran. Belian turut
membantu memindahkan batu-batuannya, dan ketika sampai pada pemindahan
”hajarul aswad”, mereka berselisih paham tentang siapa yang lebih berhak
memindahkan kembali batu hitam itu ke tempatnya semula. Akhirnya
mereka sepakat, bahwa beliaulah yang lebih berhak memindahkannya, laln
beliai meletakkan batu hitam itu ke tempatnya semula dengan kedua belah
tangannya.
Adapun yang pertama-tama membangun Ka’bah itu ialah Nabi Adam a.s.,
kemudian Nabi Ibrahim a.s.,kemudian Amaliqah, kemudian Jurhum, kemudian
Qushai-datuk beliau, dan datuk beliau inilah yang pertama-tama
memberikan atap pada bangunan Ka’bah itu. Kemudian pembangunannya
dilakukan oleh
suku Quraisy tersebut di atas.
Tetapi karena kekurangan dan untuk membangunnya sesuai dengan denah
yang ada sejak pembangunan Adam dan Ibrahim a.s. dahulu, maka mereka
lalu mengeluarkan batu hitam itu dan membangun dinding
yang rendah untuknya sebagai tanda bahwa ia adalah bagian dari Ka’bah
tersebut. Kemudian pembangunan yang dikerjakan oleh Abdullah bin Zubair
sesuai dengan denah, di samping merendahkan pintu yang dibuat oleh
suku Quraisy dan mengadakan pintu kedua.
Pembangunan yang dilakukan oleb Amaliqah, Jurhum dan Oushai itu tidak lain hanyalah memperbaiki saja.
Sebagian ulama meugatakan bahwa tidak benar Nabi Adamlah yang pertama
tama sekali membangunnya; sebagaimana dikatakan bahwa tidak benar
malaikatlah yang membangunnya sebelum Adam a.s. Namun yang pertama
tama membangunnya ialah Nabi Ibrahim a.s. Pada masa Ibrahim a.s.,
tingginya mencapai sembilan hasta, lalu ditambah oleh suku Quraisy
sembilan hasta lagi, dan Ibnu Zubair menambahkan sembilan hasta pula.
Jadi, sekarang tingginya mencapai dua puluh tujuh hasta. Kemudian
setelah Ibnu Zubair terbunuh, maka Hajjaj Al-Tsaqaii membuang
batu-batuan yang dimasukkan oleh Ibnu Zubair dahulu,
dan meninggikan pintunya serta menutup pintu kedua yang diadakan oleh Ibnu Zubair tersebut.
Pada bulan Sya’ban tahun 1039 H terjadilah banjir besar yang
merobohkan sebagian besar bangunan Ka’bah. Berita tersebut akhirnya
sampai ke Mesir, lalu wazir Muhammad Basya mengumpulkan para ulama untuk
mem-
bahas kasus tersebut dan menulis surat agar bangungan itu segera diperbaiki.
Menjelang Turunnya Wahyu
Kembali kepada pokok persoalan. Ketika telah dekat hari-hari
menjelang turunnya wahyu, Allah menumbuhkan rasa cinta menyepi
(ber-khalwat) kepada beliau. Lalu beliau mengasingkan diri di gua
Hira’ sambil beribadah di situ. Ada yang mengatakan ibadah beliau itu
berupa dzikir, dan ada yang mengatakan bahwa ibadah beliau itu berupa
renungan. Ada juga yang meriwayatkan secara luas di dalam Thabaqat
al-Manaw dan dalam ucapan Syaikh Muhyiddin Ibn Al-Arabi bahwa ibadah
beliau sebelum kenabian adalah mengikuti syariat Nabi Ibrahim a.s. dan
ada yang mengatakan juga yang lain.
Selama dalam pengasingan itu, beliau sering mimpi yang semuanya akhirnya
menjadi kenyatan. Adapun mimpi-rnimpi beliau itu adalah mimpi-mimpi
yang benar yang merupakan pendahulu wahyu. Diberitakan bahwa hal
tersebut terjadi lebih kurang enam bulan lamanya.
Disebutkan bahwa ketika semakin dekat wahyu diturunkan, maka semakin
sering pula setan-setan dirajam (dilempari) dengan bintang-bintang, dan
sejak saat itu pula terhalanglah mereka untuk mendengarkan berita-berita
rahasia dari langit.
Wahyu Pertama
Ketika usia beliau telah mencapai genap empatpuluh tahun, Jibril
datang menemui beliau di gua Hira’ sambil membawa berita kenabian.
Jibril berkata: “Bacalah!”
Beliau menjawab: “Saya tidak dapat membaca.” Lalu Jibril merangkul
beliau sehingga beliau merasa kepayahan. Kemudian dilepaskannya kembali,
lalu berkata: ”Bacalah!”
Beliau tetap menjawab: “Saya tidak dapat membaca.”
Untuk yang ketiga kalinya Jibril merangkul beliau, kemudian dilepaskannya, dan ia berkata pula: “Bacalah!”
Beliau menjawab: “Saya tidak dapat membaca.”
Jibril merangkul beliau lagi, lalu dilepaskannya dan kemudian berkata:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang telah menciptakan, Yang
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang
paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam (tulis
baca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. ”
Setelah itu Jibril membawa beliau turun dari atas gunung. Lalu ia
menghentakkan kakinya ke tanah, maka menyemburlah mata air di situ.
Kemudian Jibril berwudu dan menyuruh beliau agar berwudu pula. Lantas
Jibril shalat dua raka’at seraya berkata: “Beginilah cara shalat itu!”
Usai shalat, Jibril pun menghilang. Maka pulanglah beliau shallallaahu
alaihi wa sallam dengan perasaaan yang tak menentu. Lalu beliau
menceritakan kepada Khadijah apa yang baru dialaminya itu. Siti Khadijah
menenangkan hati beliau yang sedang goncang itu dengan kata kata yang
menghibur. Kemudian diajaknya
beliau menemui saudara sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal,
seorang Nasrani. Lalu Siti Khadijah memberitahukan kepada Waraqah
tentang apa yang sudah disaksikan dan dialami beliau dan Waraqah
membenarkannya. Kemudian Waraqah mengatakan kepada beliau: “Ia adalah
Al-Namus (malaikat Jibril) yang
pernah turun kepada Nabi Musa dahulu. Wahai, kalau saja aku masih muda,
dan kalau saja aku masih hidup di kala kaummu mengusir dirimu …. ”
Beliau bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?”
Waraqah menjawab: “Ya, setiap orang yang membawa misi seperti yang kau
bawa ini, tentu ia akan diganggu dan disakiti. Seandainya aku mendapati
hari itu, maka aku benar-benar akan menolongmu dengan sekuat tenagaku.”
Tidak lama berselang, Waraqah meninggal dunia.
Selama lebih kurang tiga tahun semenjak kejadian di atas, wahyu tidak
lagi turun. Sehingga timbullah rasa sedih dan rindu berkecamuk dalam
hati béliau. Namun akhirnya, Jibril turun juga membawa wahyu berupa
surah Al-Muddatstsir.
Sejak saat itu turunlah wahyu berturut-turut kepada beliau. Dan
dengan turunnya wahyu tersebut, maka mulailah risalah beliau untuk
disampaikan. Al-Sya’bi mengatakan bahwa selama masa “hampa wahyu” di
atas, Allah telah menyuruh Israiil menemani dan mengajari beliau.
Dan diriwayatkan bahwa sebelum beliau didatangi oleh malaikat Jibril
dengan ayat “Iqra” di atas, beliau sudah pernah melihat Jibril di ufuk
langit dalam rupa seorang laki-laki. Dan didengarnya Jibril berkata
kepadanya: “Ya Muhammad, engkau adalah utusan Allah, dan aku adalah
Jibril!” ‘ Kemudian beliau memberitahukan hal itu kepada Siti Khadijah.
Khadijah menenangkan hatinya, dan ia memberitahukannya kepada Waraqah,
maka Waraqah menggembirakan beliau dengan kenabian beliau. Terdapat
perselisihan tentang bulan diturunkannya wahyu pertama itu. Menurut
pendapat yang paling banyak adalah pada hari ketujuh di bulan Ramadhan.
Dan ada juga yang mengatakan pada hari ketujuhbelas di bulan Ramadhan.
Dan ada yang mengatakan di’bulan Rabi’ul Awwal. Ada pula yang mengatakan
di bulan Rajab. Adapun harinya, menurut ijma’, adalah pada hari Senin,
yang merupakan hari kelahiran beliau, hari beliau diutus, hari beliau
keluar dari Makkah, hari beliau tiba di Madinah, dan hari beliau wafat.
Menyeru Orang Orang Kepada Allah
Setelah turun surah Al-Muddatstsir tersebut, maka mulailah beliau
menyeru orang-orang untuk mengEsakan Allah. Pertama-tama dengan jalan
diam-diam karena belum ada perintah untuk terang-terangan. Ketika itu,
apabila orang orang Islam hendak mengerjakan shalat, mereka pergi ke
celah celah gunung yang sunyi supaya tidak kelihatan oleh kaum
musyrikin. Hingga akhirnya beberapa orang musyrik melihat Sa’ad bin Abu
Waqqash bersama beberapa orang Islam sedang mengerjakau shalat di celah
celah gunung yang sunyi tersebut.
Lalu orang orang musyrik itu mencela perbuatan Sa’ad dan kawan-kawannya
itu yang dilanjutkan dengan perkelahian di antara mereka. Sahabat Sa’ad
berhasil memukul kepada salah seorang lawannya hingga pecah. Ini
adalah darah pertama yang tumpah dalam sejarah Islam.
Setelah kejadian di atas, maka Rasulullah dan para sahabat beliau
merahasiakan shalat dan ibadah mereka di suatu gedung yang disebut Darul
Arqam, hingga akhirnya Allah SWT memerintahkan kepada beliau agar
memproklamirkan agama Islam secara terang terangan. Dimulai dengan
masuknya sahabat Umar bin Khattab, yang tiga hari sebelumnya sahabat
Hamzah bin Abdul Mutthalib sudah mendahului masuk Islam, tepatnya pada
tahun keenam dari kenabian.
Adapun masa dakwah secara rahasia di atas berlangsung selama kurang
lebih tiga tahun. Selama itu pula kaum musyrikin Quraisy mengganggu
dan menyakiti Rasulullah dan orang-orang yang beriman kepada beliau.
Sehingga ada sebagian orang-orang yang lemah (mustadh ‘afin) mendapat
siksaan yang dahsyat dari orang-orang musryik tersebut; seperti: Bilal,
Khabab bin Arat, Ammar bin Yasir dan ibunya Sumayah serta saudaranya
Abdullah. Akhirnya Yasir tewas disiksa, sedang Sumayah tewas dibunuh
oleh Abu Jahal dengan jalan menusukkan tombak ke dalamfarji-nya. Ia
merupakan wanita pertama yang syahid di dalam Islam.
Karena gangguan dan siksaan orang-orang musyrik itu sudah tak
tertanggungkan oleh kaum Muslimin, maka atas inisiatif Rasul mereka
berpindah ke negeri Ethiopia. Di sana mereka disambut dengan penuh
kehormatan oleh Negus.
Di antara para imigran itu terdapat sahabat Ustman bin Affan bersama
isterinya Ruqayyah binti Rasulullah. Ketika orang-orang musyrik itu
mendengar berita keluarnya orang-orang Islam tersebut, maka mereka pun
melacak kepergian orang orang Islam itu, namun tidak berhasil
menemukannya. Inilah hijrah pertama di
antara dua hijrah ke negeri Ethiopia. Hal itu terjadi pada bulan Rajab tahun ke lima dari kenabian.
Kemudian setelah mereka tinggal di sana lebih kurang tiga bulan,
sebagian besar pulang kembali ke Makkah. Hal itu disebabkan karena
mereka mendengar orang-orang musyrik itu ikut sujud bersama Rasulullah
ketika dibacakan surah Al-Najm. Mereka menyangka bahwa orang-orang
musyrik itu telah masuk Islam.
Dakwah Rasul
Ketika Rasulullah kian meningkatkan dakwahnya kepada Allah SWT
sambil menyalahkan semua sesembahan orang-orang musyrik itu, dan Islam
semakin menyebar serta Al-Qur’an semakin banyak dibaca, maka orang-orang
musyrik itu lalu mendatangi Abu Thalib, mengadukan ucapan-ucapan Nabi
yang telah mengecam sesembahan mereka dan mencela agama mereka itu.
Pengaduan itu terjadi beberapa kali. Dan setiap kali datang pengaduan,
Abu Thalib membela dan mempertahankan Nabi. Hingga akhirnya orang-orang
musyrik itu berkata kepada I Abu Thalib: “Serahkan Muhammad kepada kami,
untuk kami bunuh, dan sebagai gantinya ambillah Ammarah bin Walid!”
Abu Thalib menjawab: “Kalian suruh aku memelihara putra kalian dan
kalian meminta putraku untuk dibunuh? Hal ini tidak akan terjadi
selamanya!”
Tatkala Abu Thalib melihat ancaman kaum musyrikin Quraisy yang semakin
meningkat itu, beliau mengumpulkan puak Bani Hasyim dan puak
BaniMutthalib untuk bersama-sama membela dan mempertahankan Nabi s.a.w.
seperti yang telah dilakukannya selama ini. Saran Abu Thalib tersebut
disambut dan dipatuhi oleh semua orang dari kedua puak tersebut kecuali
Abu Lahab, yang secara terang terangan memusuhi dan menganiaya Nabi dan
orang-orang yang beriman kepada beliau.
Setelah orang-orang musyrik itu menyadari bahwa Abu Thalib tidak
mungkin akan menyerahkan Rasul kepada mereka selamanya, maka mereka pun
lalu meningkatkan gangguan mereka terhadap beliau dan orang orang Islam
lainnya. Mereka menyebut beliau dengan panggilan tukang sihir. Sambil
duduk di tepi jalan, mereka memperingatkan orang-orang yang lewat dari
beliau. Semakin luas Islam menyebar, semakin keras pula perlakuan
orang•orang musyrik itu terhadap ’ kaum Muslimin.
Akhirnya mereka mengajukan usul kepada kaum beliau agar membiarkan
orang luar suku Quraisy membunuh beliau dengan janji akan diberikan
dendanya berlipat ganda. Namun puak Bani Hasyim dan Bani Mutthalib
menolak mentah mentah permintaan gila tersebut. Akhirnya kaum musyrikin
Quraisy mengadakan ,
kesepakatan untuk memboikot dan mengusir keluarga Hasyim dan Mutthalib
dari kota Makkah ke lembah Abu Thalib. Setelah seluruh keluarga besar
Bani Hasyim dan Bani Mutthalib, baik yang mukmin maupun yang masih
kafir selain (dari Abu Lahab), sudah berkumpul di lembah tersebut, yaitu
pada tahun ketujuh
dari kenabian, maka Nabi memerintahkan kepada kaum Muslimin yang masih
berada di kota Makkah agar hijrah ke negeri Ethiopia. Maka berangkatlah
sebagian besar kaum Muslimin, yaitu delapan puluh dua orang laki laki
dan delapan belas orang perempuan. Hijrah kali ini merupakan yang kedua
kalinya dengan .
tujuan yang sama: Ethiopia.
Ketika keberangkatan orang-orang mukmin itu diketahui oleh kaum
musyrikin Quraisy, maka mereka mengutus Ammarah bin Walid danAmrbin Ash
yang ketika itu masih belum masuk Islam sambil membawa hadiah buat
Negus. Dengan permintaan agar ia mengusir para imigran mukmin itu keluar
dari Ethiopia. Namun permintaan itu ditolak oleh Negus dan hadiah
tersebut dikembalikannya lagi kepada mereka.
Kemudian orang orang kafir Quraisy itu mengadakan kesepakatan untuk
tidak berjual bali dengan Bani Hasyim dan Bani Mutthalib, tidak
melakukan pernikahan dengan mereka, tidak membiarkan makanan sampai
kepada mereka, tidak menerima perdamaian dari mereka dan tidak akan
menaruh belas kasihan terhadap mereka sehingga mereka bersedia
menyerahkan Rasul s.a.w. untuk di
bunuh.
Kesepakatan itu ditulis pada sehelai kertas dan digantungkan di dalam
Ka’bah. Pemboikotan itu berlangsung selama tiga tahun, sehingga orang
orang yang berada di lembah menjadi sangat menderita karenanya. Pada
akhir tahun ketiga dari pembeikotan itu, Allah mengutus anai-anai untuk
menggerogoti kertas yang
berisi tulisau persepakatan itu dan membiarkan nama Allah tetap
tercantum di situ. Lalu Allah memberitahukan hal itu kepada Rasul-Nya
dan kemudian Rasul memberitahukannya kembali kepada Abu Thalib. Maka
pergilah Abu Thalib disertai beberapa orang menuju ke Ka’bah. Ketika
orang-orang kaiir Quraisy itu melihat kedatangan rombongan Abu Thalib
itu, mereka menyangka bahwa beliau keluar untuk menyerahkan Nabi s.a.w.
karena sudah tidak kuat lagi menahan derita. Abu Thalib berkata kepada
mereka:
“Aku datang ini adalah untuk suatu kepentingan antara kami dan kamu.
Keponakanku telah memberitahukan kepadaku tentang sesuatu perkara aneh.
Seandainya ucapannya itu benar-benar terbukti, maka demi Allah, kami
tidak akan menyerahkan diriuya selama lamanya, walaupun untuk itu kami
barus menyerahkan nyawa kami. Namun kalau ucapannya itu tidak benar,
maka ia akan kami serahkan kepada kamu, mau kamu apakan
terserah kepada keputusanmu.”
Kemudian Abu Thalib menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah
diberitahukan Nabi kepadanya tadi. Orang-orang kafir Quraisy menyetujui
ucapan Abu Thalib tersebut. Lalu mereka membuka piagam persepakatan itu,
dan memang benarlah apa yang telah dikatakan oleh Rasul tersebut.
Lantas orang-
orang katir Quraisy itu berkata: ”Ini adalah perbuatan sihir keponakanmu itu!”
Kezaliman mereka pun bertambah-tambah
Akhirnya ada beberapa pemuka Quraisy yang tidak berkenan lagi
meneruskan pemboikotan itu, lalu mereka menghapuskannya dan mengeluarkan
Bani Hasyim dan Bani Mutthalib dari lembah tersebut.
Diriwayatkan bahwa tangan orang yang menulis persepakatan itu menjadi lumpuh.
Kemudian pada tahun yang sama Abu Thalib dan Siti Khadijah meninggal
dunia, tepatnya tiga tahun sebelum Hijrah. Hal mana membuat Rasul
menjadi sedih, sehingga beliau menamakan tahun itu dengan sebutan Amul Huzn atau “Tahun Kesedihan”. Siti Khadijah meninggal dunia pada bulan Ramadhan dan dimakamkan di Hajun.
Sepeninggal Abu Thalib, kaum musyrikin Quraisy mendapat peluang besar
untuk mengganggu dan menyakiti Nabi, yang semasa hidup Abu Thalib tidak
mereka dapatkan. Karena keadaan semakin gawat, maka kemudian Rasulullah
pergi seorang diri — ada yang mengatakan ditemani Zaid bin Haritsah —
menuju ke Thaif untuk meminta bantuan dan suaka kepada Tsaqif. Namun
sayang, bukannya bantuan dan pertolongan yang diperoleh beliau. Mereka
malah mengerahkan anak-anak dan hamba sahaya untuk mencaci maki,
memukuli serta melempari beliau dengan batu, sehingga kedua kaki beliau
mengeluarkan darah. Dengan perasaan sedih, beliau meninggalkan mereka.
Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril disertai malaikat penjaga gunung
untuk menjumpai beliau. Malaikat penjaga gunung itu berkata: “Kalau
tuan suka, aku akan menimpakan kedua gunung ini ke atas mereka!”
Nabi menjawab: ”Namun aku mengharap semoga Allah kelak mengeluarkan dari
sulbi mereka, orang-orang yang akan meng-Esa-kan Allah dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Mendengar jawaban tersebut, malaikat penjaga gunung itu berkata: “Tuan
memang tepat sebagaimana yang disebutkan oleh Tuhanmu, sangat pemaaf dan
sangat pengasih.”
Dalam perjalanan pulang dari Thaif itu, beliau berjumpa dengan
sekelompok Jin yang menyimak ketika beliau sedang membaea surah A1-Jin.
Jin-jin itu mendengarkan dan kemudian beriman kepadanya. Namnm beliau
tidak merasakan hal itu hingga akhirnya turunlah ayat: Dan (ingatlah)
ketika Kami hadapkan serombongan Jin kepadamu .
Mereka semua berjumlah tujuh, dan ada yang mengatakan lebih dari
tujuh. Setelah itu, terjadi pula pertemuan antara beliau dan golongan
Jin itu di kota Makkah dua atau tiga kali lagi. Beliau membacakan
Al-Qur’an kepada mereka dan kemudian mereka beriman kepadanya. Sebelum
itu, serombongan Jin pernah
mendengarkan qiraat beliau, dan mereka beriman kepadanya, namun beliau
tidak menyadarinya hingga akhirnya turunlah surah Al-J in.
Kemudian Rasulullah s.a.w. mulai memperkenalkan diri
kepada kabilah kabilah Arab di setiap musim, sambil menyeru mereka ke
jalan Allah, dan mencari bantuan dari mereka terhadap tindakan-tindakan
kaum musyrikin Quraisy. Pada suatu musim, tatkala beliau — sebagaimana
biasa – sedang mengadakan dakwah di
Aqabah pada tahun sebelas dari kenabian, tiba-tiba beliau berjumpa
dengan sekelompok orang-orang dari suku Al-Khazraj yang telah
dikehendaki Allah untuk menerima kebaikan. Lalu beliau menyeru mereka
kejalan Allah, dan mereka menerima seruan itu. Kemudian mereka kembali
pulang ke negeri mereka tanpa bai’at. Mereka inilah yang dikenal sebagai
ahli Aqabah yang pertama. Jumlahnya enam, dan ada yang mengatakan
delapan orang.
Satu tahun kemudian, datanglah serombongan orang-orang Anshar
sebanyak duabelas orang laki-laki. Dua dari suku Aus dan sepuluh orang
dari suku Khazraj, di antara mereka terdapat lima orang ahli Aqabah yang
pertama. Kemudian Rasullullah membai’at mereka di Aqabah, agar
berpegang teguh pada ajaran Islam dan membela beliau sebagaimana mereka
membela isteri dan anak-anak mereka. Setelah itu mereka pulang kembali
ke negeri mereka. Mereka ini adalah ahli Aqabah yang kedua. Kemudian
Rasulullah mengutus Abdullah bin Ummi Maktum dan Mush’ab bin Umair ke
Madinah untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada
orang-orang yang tslah masuk Islam dan menyeru orang-orang yang belum masuk Islam agar mau masuk Islam.
Dalam riwayat lain hanya disebutkan Mush’ab saja. Sahabat Mush’ab inilah
yang menjadi imam shalat. Ia mendirikan shalat Jum’at yang pertama-tama
dalam Islam ketika jumlah orang-orang Islam telah meneapai empat pnluh
orang. Abu Hamid berkata: “Hai itu tidak dikerjakan oleh Rasulullah di
Makkah, sezkalipun
wajib, karena keadaan tidak memungkinkan]`Dan Al-I-Ialabi barkata: ‘Dan
tidak diperintahkan kepada Mush’ab agar mendirikannya. Karena ketika ia
diutus syarat-syaratnya tidak meneukupi yaitu jumlah tersebut tadi.”
Sejak saat itu agama Islam mulai tersebar di kalangan Anshar. Sa’ad
bin Mu’adz, panghulu suku Aus dan Sa’ad bin Ubadah penghulu suku Khazraj
pun akhirnya masuk Islam.
lsra Mikraj
Dan pada tahun ini, yakni tahun keduabelas dari kenabian, Nabi
di-isra’kan menuju Masjid Al-Aqsha, shalat bersama para anbiya’ di mana
beliau bertindak sebagai imamnya dan kemudian di-mi’rajkan melintasi
bahkan melampaui seluruh petala langit dalam keadaan sadar. Tepatnya
pada malam Sabtu tanggal dua-
puluh tujuh Rabin} Awwal – ada pula yang mengatakan pada bulan Rajab,
sebagaimana yang diamalkan orang sekarang. Sedangkan dalam keadaan
tidur, baliau mengalami mi’raj sebanyak tigapululn tiga kali,
sebagaimana yang dikatakan 0leh Sayyid Abdul Wahhab A1-Sya’rana.
Pada malam itu diwajibkan atas beliau shalat lima waktu, yang jumlah
rakaatnya seperti yang ada sekarang. Inilah pendapat yang paling sahih.
Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa asalnya dua raka’at-dua
raka’at, kemudlan baru pada tahun Hijrah, diwajibkan atas orang yang
hadir (tidak dalam
perjalanan) memyempurnakan shalat ruba’iyah (yang empat raka’at) dan shalat
tsulatsiyah (yang tiga raka’at).
Adapun pada permuiaan Islam, shalat itu adalah dua raka’at sebelum
terbit matahari dan dua raka’at sebelum tenggelam matahari, demikian
yang dikatakan oleh Al—Halabi. Pendapat terbanyak mengatakan bahwa
beliau memulai shalat Dhuhur sepulang dari malam Mi’raj tersebut, bukan
memulainya dengan shalat Shubuh, karena ketidaktahuan akan kaifiyah yang berkaitan dengan kewajiban tersebut. Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa beliau memulai dengan shalat Shubuh.
Al-Halabi berkata: ”Adapun shalat beliau sebelum diwajibkannya shalat
lima waktu itu adalah dengan menghadap ke arah Ka’bah. Setelah itu
menghadap ke arah Baitul Maqdis dengan menjadikan Ka’bah berada di
antara beliau dan Baitul Maqdis. Tetapi ketika beliau telah berada di
Madinah, maka hal itu tidak dapat dilakukannya, sehingga beliau merasa
susah karena membelakangi Ka’bah tersebut. Inilah yang menjadi sebab
dialihkannya kembali arah kiblat itu.”
Pada malam mi’raj itu, dada beliau dibelah. Beliau mengalami pembedahan pada dadanya sebanyak lima kali. Pertama, pada masa kanak—kanak, ketika beliau masih diasuh oleh Halimah. Hal ini telah disepakati.
Kedua, pada waktu beliau berusia sepuluh tahun lebih beberapa bulan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ketiga, pada malam isra’.
Keempat, ketika beliau didatangi malaikat yang membawa wahyu.
Dan kelima, di dalam tidur. Demikian yang disebutkan dalam kitab Nur al-Nabras.
Diriwayatkan bahwa pada malam tersebut beliau telah memandang Tuhannya
dengan mata kepalanya (menurut pendapat yang paling sahih) dan telah
berdialog dengan-Nya. Memandang Allah di dunia adalah merupakah “hal
yang khusus bagi beliau dan mustahil — menurut syara’ — dapat terjadi
pada selain
beliau.”
Keesokan harinya, beliau memberitahukan apa yang dialaminya itu kepada
orang banyak, tetapi orang—orang kafir tidak mempercayainya. Mereka
malah balik bertanya kepada beliau tentang bentuk Baitul Maqdis yang
sebelumnya itu tidak pemah beliau lihat. Lalu Jibril menayangkan bentuk
masjid itu di hadapan
beliau, sehingga dengan mudah beliau dapat menerangkan bentuk dan seluk beluk masjid itu sejelas jelasnya.
Kemudian, pada tahun ketigabelas dari kenabian, Mush’ab bin Umair pulang
kembali ke Makkah. Dan berangkat pula serombongan kaum Muslimin Anshar
menuju ke Makkah bersama rembongan haji kaum mereka yang musyrik.
Setibanya di kota Makkah, mereka mengundang Rasul untuk bertemu di
Aqabah pada hari Tasyrik.
Pada malam yang telah dijanjikan itu, secara sembunyi sembunyi mereka
meninggalkan kemah mereka menuju ke tempat yang sudah ditentukan, mereka
berkumpul di situ sambil menunggu Rasul s.a.w. Tak lama kemudian Rasul
pun datang, lalu beliau membai’at mereka dengan suatu ikatan perjanjian
bahwa mereka akan berpegang teguh kepada ajaran Islam dan akan membela
beliau sebagaimana mereka membela anak isteri mereka. Setelah itu, Rasul
mengangkat dua belas orang naqib (pimpinan). Tiga orang dari Aus dan
sembilan orang dari Khazraj. Mereka semua, termasuk ahli-Aqabah yang
ketiga. Berjumlah tujuh puluh tiga orang laki-laki dan dua orang
perempuan, terdiri dari sebelas orang kabilah Aus dan sisanya dari
kabilah Khazraj.
Setelah pembaiatan itu selesai, yang tidak diketahui sama sekali oleh
kaum mereka yang kafir dan orang-orang kafir Quraisy, maka setan
berteriak: “Hai orang-orang Quraisy, orang—orang dari suku Aus dan suku
Khazraj telah bersekutu dengan Muhammad buat memerangi kalian!”
Kemudian orang-orang Anshar segera meninggalkan Mina, sehingga ketika
orang-orang kafir Quraisy mencari mereka, tidak lagi menjumpai kecuali
Sa’ad bin Ubadah dan Mundzir bin Amru. Sa’ad ditawan dan disiksa namun
akhirnya diselamatkan oleh Allah SWT, sedang Mundzir dapat meloloskan
diri.
Ketika orang-orang Anshar telah sampai kembali ke kota Madinah, mereka
menyebarluaskan agama Islam secara luas. Dan Rasul menyuruh para sahabat
untuk hijrah ke Madinah. Maka keluarlah para Muhajirin, sekelompok demi
sekelompok, dengan jalan sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khattab,
yang berangkat hijrah secara terang-terangan.Tetapi tidak ada seorang
pun di antara orang orang kafir itu yang berani menghadang atau
menghalangi kepergiannya itu.
Sesampainya di kota Madinah, orang-orang Muhajirin itu disambut dengan
hangat oleh orang-orang Anshar. Mereka diberi tempat tinggal dan
makanan. Sedangkan di kota Makkah sendiri, ketika itu Rasul sedang
menunggu izin untuk hijrah. Dan tidak ada yang masih tinggal bersama
beliau selain Ali dan Abu
Bakar. Tatkala orang-orang katir Quraisy itu menyadari bahwa Rasulullah
telah mempunyai pengikut dan sahabat di lain negeri, sedang pengikut
beliau golongan Muhajirin pun telah berangkat menuju ke negeri itu, maka
orang-orang kafir Quraisy itu segera mengadakan sidang di Darun Nadwah
untuk mereneanakan tin-
dakan apakah yang akan diambil terhadap beliau.
Dalam sidang itu, ikut pula hadir Iblis la’natuIIaah alaihi, menyamar
sebagai seorang kakek-kakek dari Najd. Salah seorang peserta sidang
berkata kepada yang lain: “Demi Allah, kita tidak boleh menganggap remeh
perkembangan orang ini, sebab mungkin saja ia akan menyerbu kita dengan
para pengikutnya dari negeri yang lain itu.”
Kemudian masing-masing peserta sidang mulai mengajukan usul. Ada yang
mengusulkan agar beliau dikurung dalam kurungan besi. Ada pula yang
mengusulkan agar beliau diusir saja ke luar negeri. Tetapi Iblis tidak
menyetujui usul kedua orang itu. Lalu Abu Jahal berkata: “Demi Allah,
aku punya usul bagus yang
tidak kalian pikirkan.”
Mereka bertanya: ”Apakah usulmu itu wahai Abul Hakam?”
Abu Jahal menjawab: “Begini, dari tiap-tiap kabilah kita tarik seorang
pemuda sebagai algojo, lalu tiap tiap pemuda itu kita bekali sebilah
pedang yang tajam. Dengan pedang itulah mereka semua harus membunuhnya,
sehingga Bani Abdul Manaf tidak dapat bertindak apa-apa, karena hal itu
dilakukan oleh seluruh kabilah.”
Akhirnya mereka semua menyetujui usul Abu Jahal tersebut. Lantas Iblis
berkata : ”Inilah pendapat yang sangat tepat.” Kemudian mereka berpisah
untuk melaksanakan tugasnya masing-masing. Rencana keji mereka itu
disampaikan oleh Jibril kepada Nabi disertai turunnya wahyu Ilahi:
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya
upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu
atau mengusimtu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah mengagalkan tipu daya ‘
itu, dan Allah sebaik baikpembalas tipu daya.
Ketika malam telah larut, para pemuda itu berkumpul di depan pintu
rumah beliau sambil mengintai hingga beliau tidur. Kemudian Rasulullah
berkata kepada Ali: “Tidurlah di kasurku, dan berselimutlah dengan
selimutku, engkau tidak akan mendapat gangguan apa-apa dari mereka!”
Lalu Rasul keluar. Ketika melihat mereka, beliau mengambil segenggam
tanah dan kemudian menaburkarmya ke atas kepala para pemuda itu seraya
membaca “Yasin” hingga “la yubshirun”. Dengan kuasa Allah, mereka sama
sekali tidak menampak beliau ketika melalui mereka. Beliau pergi ke
rumah Abu Bakar.
Kemudian datang seseorang menemui para pemuda itu sambil bertanya: “Siapa yang kalian tunggu di sini?”
Mereka menjawab: ”Muhammad.” »
Orang tadi berkata pula: “Sia sialah kalian menunggu. Demi Allah,
Muhammad telah pergi, malah ketika tadi ia melewati kalian, kepala
kalian telah ditaburinya tanah.”
Lalu para pemuda itu masing-masing meletakkan tangannya di atas
kepalanya, dan memang di atas kepalanya ada tanah. Kemudian mereka
memandang ke arah tempat tidur Rasul, mereka kira yang tidur itu adalah
beliau. Karena itu mereka tetap menunggu hingga terbit fajar. Baru
kemudian ketika mereka melihat
Ali bangkit dari tempat tidur itu, maka yakinlah mereka akau kebenaran berita yang mereka dengar semalam.
Kemudian Rasulullah mendapat izin untuk berhijrah. Beliau menyuruh Ali
tinggal di kota Makkah untuk mengembalikan titipan barang-barang kepada
yang berhak. Sedang yang menemani beliau hijrah ialah Abu Bakar. Abu
Bakar telah menyiapkan dua ekor unta buat perjalanan mereka, namun
beliau tidak mau mengambil unta yang disediakan buat beliau itu keeuali
dengan membayar harganya, agar hijrahnya kepada Allah itu dengan jiwa
dan hartanya.
Hijrah
Tatkala malam telah sunyi-sepi, berangkatlah kedua sahabat itu hingga
tiba di gua Tsaur. Mereka lalu bersembunyi di sana selama tiga malam.
Diberitakan bahwa ketika Abu Bakar memasuki gua itu, ia meraba raba
dengan tangannya, dan setiap ia menemukan sebuah lobang, lalu dirobeknya
kainnya dan kemudian disumbatkannya pada lobang tersebut. Hingga
akhirnya habislah kain itu dirobek-robeknya. Rupanya masih tinggal satu
lobang yang berisi ular, belum disumbatnya. Lalu Abu Bakar meletakkan
tumitnya pada mulut lubang itu. Ketika ular itu merasa ada yang menutupi
lobang tempat tinggalnya, maka dipagutnyalah tumit Abu Bakar hingga Abu
Bakar meneteskan air mata karena menahan sakit. Air mata Abu Bakar itu
menimpa wajah Rasul, sebab ketika itu kepala beliau ada dipangkuannya:
“Ada apa denganmu wahai Abu Ba-
kar?” Abu Bakar memberitahukan kepada beliau tentang tumitnya yang
dipatuk ular itu. Lalu beliau meludahi tempat yang kena patuk itu, maka
seketika itu juga lenyaplah rasa sakitnya. Selama beliau berdua
bersembunyi di dalam gua tersebut, setiap malam mereka dikunjungi oleh
Abdullah bin Abu Bakar yang membawa berita yang didengarnya dari
orang-orang kaiir Quraisy, dan siangnya ia kembali berada di
tengah-tengah orang-orang kafir itu untuk mendengarkan berita baru.
Sedangkan Asma binti Abu Bakar, tiap-tiap malam mengantarkan makanan dan minuman
buat mereka. Dan Amir bin Fuhairah menggembalakan domba milik Abu Bakar
sampai ke dekat gua itu sehingga mereka dapat memeras susunya.
Tatkala orang-orang kafir Quraisy tidak menemukan mereka berdua di kata
Makkah, maka mereka segera melacak keluar kota hingga akhirnya sampai
dimuka gua: tersebut. Tetapi dengan kuasa Allah, mereka tidak dapat
melihat beliau berdua. Padahal Abu Bakar sudah merasa khawatir akan
keselamatan Rasul, namun beliau menenangkan hatinya dengan ucapan
sebagaimana diceritakan Allah dalam Al—Qur’an La tahzan inaallaha
ma’ana! (Jangan khawatir Allah bersama kita!)
Adapun sebab sampai mereka tidak dapat melihat beliau berdua itu
adalah karena Allah SWT telah memerintahkan kepada laba-laba agar
membuat sarangnya menutupi mulut gua itu, dan diperintahkan-Nya pula
kepada sepasang merpati liar agar membuat sarangnya di mulut gua itu.
Diriwayatkan bahwa merpati
itu bertelur dan sebagian telurnya itu ada yang menetas. Tatkala
orang-orang kafir itu melihat hal tersebut, maka yakinlah mereka bahwa
di situ memang tidak ada orang. Diberitakan bahwa seluruh merpati yang
ada di tanah haram asalnya adalah dari sepasang merpati liar tersebut.
Dan diriwayatkan juga bahwa Allah
telah memerintahkan kepada sebatang pohon agar tumbuh di mulut gua itu
dan menutupi pintu gua itu dengan ranting-rantingnya. Sebelumnya mereka
berdua telah menyewa seseorang sebagai pemandu jalan, dan telah mereka
pesankan pula kepada orang itu agar datang menemui mereka di gua itu
setelah lewat tiga hari. Pada waktu yang telah dijanjikan, orang itu
datang sambil membawa kendaraan buat mereka berdua. Maka berangkatlah
mereka disertai oleh Amir bin Fuhairah. Dalam perjalanan itu, mereka
melalui per-
kemahan Ummu Ma’bad Atikah yang tidak mengenal mereka. Lalu mereka
meminta air susu kepada wanita itu, tetapi dijawab oleh wanita itu bahwa
ia tidak mempunyai susu. Tiba-tiba rasul melihat seekor domba yang
kurus yang sudah tidak mengeluarkan air susu. Lalu beliau mengusap
puting susu domba tersebut
sehingga memancarlah air susunya dengan deras, lalu mereka minum.
Sejak saat itu air susu domba itu berlimpah-limpah hingga tahun
kedelapan belas Hijrah, Ada pula yang mengatakan hingga tahun
ketujuhbelas Hijrah.
Kemudian mereka pun bertolak pula dari tempat itu. Ketika itu
orang-orang kafir Quraisy telah mengumumkan ke seluruh pelosok tanah
Arab bahwa barang siapa dapat membunuh atau menawan salah seorang dari
mereka berdua, akan diberi hadiah yang besar. Tatkala mereka tengah
melakukan perjalanan itu, sekonyong-konyong mereka dihadang olb Suraqah
bin Malik. Tetapi sqbelum ia dapat berbuat apa-apa, tiba tiba kaki
kudanya melesak ke dalam tanah hingga mencapai lututnya. Padahal tanah
di situ sangat keras. Lalu ia berteriak minta tolong.
Setelah terlepas, ia menghampiri Rasul dan bermaksud memberikan bekal
dan barang-barangnya kepada mereka, namun mereka menolaknya dan mereka
berkata: “Rahasiakan saja tentang kami!”
Lalu Suraqah kembali pulang. Setiap kali ia berjumpa dengan oran orang
yang sedang mengejar beliau, dikatakannya kepada mereka: “Aku telah
melintasi daerah ini, tapi tidak ada satu orang pun yang aku jumpai!”
Perjalanan Nabi melalui perkemahan Ummu Ma’bad dan perjumpaan beliau
dengan Suraqah bin Malik itu adalah sahih sebagaimana yang disebutkan di
dalam kitab AI-Sirah al-Halabiah. Dalam perjalanan itu, beliau berjumpa
juga dengan Buraidah bin Al-Hashib A1-Aslami berikut tujuhpuluh orang
kaumnya.
Rasulullah menyeru mereka kepada Islam dan akhirnya mereka semua masuk
Islam. Padahal sebelum itu mereka menginginkan hadiah yang dijanjikan
oleh orang rang kafir Quraisy tersebut.
Mereka berjalan terus hingga akhirnya tiba di Ouba, pada hari Senin, 12b
Rabi’ul Awwal. Adapun orang yang mengatakan bahwa beliau memasuki kota
Madinah pada hari dan tanggal tersebut menganggap bahwa Quba itu
termasuk bagian dari Madinah, sebagaimana yang telah dikemukakan oleh
Al-Halabi. Kaum Muslimin menyambut kedatangan mereka di luar kota.
Lalu Rasul berbelok ke kanan dan akhirnya berhenti di tempat bani Amr
bin Auf di Quba. Mereka termasuk kabilah Aus. Kemudian Abu Bakar
menyambut kedatangan orang-orang yang hendak mengucapkan selamat datang
kepada mereka, sedang Rasul duduk berdiam diri. Orang-orang Anshar yang
belum pernah berjumpa
dengan beliau mulai mengucapkan selamat kepada Abu Bakar hingga akhirnya
ketika kepala Nabi tertimpa cahaya matahari, Abu Bakar menudunginya
dengan serbannya, maka orang-orang pun menjadi tahu siapa sebenarnya
Rasul itu.
Rasulullah tinggal di tempat bani Amr bin Auf itu selama beberapa belas
hari, menurut salah satu pendapat. Dan selama tinggal di sana, beliau
telah membangun sebuah masjid atas dasar takwa, dan shalat di masjid
itu. Kemudian beliau bertolak meninggalkan Quba pada hari Jum’at sambil
menunggang ontanya yang bernama Jad’a, dan ada yang mengatakan Adhba’,
dan ada pula yang mengatakan Qashwa. Beliau melepaskan tali kekang onta
itu sehingga ia berjalan sendiri tanpa dikendalikan, sedang orang-orang
mengiringi dari belakang, hingga akhimya beliau memasuki Madinah. Ada
yang berpendapat bahwa, dalam per jalanan dari Quba ke Madinah itu
beliausempat melaksanakan shalat Jumat yang merupakan awal shalat Jum’at
yang dikerjakan oleh beliau, dan awal khutbah I yang dikemukakan
beliau dalam Islam.
Al-Halabi berkata: “Memang jélas kalau shalat Jum’at dan khutbah
tersebut dikatakan sebagai awal shalat Jum’at dan awal khutbah yang
dilakukan beliau dalam Islam, apabila beliau tinggal di Ouba itu mulai
hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis, menurut sebagian pendapat. Adapun
kalau beliau tinggal di sana selama beberapa belas hari, seperti yang
telah dikemukakan di atas tadi, atau lebih lama lagi sebagaimana
pendapat lainnya; maka tidak mungkin beliau tidak melaksanakan shalat
Jum’at selama berada di Quba itu. Yang tepat adalah pendapat yang
mengatakan bahwa beliau telah melaksanakan shalat Jum’at di mesjid Quba
selama beliau tinggal di sana.”
Akhirnya onta tersebut berhenti di tempat masjid Rasul s.a.w. Yang
merupakan tempat pengumpulan dan pengeringan buah kurma milik dua anak
yatim yang dipelihara oleh As’ad bin Zararah. Ketika onta yang
ditungganginya itu berhenti di tempat tersebut, Rasul berkata: ”Inilah
-— Insya Allah — yang akan menjadi
tempat kediaman.” Selama beliau dalam perjalanan dari tempat Bani Amr,
tiap-tiap beliau melalui suatu kaum, dan mereka mempersilakan beliau
singgah di tempat mereka. Namun beliau berkata: ”Biarkan saja onta ini
berjalan, karena ia berada di bawah perintah!”
Kemudian beliau turun di tempat Abu Ayyub. Lalu beliau memanggil kedua
anak yatim itu untuk mengadakan penawaran tanah milik mereka tersebut.
Akan tetapi kedua anak yatim itu menjawab: ”Tanah tersebut dengan senang
hati kami hadiahkan buat Tuan, Ya Rasulullah!” -
Namun Nabi tidak mau menerima pemberian itu. Tanah itu beliau beli
dengan harga sepuluh dinar dari uang Abu Bakar. Kemudian beliau
menegakkan masjidnya di situ. Atapnya terbuat dari pelepah kurma, dan
tiangnya dari batang kurma. Tingginya setinggi orang. Pertama tama arah
kiblatnya menghadap ke Baitul Maqdis, kemudian dialihkan ke arah Ka’bah.
Tatkala orang-orang Islam bertambah banyak setelah penaklukan Khaibar,
maka Nabi menambah luas masjid itu. Ketika Abu Bakar menjadi khalifah,
tidak ada perubahan apa-apa pada masjid itu. Dan ketika jabatan khalifah
dipegang oleh Umar, maka Umar meminta kesediaan Abbas bin Abdul
Mutthalib agar bersedia menjual rumahnya guna memperluas bangunan mesjid
tersebut. Lalu Abbas memberikan rumahnya karena Allah untuk kaum
Muslimin. Maka Umar pun lalu memperluas bangunan
masjid itu. Pada masa Khalifah Utsman, bangunan masjid itu ditembok,
tiang tiangnya diganti dengan batu dan atapnya diganti dengan kayu jati.
Di atas tanah itu juga, beliau membangim dua kamar untuk kedua isteri
beliau ketika itu: Saudah dan Aisyah. Adapun kamar-kamar untuk
isteri-isteri beliau yang lain, pembangunannya dikerjakan sesudah itu
sesuai dengan kebutuhan. Rasulullah tingal di rumah Abu Ayyub sampai
selesai pembangunan masjid dan kedua kamar tersebut. Pembangunan itu
berlangsung sejak akhir bulan Rabi’ul Awwal sampai bulan Shafar tahun
berikutnya. Selama beliau tinggal di rumah Abu Ayyub itu, tiap-tiap
malam beliau mendapat hantaran makanan dari Sa’ad bin Ubadah, As’ad bin
Zararah dan orang orang lain. Dan Sa’ad bin Ubadah tetap mengantarkan
makanan setiap malam kepada beliau setelah beliau pindah di rumah—rumah
para isterinya.
Tatkala beliau masih berada di rumah Abu Ayyub tersebut, beliau mengutus
Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ untuk menjemput Fathimah dan Ummi
Kultsum, kedua puteri beliau; Saudah, isteri be-:liau;Ummu Aiman,
pengasuh beliau; istri Zaid bin Haritsah dan putrauya Usamah bin Zaid.
Adapun Zainab, puteri beliau tidak dibolehkan oleh suaminya — putera pamannya Abul’Ash bin Rabi’ —
untuk turut berhijrah. Demikian menurut Al—Halabi. Tetapi akhirnya
Zainab pergi juga berhijrah dan meninggalkan suaminya yang masih musyrik
tersebut. Kemudiaan ketika suaminya itu masuk Islam, Nabi kembali
mempertemukan mereka. Rasulullah tidak memisahkan antara keduanya pada
awal kerasulan beliau, karena diharamkannya pernikahan lelaki musyrik
dengan wanita Muslimah itu terjadi sesudah hijrah. Sedangkan putri
beliau Ruqayyah telah lebih dahulu berangkat hijrah bersama suaminya
,Utsman bin Affan. Bersama rombongan Fathimah tersebut di atas, ikut
pula keluarga Abu Bakar, di antaranya terdapat
isteri Abu Bakar yang bernama Ummu Rumman dan putra-putrinya: Abdullah,
Aisyah, Asma — isteri Zubair bin Awwam — yang sedang mengandung, yang
kemudian dilahirkannya di Quba sebagaimana diberitakan oleh Al-Bukhari.
Dan inilah kelahiran pertama bagi golongan Muhajirin di Madinah.
Kemudian Rasulullah mulai mengadakan pembagian tanah kosong dan tanah
yang telah diberikan orang-orang Anshar kepada beliau bagi golongan
Muhajirin. Adapun orang-orang Muhajirin yang tidak mampu untuk membangun
rumah,
maka mereka tinggal di Quba di tempat orang-orang yang mereka singgahi.
Setelah itu, Rasulullah lalu mempersaudarakan antara golongan Muhajirin
dan Anshar atas dasar persamaan dan waris mewarisi sesudah meninggal,
selain dari sanak kerabat. Hal itu berlangsung di tempat Anas bin Malik.
Sejak itu mereka
saling waris mewarisi, tetapi kemudian dihapus. Ada juga yang mengatakan
bahwa soal waris mewarisi itu tidak pernah terealisir, sebab sudah
dihapus sebelum dilaksanakan.
Sebelum hijrah, Rasul pun pernah mempersaudarakan antara sesama golongan
Muhajirin tanpa waris mswarisi. Jadi, persaudaraan itu terjadi dua
kali. Dahulu Madinah merupakan sarang bermacam macam penyakit. Sehingga
banyak di antara para Muhajirin yang tertimpa penyakit, seperti;
Abubakar, Aisyah, Bilal, dan Amir bin Fuhairah. Tetapi kemudian ——berkat
doa Nabi—~ penyakit tersebut dipindahkan Allah ke Jahfah.
Sebagian penduduk Madinah ada yang menjadi munafik. Mereka dikepalai
oleh Abdullah bin Ubai bin Sahl. Dialah yang mengatakan: “Sesungguhnya,
jika kita kembali ke Madinah (maksudnya kembali dari peperangan Bani
Mushtalik), benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang
lemah darinya.”
Dan atas dirinya pulalah turun surah Al-Munafiqun. Melihat perkembangan
agama Islam yang sangat pesat itu, orang-orang Yahudi Madinah menjadi
iri kepada Nabi. Mereka sering menyalahkan dan menguji Nabi dengan
berbagai soal. Namun semuanya itu dijawab oleh Nabi dengan benar. Akan
tetapi mereka tetap tidak mau sadar. Mereka malah bertambah iri kepada
beliau. Salah seorang dari orang-orang Yahudi itu yang bernama Lubaid
bin A’sham telah menyihir beliau pada tahun ketujuh Hijrah, yaitu dengan
mengambil sisir dari rambut beliau yang diberikan oleh seorang bujang
Yahudi yang kadang-kadang melayani Nabi s.a.w. Benda benda tersebut lalu
ditanamnya di bawah batu di dalam sumur Dzarwan.
Sejak itu pembawaan tubuh beliau berubah. (hal itu berlangsung selama
satu tahun, dan ada yang mengatakan selama enam bulan, dan ada juga
yang mengatakan hanya empat puluh hari) Tatkala keadaan beliau sudah
sedemikian parah, maka turunlah Jibril a.s. memberitahukan hal itu
kepada belau. Lalu Nabi menyuruh Ali supaya mengeluarkan benda tersebut
dari dalam sumur itu. Setelah benda itu dikeluarkan dan ikatannya
dibuka, maka sembuhlah beliau seperti sediakala, seakan-akan tidak
pernah menderita apa-apa.
Kemudian Nabi memanggil Lubaid bin A’sham. Setelah diinterogasi, ia
mengakui perbuatannya itu lalu meminta maaf. Ia mengatakan bahwa
perbuatannya itu dilakukannya karena menginginkan hadiah uang dinar yang
dijanjikan oleh orang-orang Yahudi sebagai upah sihirnya itu.
Nabi pun memaafkannya. Namun sihir tersebut sama sekali tidak menimpa akal pikiran Nabi s.a.w., tetapi ha.-
nya menimpa sebagian anggota tubuhnya saja. Karena itulah sihir itu
tidak rnencemari kedudukan beliau sebagai Rasul. Adapun sebagian riwayat
yang mengatakan bahwa beliau seakan-akan melakukan sesuatu yang tidak
dikerjakannya, disanggah oleh Abubakar bin Al-Arabi dengan mengatakan
bahwa riwayat tersebut
tidak berdasar sama sekali.
Di antara orang-orang Yahudi Madinah ada juga yang masuk Islam. Seperti
Abdullah bin Salam, yang merupakan tokoh utama dan orang pandai Yahudi.
Ia masuk Islam pada tahun pertama Hijrah. Dan pada tahun ini pula azan
dan iqamat mulai disyariatkan.
Masa Perang
Beberapa belas tahun lamanya Rasulullah menyeru umat manusia ke jalan
Allah tanpa kekerasan dan peperangan. Dengan penuh kesabaran beliau
menanggung segala macam gangguan yang dilancarkan oleh orang—orang kafir
Quraisy di Mekkah dan orang-orang Yahudi di Madinah terhadap beliau dan
sahabat-sahabat beliau. Akhirnya Allah mengizinkan beliau untuk
melanearkan pembalasan terhadap orang yang memeranginya. Sebagaimana
firman Allah dalam surah A1-Hajj, ayat 39 :
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-arang yang diperangi, karena
sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesunguhnya Allah benar-benar
Maha Kuasa menolong mereka itu.
Inilah ayat yang pertama sékali turun dalam perkara perang. Yaitu
pada bulan Shafar tahun kedua Hijrah. Kemudian beliau diizinkan
memerangi orang orang yang tidak memerangi beliau, tetapi selain dari
bulan-bulan haram.
Berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Taubah, ayat 6:
Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlalz orang orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka . . .
Kemudian beliau diizinkan berperang secara mutlak. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Taubah, ayat 36:
…. Perangilah kaum musyrikin itu semuanya …..
Seluruh peperangan yang terjadi pada masa Nabi s.a.w. adalah sebagai berikut:
Peperangan yang dihadiri oleh Nabi (ghazwah) sebanyak dua puluh sembilan
kali; sedangkan peperangan yang tidak dihadiri ibeliau dan hanya
mengutus pasukannya saja (sariyah) sebanyak lima puluh kali. Adapun
sariyah yang terbesar adalah Mu’tah dan Abney, yang ketika telah siap,
tiba-tiba Rasulullah meninggal dunia. Pasukan itu tetap diberangkatkan
oleh Abu Bakar, ketika ia telah menjabat sebagai khalifah. Kedua sariyah
tersebut adalah untuk memerangi balatentara Romawi.
Ghazwah pertama yang dilakukan oleh Rasul ialah
ghazwah Abwa’. Terjadi setelah beliau menetap selama dua belas bulan di
Madinah, sebagaimana yang diberitakan oleh sebagian ahli sejarah. Ini
terjadi pada tanggal dua belas bulan Shafar. Kemudian ghazwah Bawath,
dan ghazwah Asyirah, dan kemudian ghazwah Badr yang pertama, yaitu
ghazwah Safwan. Disusul ghazwah Badr-Kubra, kemudian ghazwah Bani Salim,
ghazwah Bani Qayanqa’, ghazwah Suwaiq, ghazwah Qarqaratulkadari,
ghazwah Ghathfan (ghazwah Dzi Umrah), ghazwah Najran, ghazwah Uhud,
ghazwah Hamraulasad, ghazwah Bani A1-Nadhir, ghazwah Dzaturriqa’
(qhazwah Maharib atau Bani Tsa’labah), ghazwah Badr terakhir, (ghazwah
Badr A1-Mau’id), ghazwah Daumatul Jundal, ghazwah Bani Mushtaliq,
(ghazwah Mursyasi’), ghazwah Khandaq Qghazwah Al-Ahzab), ghazwah Bani
Quraidhah, ghazwah Bani Lihyan, ghazwah Dzi-Qird (ghazwah AI-Ghabah),
ghazwah Al Hudaibiah (pada ghazwah iniiah terjadinya Bai’aturridhwaan),
ghazwah Khaibar, ghazwah Hunaixyghazwah Walilqura, ghazwah Fathu-Makkah,
ghazwah Huanin, ghazwah Awthasfghazwah Tha’if, dan ghazwah Tabuk.
Namun tidak semua ghazwah tersebut terjadi pertempuran, kecuali
sembilan ghazwah saja. Pada tahun kedua hijrah, kiblat dialihkan dari
Baitul Maqdis ke Ka’bah. Ketika itu Nabi s.a.w. sedang melaksanakan
shalat Dhuhur bersama para sahabat.
Sehingga ada sebagian menghadap ke Ka’bah dan ada pula sebagian yang
menghadap ke Baitul Maqdis. Pada tahun ini juga mulai diwajibkan puasa
di bulan Ramadhan. Adapun sebelum itu, tidak diwajibkan; hanya mereka
berpuasa tiga hari pada tiap bulan, yaitu pada tanggal tigabelas, empat
belas, dan lima belas bulan Arab, yang disebut pula dengan Ayamul Baidh; dan pada hari Asyura. Semuanya merupakan puasa sunah.
Pada tahun itu pula, mulai diwajibkan zakat iitrah dan disyariatkan pula shalat ’Idul Fitri. Juga mulai diwajibkan zakat harta dan disyariatkan berkurban serta shalat ’Idul Adha.
Ghazwah Ubud terjadi pada tahun ketiga Hijrah. Dan pada tahun ini pula, minuman keras mulai diharamkan.
Ghazwah Bani Quraidhah, Khandaq, Bani Mushthaliq, semuanya terjadi pada
tahun kelima Hijrah. Pada tahun ini pula mulai disyariatkan tayammum.
Peristiwa Ifk (fitnah yang menimpa Siti Aisyah) juga terjadi pada tahun ini. Demikian juga dimulainya kewajiban haji.
Ghazwah Khaibar terjadi pada tahun ketujuh Hijrah. Pada
tahun ini juga mulai dipakai stempel (khatim) dan pengiriman
utusan-utusan kepada raja raja serta Umrah al-Qadhiyah.
Ghazwah Fathu Makkah, Hunain, dan Thaif, terjadi pada
tahun kedélapan Hijrah. Pada tahun ini juga, Rasulullah mulai
mempergunakan mimbar dari kayu bertingkat tiga termasuk tempat duduk.
Sebelumnya beliau memakai mimbar yang terbuat dari tanah yang bertingkat
tiga juga. Hal ini disebabkan karena umat Muslirnin sudah bertarnbah
banyak.
Sedangkan sebelum itu, beliau berkhutbah hanya dengan menyandarkan
dirinya pada salah satu tiang masjid yang terbuat dari pohon kurma.
Tatkala Rasulullah tidak lagi mempergunakannya, maka tiang itu merintih
dengan memilukan yang dapat didengar oleh orang orang yang ada di dalam
masjid itu, sehingga masjid itu menjadi berguncang, dan orang orang
menangis. Lalu beliau turun dari mimbar dan merangkulnya sehingga
akhirnya rintihannya menjadi reda.
Dalam semua peperangan yang dihadirinya, Nabi tidak pernah membunuh
musuh dengan tangannya kecuali terhadap Ubai bin Khalaf pada perang
Uhud.
Tahun-Tahun Penting
Pada tahun kesembilah Hijrah, sebagian besar delegasi dari
kabilah-kabilah Arab datang mengunjugi beliau, sehingga tahun ini
dinamakan Sanatul Wufud (Tahun Delegasi). Juga pada tahun ini,
Negus mati. Dan masih dalam tahun ini, Nabi mengasingkan diri dari
isteri isterinya selama satu bulan. Beliau menyuruh
Abu Bakar supaya menunaikan ibadah haji.
Pada tahun kesepuluh Hijrah, Nabi s.a.w. menunaikan ibadah haji yang
merupakan hajjatul-wada’ (haji perpisahan). Dan pada saat itu turun
firman Allah SWT:
Pada hari ini telah Kusempumakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama
bagimu.
Inilah satu-satunya haji yang dikerjakan oléh Rasulullah sesudah beliau
melakukan hijrah. Adapun sebelum hijrah – setelah beliau diangkat
menjadi Nabi- beliau naik haji sebanyak tiga kali. Ada yang mengatakan
dua kali, dan ada juga yang me-mgatakan bahwa sebelum hijrah, tiap-tiap
tahun beliau naik haji. Menurut
apa yang dituturkan oleh Ibnul Jauzy, beliau sebelum nubuwat, pernah
naik haji. Beliau wukuf di Arafah dan kemudian bertolak dari Arafah
menunju ke Muzdalifah, menyalahi kebiasaan orang—orang Ouraisy, sebagai
taufik dari Allah. SWT.
Sebab orang-orang Quraisy dahulu tidak mau keluar dari tanah suci dan
tidak mau mengagungkan sesuatu pun yang berada di luar tanah suci,
selain dari orang orang Arab lainnya. Mereka berkata: ” Kami adalah
penduduk tanah suci dan pengurus Al-Bayt, maka tak seorang pun yang
menyamai kedudukan kami.”
Adapun umrah yang telah dikerjakan oleh Nabi sebanyak empat kali,
semuanya terjadi pada bulan Dzulqaidah, yaitu: Umrah al Hudaibiyah,
Umrah al-Qadha atau Umrah al-Qadhiyyah (sebab pada umrah ini beliau
mengadakan perdamaian dengan 0rang—0rang Quraisy, sehingga biasa juga
disebut Umrah al-Shulhu) dan umrah beliau ketika mernbagi-bagikan
rampasan perang Hunain, serta yang terakhir adalah umrah beliau
bersamaan dengan Hajjatul Wada ’.
Sedangkan di dalam dua kitab hadis sahih disebutkan bahwa Nabi melakukan
umrah sebanyak empat kali, semuanya terjadi pada bulan Dzulqaidah
kecuali umrah yang mengiringi hajinya. Maksudnya, bahwa umrah yang
bersamaan dengan hajinya itu tidaklah terjadi pada bulan Dzulqaidah,
tetapi terjadi pada bulan
Dzulhijjah mengikuti hajinya. Sedangkan ihramnya telah dilakukannya pada lima hari terakhir bulan Dzulqaidah.
Wafat
Nabi wafat di rumah Siti Aisyah pada hari Senin sebelum tengah hari
tanggal dua Rabi’ul Awwal, dan ada pula yang mengatakan pada tanggal
satu Rabiul Awwal. Tetapi sebagian besar ulama (al-jumhur) mengatakan
bahwa beliau meninggal dunia pada tanggal dua belas Rabi’ul Awwal, tahun
kesebelas Hijrah, dalam usia enam puluh tiga tahun. Empatpuluh tahun
sebelum kenabian, dan duapuluh tiga tahun sesudahnya. Tiga belas tahun
di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Tidak ada rambut putih di wajah
dan kepalanya kecuali hanya duapuluh helai, atau kurang dari itu. Dan
sebagian besar rambut putihnya itu terdapat di anfaqah (rambut yang
tumbuh di bawah bibir)-nya, dan selebihnya di pelipis dan di kepalanya.
Ada riwayat yang mengatakan bahwa beliau tidak pernah mewarnai
rambutnya. Ada pula riwayat yang mengatakan bahwa beliau pernah mewarnai
rambutnya dengan wama kuning. Dalam riwayat lain dengan inai dan katmu
(sejenis tumbuh—tumbuhan) yang pertama berwarna merah dan yang lain
berwarna hitam
kemerah-merahan, dari eampuran keduanya itu muneul wama antara merah dan
hitam. Tentang riwayat-riwayat tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut, mungkin riwayat yang menerangkan bahwa beliau tidak mewarnai
rambutnya itu, yakni dalam sebagian besar waktunya, sebab hal itu tidak
diperlukannya karena sedikitnya rambut putih beliau. Sedangkan riwayat
yang menerangkan bahwa beliau pernah mewarnai rambutnya itu adalah untuk
sebagian waktu saja, yakni kadang kadang.
Menurut salah satu riwayat, sebelum meninggal, beliau menderita sakit
selama tiga belas hari. Dan empat hari sebelum meninggal, beliau
menyuruh Abu Bakar supaya mengimami shalat. Maka sejak itu Abu Bakar
menjadi imam shalat yang keseluruhannya berjumlah tujuh belas shalat.
Dimulai dengan shalat Isya pada malam Jum’at dan diakhiri dengan shalat
Subuh pada hari Senin. Adapun sakit beliau itu adalah sakit kepala yang
sangat berat.
Tatkala penyakitnya sudah demikian hebatnya, beliau mencelupkan tangannya ke dalam sebuah bejana berisi
air, lalu diusapkannya ke wajahnya sambil berdoa: “Ya Allah, bantulah aku dalam menghadapi sakaratulmaut!”
Penderitaan beliau yang sangat di kala menghadapi maut itu adalah untuk
menghibur umatnya, apabila kelak mereka mengalaminya pula.
Diriwayatkan bahwasanya Nabi tidaklah menderita sesuatu penyakit pun
kecuali beliau memohon afiat kepada Allah. Sehingga ketika beliau sakit
menjelang ajahnya pun, beliau tetap tidak meninggalkan berobat.
Ketika itu beliau mempunyai tujuh atau enam dinar, lantas uang itu
disedekahkannya semuanya. Dan diriwayatkannya juga bahwa menjelang
ajalnya itu, Nabi telah memerdekakan empat puluh orang sahaya. Dan
diriwayatkan bahwa akhir kalimat yang diucapkan Nabi adalah: “Jalalu Rabi-Rafiqad balaghtu”
Setelah beliau wafat, para sahabat banyak yang kehilangan akal. Umar
kebingungan, Utsman menjadi bisu, Ali menjadi terpana. hanya Abu Bakar
yang tetap tenang. Kemudian dengan air mata bercucuran ia mendékati
Rasulullah, lalu dirangkulnya samb’l berkata: “Demi ayah dan ibuku,
sungguh bagus hidup dan
matimu!”
Kemudian Abu Bakar bangkit dan naik ke atas mimbar, lalu ia
mengueapkan kata-kata yang mampu menenangkan jiwa kaum Muslimin dan
memantapkan hati mereka. Setelah itu barulah Nabi dimandikan. Di tubuh
beliau masih melekat baju yang dipakainya ketika wafatnya itu. Beliau
dimandikan tiga kali. Pertama
dengan air yang jernih. Kedua, dengan air dan sidr. Dan ketiga, dengan air dan kafur.
Yang memandikan beliau adalah Ali dengan air dari sumur yang terdapat
di Quba. Kemudian beliau dikafani, dengan tiga lapis kain katun putih
yang berasal dari suatu desa di negeri Yaman. Di dalam kafannya itu
tidak terdapat kemeja atau serban, sebagaimana dikatakan oleh Imam
SyaH’i dan jumhur ulama.
Sesudah dikafani, lalu diuapi dengau ’ud dan nidd (gahru). Lalu
diletakkan untuk melakukan shalat secara kelompok demi kelompok,
sendiri-sendiri tanpa imam.
Ada yang mengatakan bahwa orang-orang itu tidaklah shalat, melainkan berdoa dan bertadhanu.
Di dalam Al-Mawahib disebutkan bahwa memandikan, mengafani dan
menyembahyangkan beliau itu terjadi pada hari Selasa. Lantas para
sahabat berselisih pendapat tentang tempat mana beliau akan dikebumikan.
Sebagian berkata, dikebumikan di masjid, dan yang lain mengatakan,
dipindahkan dan dikebumikan
di samping Nabi Ibrahim Al-Khalil.
Namun Abu Bakar berkata: “Kebumikanlah beliau di tempat beliau wafat,
sebab saya meudengar Rasulullah berkata: ’Tidaklah seseorang Nabi
dikebumikan, melainkan di tempat ia dicabut nyawanya.”‘
Akhirnya mereka sepakat atas ucapan Abu Bakar itu. Maka mulailah digali
lobang kuburnya. Lalu beliau diletakkan di dalamnya dan ditutup dengan
sembilan buah batu. Kemudin ditimbuni tanah.
Beliau dikebumikan — menurut qaul yang terbanyak – pada malam Rabu.
Jadi beliau tinggal sesudah wafatnya itu selama sisa siang hari Senin,
malam Selasa, siang Selasa, dan sebagian malam Rabu. Adapun sebab
keterlambatan beliau dikebumikan itu adalah karena orang-orang
disibukkan dengan pembaiatan
Abu Bakar, hingga akhirnya urusan itu dapat diselesaikau dengan baik.
Dan ada juga pendapat yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan para
sahabat tidak sependapat tentang kemangkatan beliau s.a.w.
Adapun orang yang terakhir naik dari kubur beliau – menurut pendapat yang paling sahih —ialah Qatsam bin Abbas r.a.***
0 komentar:
Posting Komentar