Shahih Bukhari
-Imam Bukhari-
Kitab Permulaan Turunnya Wahyu
Bab 1: Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya
Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya."
l. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, "Saya mendengar
Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu 'anhu (berpidato 8/59) di atas
mimbar, 'Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda, '(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah
dengan niatnya (dalam satu riwayat: amal itu dengan niat 6/118) dan
bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa
yang hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada
Allah dan Rasul Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya 1/20) kepada
dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan
dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya 3/119), maka hijrahnya
itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah."
2. Aisyah Radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Harits bin Hisyam
Radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam , "Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada
engkau?" Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,
"Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya
lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus
padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya.
Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki
datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa
yang dikatakannya." Aisyah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,
"Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada
hari yang sangat dingin dan wahyu itu terputus dari beliau sedang
dahi beliau mengalirkan keringat"
3. Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata, "[Adalah 6/871] yang pertama
(dari wahyu) kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah
bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya
cahaya subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering
bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah
beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil
bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah. Beliau
mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya
(dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya)
kebenaran. Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat
(dalam nomor 8/67) seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata,
'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya
sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata,
'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:'
Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian
ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya
berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan
mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya.
Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal
insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil
qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut
nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang
mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada
manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan
hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar).
Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau
bersabda, 'Selimutilah saya, selimutilah saya!' Maka, mereka
menyelimuti beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau
bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah, 'Sungguh saya
takut atas diriku.' Lalu Khadijah berkata kepada beliau, 'Jangan
takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan
menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya
engkau suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar),
menanggung beban dan berusaha membantu orang yang tidak punya,
memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.' Kemudian
Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad
bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah.
Ia (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman
jahiliah. Ia dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil
dengan bahasa Ibrani (dalam satu riwayat: kitab berbahasa Arab.
dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan apa yang
dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat
tua dan tunanetra. Khadijah berkata, Wahai putra pamanku,
dengarkanlah putra saudaramu!' Lalu Waraqah berkata kepada beliau,
Wahai putra saudaraku, apakah yang engkau lihat?' Lantas
Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau
lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, 'Ini adalah wahyu yang
diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda,
sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu....' Lalu
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, 'Apakah mereka
akan mengusir saya?' Waraqah menjawab, 'Ya, belum pernah datang
seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa
kecuali ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika
saya masih menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan
pertolongan yang tangguh.' Tidak lama kemudian Waraqah meninggal
dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersedih hati karenanya - menurut riwayat yang sampai
kepada kami[1] - dengan kesedihan
yang amat dalam yang karenanya berkali-kali beliau pergi ke
puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari sana. Maka,
setiap kali beliau sudah sampai di puncak dan hendak menjatuhkan
dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya
berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah
yang sebenarnya.' Dengan demikian, tenanglah hatinya dan mantaplah
jiwanya. Kemudian beliau kembali pulang. Apabila dalam masa yang
lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke gunung seperti itu
lagi. Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril
menampakkan diri kepada beliau seraya berkata seperti yang
dikatakannya pada peristiwa yang lalu - 6/68]." [Namus (yang di
sini diterjemahkan dengan Malaikat Jibril) ialah yang mengetahui
rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain 124/4].
4. Ibnu Abbas Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan 2/228], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan 6/102] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur'an dengan beliau. Sungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah [ketika bertemu Jibril - 4/81] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas."
4. Ibnu Abbas Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan 2/228], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan 6/102] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur'an dengan beliau. Sungguh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah [ketika bertemu Jibril - 4/81] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas."
[1] Saya (Al-Albani) berkata, "Yang berkata,
'Menurut riwayat yang sampai kepada kami" adalah Ibnu Syihab az-Zuhri,
perawi asli hadits ini dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Maka,
perkataannya ini memberi kesan bahwa tambahan ini tidak menurut syarat
Shahih Bukhari, karena ini dari penyampaian az-Zuhri sendiri, sehingga
tidak maushul, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam Fathul Bari.
Karena itu, harap diperhatikan!"
Sumber: Ringkasan Shahih Bukhari - M. Nashiruddin Al-Albani -
Gema Insani Press (HaditsWeb)
0 komentar:
Posting Komentar