Mengkritisi Buku Penodaan Islam di Gramedia (2)
Berbagai hujatan terhadap ajaran Islam
dilakukan oleh Curt Fletemier, Yusuf dan Tanti dalam buku “Sang Putra
dan Sang Bulan; Kristen dan Islam” yang dijual bebas di Gramedia.
Mereka menghujat Islam dalam rangka
untuk memaksakan doktrin kristiani tentang ketuhanan Yesus kepada umat
Islam. Menurut tiga evangelis itu, sangat logis jika Tuhan menjelma
menjadi Yesus untuk mati menebus dosa manusia, karena tidak ada yang
mustahil bagi Tuhan.
“Manusia menjadi Tuhan itu mustahil, tetapi Tuhan menjadi manusia itu dapat terjadi.
Tuhan Maha segalanya, dan oleh karena kasih-Nya yang besar Ia rela
turun menjadi manusia, bahkan mati untuk menggantikan hukuman dosa.
Tuhan tahu bahwa manusia tidak mungkin mampu sampai ke surga dengan
berbuat baik, karena semua itu tidak ada yang sempurna, sedangkan Tuhan
adalah sempurna, sehingga Tuhan menunjukkan kasih-Nya dengan
menyelamatkan kita melalui diri-Nya sendiri. Betapapun besarnya
dosa saudara, Tuhan Yesus akan mengampuni jika saudara datang dan
memohon ampunan-Nya. Tuhan mengasihimu” (hlm. 16).
Berulangkali, ketiga penulis ini
mendoktrin umat Islam agar mau mengimani Yesus sebagai penjelmaan Tuhan
yang mati untuk menebus dosa, antara lain ditekankan pada halaman 83
berikut:
“Tuhan telah memberikan jalan
keluarnya bagi kita, yang perlu kita lakukan adalah mengakui bahwa kita
berdosa, dan percaya pada pengurbanan Yesus. Bicaralah kepada-Nya
dalam doa, dan terimalah Yesus sebagai Tuhan.”
Untuk memisahkan umat Islam dari ajaran
tauhid, sang evangelis menuding Nabi Muhammad sebagai orang yang tidak
berilmu sebagai biang penolakan doktrin Kristen.
“Kurangnya pengetahuan yang benar
tentang Yesus dalam diri Muhammad membuat pengertian akan Yesus menjadi
berubah, dan kurangnya pengetahuan tentang Yesus dalam Al-Qur'an membuat
mereka mengenal Yesus yang lain, yang pribadinya berbeda dengan yang
kita kenal.” (hlm 142).
…dalam teologi Kristen, sangat mungkin Tuhan menjelma menjadi manusia lalu mati untuk menebus dosa, karena Tuhan itu Maha Segala-galanya...
Menurut mereka, dalam teologi Kristen,
sangat mungkin bila Tuhan menjelma menjadi manusia lalu mati untuk
menebus dosa, karena Tuhan itu Maha Segala-galanya. Inilah rumusan
teologi ‘otak-atik.’ Akal sehat dijungkirbalikkan untuk meyakini doktrin
bahwa Yesus adalah manusia penjelmaan Tuhan yang mati tragis di tiang
salib untuk menebus dosa manusia.
Teologi otak-atik evangelis ini sangat
batil dan bertolak belakang 180 derajat dengan akidah Islam. Menurut
akidah Islam, memang Allah memiliki sifat Maha Kuasa atas segala
sesuatu:
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Qs Al-Ma'idah 120).
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu” (Al-Mulk 1).
Tapi jangan lupa, Allah juga memiliki sifat Maha Suci (Al-Quddus) dari sifat-sifat tercela.
“Senantiasa bertasbih kepada Allah
apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci,
Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Qs Al-Jumu'ah 1, lihat juga: Al-Hasyr 23).
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah SWT itu
“laysa kamitslihi syay-un” (tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai
atau serupa dengan Allah).
“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs. Asy-Syura 11).
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)” (Qs. al-Ikhlash 4).
Bila teologi otak-atik evangelis itu
diterapkan, alangkah rusaknya keimanan dan logika manusia? Dengan kaidah
bahwa Tuhan Maha Segala-galanya, maka dipahami bahwa tak mustahil Tuhan
menjelma menjadi apa saja, termasuk menjadi manusia lalu mati menebus
dosa.
Dengan logika yang sama-sama nakal,
harus dipahami bahwa tidak mustahil dan bisa saja Tuhan menjelma menjadi
kucing, anjing, babi, tokek, jangkrik, tikus, cicak, ular dan binatang
menjijikkan lainnya. Bukankah kata evangelis, Tuhan Maha Segala-galanya?
Dan tak ada larangan dalam Bibel bagi Tuhan untuk menjelma menjadi
binatang?
Sang evangelis berargumen bahwa “manusia
menjadi Tuhan itu mustahil, tetapi Tuhan menjadi manusia itu dapat
terjadi karena Tuhan Maha segalanya.” Dengan argumen yang sama dapat
kita pinjam logika evangelis: “Tokek menjadi Tuhan itu mustahil, tetapi
Tuhan menjadi tokek itu dapat terjadi karena Tuhan Maha segalanya.” Mana
yang lebih mungkin, tokek menjadi Tuhan atau Tuhan menjadi tokek? Na’udzubillah min dzalik. Inilah logika rusak buatan evangelis.
…Jika diterapkan, logika penginjil ini aneh: Tokek menjadi Tuhan itu mustahil, tetapi Tuhan menjadi tokek itu dapat terjadi karena Tuhan Maha segalanya...
Bibel tidak mengajarkan Asmaul-Husna,
sehingga meyakini Tuhan Maha Segalanya dan bisa menjelma menjadi apa
saja, misalnya: menjadi manusia yang duel dengan Yakub (Kejadian 32:28);
menjadi burung merpati (Yohanes 1:32); seperti perempuan hamil yang
mau melahirkan (Yesaya 42: 13-14); Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran
24:10); Tuhan kelihatan punggung-Nya (Keluaran 33:23); Tuhan lupa ketika
marah (Ratapan 2:1); Tuhan mencukur kepala dan bulu paha (Yesaya 7:20);
Tuhan mengaum (Yeremia 25:30); Tuhan bersiul (Zakharia 10:8); dll.
Keyakinan evangelis bahwa Tuhan menjelma
menjadi manusia untuk mati disalib menebus dosa, menurut akidah Islam,
lebih batil lagi. Jika manusia berbuat dosa, seharusnya manusia itu
sendiri yang harus menyesal, bertobat, tidak mengulangi kesalahan, mohon
ampun (istigfar) kepada Tuhan dan memperbaiki kesalahan dengan
memperbanyak amal shalih.
Sungguh aneh jika manusia yang berbuat
dosa kepada Tuhan, lalu Tuhan yang harus mati untuk menebus dan
mengampuni dosa manusia? Aneh bin ajaib teologi otak-atik evangelis Curt
Fletemier ini.www.voaislam.com
0 komentar:
Posting Komentar