Setelelah kelahiran Ummu Kultsum, Khadijah sekali lagi hamil. Ini
adalah kehamilan ke 6 bagi Khadijah selama beristrikan Muhammad. Saat
itu usia Khadijah sudah memasuki kepala 5. Namun kebugaran fisiknya
memang cukup terjaga, mengingat Khadijah adalah pebisnis tangguh yang
sering melakukan perjalanan dagang ke negeri yang jauh. Itu pula
sebabnya meski telah mempersembahkan 6 anak kepada suami tercinta,
Muhammad, Khadijah masih tetap segar dan bersemangat. Ia juga tetap
mempersiapkan diri menghadapi kelahiran anak ke 6 nya ini.
Fathimah lahir saat Kabah sedang di renovasi. Dan ia di juluki “ibu
dari ayahnya” karena sejak Khadijah meninggal, praktis Fatimah lah
yang mengurusi sang ayah, Nabi Muhammad. Apalagi sejak ketiga kakaknya,
Zaynab, Ruqqayah dan Ummu Kultsum meninggal.
Seluruh kebutuhan dan keperluan sang ayahnda, dipenuhi oleh Fatimah.
Dia adalah puteri yang mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para
makhluq, Rasulullah SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.
Dia juga digelari Al Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab.
Fatimah binti Muhammad lebih muda dari Zainab, isteri Abil
Ash bin Rabi’ dan Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda
dari Ummu Kultsum. Dia adalah anak yang sungguh dicintai Nabi SAW
sehingga beliau bersabda :”Fatimah adalah darah dagingku, apa yang
menyusahkannya juga menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga
menggangguku.” [Ibnul Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]
Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil’aalamiin, dan ibu dari
Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :”Keturunan Zainab
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti
Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya berkata
:
“Ya, Allah, mereka ini adalah ahli bait ku. Maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih bersihnya.”
["Siyar A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]
Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Datang Fatimah kepada
Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :
“Ucapkanlah :
“Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat, Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih.
Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya.
Engkaulah awal dan tiada sesuatu sebelumMu.
Engkaulah yang akhir dan tiada sesuatu di atasMu.
Engkaulah yang batin dan tiada sesuatu di bawahMu.
Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan.”
(HR. Tirmidzi)
Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri
dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa
ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita
wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,
Fatimah memeluk dan mencuci luka lukanydengan air, sehingga darah
semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka itu
sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar.” (HR. Syaikha dan
Tirmidzi)
Dalam kancah pertarungan, tampaklah peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi
Muslim masa kini.
Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra’, puteri Nabi SAW
Ia berada di tengah tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah
panggung yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman tikaman tombak dan
pukulan pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum
Muslimin untuk menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit.
Inilah gambaran lain dari sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan
kepada para pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas
yang tidak dapat dipenuhi.
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata :”Aku menikahi Fatimah,
sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami
tiduri di waktu malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil
air di siang hari.
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu.” Ketika Rasulullah SAW
menikahkannya (Fatimah), beliau mengirimkannya (unta itu) bersama satu
lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum,
sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum
itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari
kulit) berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga
berdebu bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya
juga. Inilah
dia, Az-Zahra’, ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.
Fatimah selalu berada di samping Nabi, maka tidaklah mengherankan
bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang
penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, “ibu ayahnya, Muhammad”, Al
Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra’ (yang
cemerlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi
keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa
payah, dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita
tentang keutamaan keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah’ r.a. dia
berkata :
“Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW.
Lalu datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan
jalan Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya
seraya
berkata :”Selamat datang, puteriku.” Kemudian beliau mendudukkannya di
sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah
menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW
berbisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum.
Setelah itu aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik
kepadamu secara khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau
menangis!” Ketika Nabi SAW pergi, aku bertanya kepadanya :”Apa yang
dikatakan Rasulullah SAW kepadamu ?” Fatimah menjawab :”Aku tidak akan
menyiarkan rahasia Rasul
Allah SAW.” Aisyah berkata :”Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata
kepadanya :”Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah
kepadaku apa yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?”
Fatimah pun menjawab :”Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik
pertama kali kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril
biasanya memeriksa bacaannya terhadap Al Qur’an sekali dalam setahun,
dan sekarang dia memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah
dekat. Takutlah kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang
yang mendahuluimu.”
Fatimah berkata :”Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau lihat
itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku, dan
berkata :”Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin
wanita-wanita kaum Mu’min atau ummat ini ?”
Fatimah berkata :”Maka aku pun tertawa seperti yang engkau lihat.”
Inilah dia, Fatimah Az-Zahra’. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi
mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.
Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia
berkata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :”Bantulah
pekerjaan puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia
akan mencoba bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung,
membuat roti dan menggiling gandum.”
Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah
datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, “Alangkah baiknya
bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya.”
Kemudian Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya
kepadanya :”Apa sebabnya engkau datang, wahai anakku ?” Fatimah menjawab
:”Aku datang untuk memberi salam kepadamu.” Fatimah merasa malu untuk
meminta kepadanya, lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang
kepadanya, lalu bertanya :
“Apakah keperluanmu ?” Fatimah diam.
Ali r.a. lalu berkata :”Aku akan menceritakannya kepada Anda,
wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku
menyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa
membantunya guna meringankan bebannya.”
Kemudian Nabi SAW bersabda :”Demi Allah, aku tidak akan
memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut
penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah
mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk
nafkah mereka.”
Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada
mereka ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya
menutupi kepala, tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menutupi kaki,
tampak kepala-kepala mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda
:”Tetaplah di tempat
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik
daripada apa yang kalian minta dariku ?” Keduanya menjawab :”Iya.”
Nabi SAW bersabda: “Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu
hendaklah kalian mengucapkan : Subhanallah setiap selesai shalat 10
kali, Alhamdulillaah 10 kali dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian
hendak tidur, ucapkan Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan
takbir (Allahu akbar) 33 kali.”
Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah
Fatimah menimang nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :”Anakku
ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali.”
Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat.
Ketika ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah
berkata : “Aduh, susahnya Ayah !” Nabi SAW menjawab :”Tiada kesusahan
atas Ayahanda sesudah hari ini.” Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah
berkata :”Wahai, Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai,
Ayah, di surga Firdaus tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril
kami sampaikan beritanya.”
Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam
Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh
Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud. Ibnul Jauzi berkata :”Kami tidak
mengetahui seorang pun di antara puteri puteri Rasulullah SAW yang lebih
banyak meriwayatkan darinya selain Fatimah.”
Fatimah pernah mengeluh kepada Asma’ binti Umais tentang
tubuh yang kurus. Dia berkata :”Dapatkah engkau menutupi aku dengan
sesuatu ?”
Asma’ menjawab :”Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita
dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan.” Maka Fatimah menyuruh
membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda
itu, maka dia berkata :”Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi
aurat kalian.” [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar
A'laamin Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi
Ja'far]
Ibnu Abdil Barr berkata :”Fatimah adalah orang pertama yang
dimasukkan ke keranda pada masa Islam.” Dia dimandikan oleh Ali dan
Asma’, sedang Asma’ tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.
berdiri di kuburnya dan berkata :
Setiap dua teman bertemu tentu akan berpisah
dan semua yang di luar kematian
adalah sedikit kehilangan satu demi satu
adalah bukti bahwa teman itu
tidak kekal
Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran,
mata dan hati. Dia adalah ‘ibu dari ayahnya’, orang yang paling erat
hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah
menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah
langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air
dan membasuh mukanya.
Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut
menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan akan kulihat
Az-Zahra’ a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya dengan cinta dan
kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra’, puteri Nabi SAW,
puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika keluar bersama 14 orang
wanita, di antara mereka terdapat Ummu Sulaim binti Milhan dan Aisyah
Ummul Mu’minin r.a. dan mengangkut air dalam sebuah qirbah dan bekal di
atas punggungnya untuk memberi
makan kaum Mu’minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.
Semoga kita semua, kaum Muslimah, bisa meneladani para wanita mulia tersebut. Amiin yaa Robbal’aalamiin.
Wallahu a’lam bishowab.
0 komentar:
Posting Komentar