‘Cinta bikin orang gila’, begitu kata sebagian orang. Barangkali ada
benarnya. Buktinya, banyak kita saksikan para pemuda atau pemudi yang
rela melanggar aturan-aturan agama demi mencari keridhaan pacarnya.
Alasan mereka, ‘cinta itu membutuhkan pengorbanan’. Kalau berkorban
harta atau bahkan nyawa untuk membela agama Allah, tentu tidak kita
ingkari. Namun, bagaimana jika yang dikorbankan adalah syariat Islam dan
yang dicari bukan keridhaan Ar-Rahman? Semoga tulisan yang ringkas ini
bisa menjadi bahan renungan bagi kita bersama, agar cinta yang mengalir
di peredaran darah kita tidak berubah menjadi bencana.
Allah ta’ala berfirman,
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا
لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ
الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang mencintai sekutu-sekutu selain Allah.
Mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah, adapun
orang-orang yang beiman lebih dalam cintanya kepada Allah. Seandainya
orang-orang yang zhalim itu menyaksikan tatkala mereka melihat adzab
(pada hari kiamat) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan adalah milik
Allah dan bahwa Allah sangat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal).” (QS. Al-Baqarah : 165)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “Allah
menceritakan bahwa mereka (orang musyrik) mencintai pujaan-pujaan
mereka/sesembahan tandingan itu sebagaimana kecintaan mereka kepada
Allah. Maka hal itu menunjukkan bahwa mereka juga mencintai Allah dengan
kecintaan yang sangat besar. Akan tetapi hal itu belum bisa memasukkan
mereka ke dalam Islam. Lalu bagaimana jadinya orang yang mencintai
pujaan (selain Allah) dengan rasa cinta yang lebih besar daripada
kecintaan kepada Allah? Lalu apa jadinya orang yang hanya mencintai
pujaan tandingan itu dan sama sekali tidak mencintai Allah?”
(sebagaimana dinukil dalam Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 7.
islamspirit.com).
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan : “Allah ta’ala menyebutkan
tentang kondisi orang-orang musyrik ketika hidup di dunia dan ketika
berada di akhirat. Mereka itu telah mengangkat sekutu-sekutu bagi Allah
yaitu [sesembahan-sesembahan] tandingan. Mereka menyembahnya disamping
menyembah Allah. Dan mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.
Dia itu adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang hak kecuali Dia,
tidak ada yang sanggup menentang-Nya, tidak ada yang bisa menandingi-Nya
dan tiada sekutu bersama-Nya. Di dalam Ash-Shahihain [Sahih Bukhari dan
Muslim] dari Abdullah bin Mas’ud -radhiyallahu’anhu-, dia berkata : Aku
bertanya : “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang terbesar.” Beliau
menjawab : “Yaitu engkau mengangkat selain Allah sebagai sekutu bagi-Nya
padahal Dialah yang menciptakanmu.” Sedangkan firman Allah, “adapun
orang-orang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah.” Hal itu
dikarenakan kecintaan mereka (orang yang beriman) ikhlas untuk Allah dan
karena kesempurnaan mereka dalam mengenali-Nya, penghormatan dan tauhid
mereka kepada-Nya. Mereka tidak mempersekutukan apapun dengan-Nya. Akan
tetapi mereka hanya menyembah-Nya semata, bertawakal kepada-Nya dan
mengembalikan segala urusan kepada-Nya…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim,
I/262)
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan : “Allah ta’ala mengabarkan
bahwasanya barangsiapa yang mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana
mencintai Allah ta’ala maka dia termasuk kategori orang yang telah
menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Syirik ini terjadi dalam hal
kecintaan bukan dalam hal penciptaan dan rububiyah… Karena sesungguhnya
mayoritas penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu
dalam perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal.
320).
Syaikh Hamad bin ‘Atiq rahimahullah menjelaskan, “Orang-orang musyrik
itu menyetarakan sesembahan mereka dengan Allah dalam hal kecintaan dan
pengagungan. Inilah pemaknaan ayat tersebut sebagaimana dipilih oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah…” (Ibthaalu Tandiid, hal. 180).
Syaikhul Islam mengatakan : “Penyetaraan semacam itulah yang
disebutkan di dalam firman Allah ta’ala tatkala menceritakan penyesalan
mereka di akhirat ketika berada di neraka. Mereka berkata kepada
sesembahan-sesembahan dan sekutu-sekutu mereka dalam keadaan mereka
sama-sama mendapatkan adzab (yang artinya) : “Demi Allah, dahulu kami di
dunia berada dalam kesesatan yang nyata, karena kami mempersamakan kamu
dengan Rabb semesta alam.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 97-98). Telah dimaklumi
bersama, bahwasanya mereka bukan mensejajarkan sesembahan mereka dengan
Rabbul ‘alamin dalam hal penciptaan dan rububiyah. Namun mereka hanya
mensejejajarkan pujaan-pujaan itu dengan Allah dalam hal cinta dan
pengagungan…” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320-321)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan :
“Kecintaan orang-orang yang beriman lebih dalam dikarenakan kecintaan
tersebut adalah kecintaan yang murni yang tidak terdapat noda syirik di
dalamnya. Sehingga kecintaan orang-orang yang beriman menjadi lebih
dalam daripada kecintaan mereka (orang-orang kafir) kepada Allah.”
(Al-Qaul Al-Mufid, II/4-5).
Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa makna ‘orang-orang
yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah’ yaitu apabila
dibandingkan dengan kecintaan para pengangkat tandingan itu terhadap
sekutu-sekutu mereka. Karena orang-orang yang beriman itu memurnikan
cinta untuk Allah, sedangkan mereka mempersekutukan-Nya. Selain itu,
mereka juga mencintai sesuatu yang memang layak untuk dicintai, dan
kecintaan kepada-Nya merupakan sumber kebaikan, kebahagiaan dan
kemenangan hamba. Adapun orang-orang musyrik itu telah mencintai sesuatu
yang pada hakikatnya tidak berhak sama sekali untuk dicintai. Dan
mencintai tandingan-tandingan itu justru menjadi sumber kebinasaan dan
kehancuran hamba serta tercerai-cerainya urusannya.” (Taisir Al-Karim
Ar-Rahman, hal. 80).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Sumber terjadinya kesyirikan
terhadap Allah adalah syirik dalam perkara cinta. Sebagaimana firman
Allah ta’ala, “Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah
sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana kecintaan mereka
kepada Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih dalam cintanya
kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)…” Beliau menegaskan : “Maksud dari
pembicaraan ini adalah bahwasanya hakikat penghambaan tidak akan bisa
diraih apabila diiringi dengan kesyirikan kepada Allah dalam urusan
cinta. Lain halnya dengan mahabbah lillah. Karena sesungguhnya kecintaan
tersebut merupakan salah satu koneskuensi dan tuntutan dari penghambaan
kepada Allah. Karena sesungguhnya kecintaan kepada rasul –bahkan harus
mendahulukan kecintaan kepadanya daripada kepada diri sendiri, orang tua
dan anak-anak- merupakan perkara yang menentukan kesempurnaan iman.
Sebab mencintai beliau termasuk bagian dari mencintai Allah. Demikian
pula halnya pada kecintaan fillah dan lillah…” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal.
212-213)
Buktikan Cintamu!
Dari Anas radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai dia
menjadikan aku lebih dicintainya daripada anak, orang tua dan seluruh
umat manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-’Utsaimin rahimahullah berkata : “Maka keimanan tidak menjadi
sempurna sampai Rasul lebih dicintainya daripada seluruh makhluk. Kalau
demikian halnya yang seharusnya diterapkan dalam kecintaan kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bagaimanakah lagi dengan
kecintaan kepada Allah ta’ala?!!…” (Al-Qaul Al-Mufid, II/6).
Allah ta’ala berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
“Katakanlah : Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku.” (QS.
Ali-’Imraan : 31). Syaikhul Islam berkata : “Maka tidaklah seseorang
menjadi pecinta Allah hingga dia mau tunduk mengikuti Rasulullah.”
(lihat Al-’Ubudiyah)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan :
“Pokok dari seluruh amal perbuatan adalah rasa suka (cinta). Karena
seorang manusia tidaklah melakukan sesuatu kecuali apa yang disukainya,
baik dalam rangka mendapatkan manfaat atau untuk menolak madharat. Maka
apabila dia melakukan sesuatu tentulah karena dia menyukainya, mungkin
karena dzat sesuatu itu sendiri (sebab internal) seperti halnya makanan
atau karena sebab eksternal seperti halnya meminum obat. Ibadah kepada
Allah itu dibangun di atas pondasi kecintaan. Bahkan rasa cinta itulah
hakikat dari ibadah. Sebab apabila anda beribadah tanpa memiliki rasa
cinta maka ibadah yang anda perbuat akan terasa hambar dan tidak ada
ruhnya. Karena sesungguhnya apabila di dalam hati seorang insan masih
terdapat rasa cinta kepada Allah dan keinginan untuk menikmati surga-Nya
maka tentunya dia akan menempuh jalan untuk menggapainya…” (Al-Qaul
Al-Mufid, II/3)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara,
barangsiapa yang pada dirinya terdapat ketiganya niscaya akan merasakan
manisnya iman; [1] Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain
keduanya, [2] dia mencintai orang lain tidak lain disebabkan cinta
karena Allah, [3] dan dia tidak suka kembali kepada kekafiran
sebagaimana dia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR.
Bukhari [15,20,5581,6428] dan Muslim [60,61] dari Anas bin Malik
radhiyallahu’anhu).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Tali
keimanan yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci
karena Allah.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [92] dari Ibnu
Mas’ud radhiyallahu’anhu disahihkan Al-Albani dalam takhrij Kitabul Iman
karya Ibnu Taimiyah).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan,
“Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya
dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di
dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara
yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan
tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai
Allah dan Rasul-Nya. Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang
diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti
dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya
dilakukannya” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332).
Maka perhatikanlah wahai saudaraku kecenderungan dan gerak-gerik
hatimu, jangan-jangan selama ini engkau telah menobatkan sesembahan
selain Allah jauh di dalam lubuk hatimu; entah itu harta, kedudukan,
jabatan, benda, atau sesosok manusia. Engkau mengharapkannya,
menggantungkan cita-citamu kepadanya, takut kehilangan dirinya
sebagaimana rasa takutmu kehilangan bantuan dari Allah ta’ala, sehingga
keridhaannya pun menjadi tujuan segala perbuatan dan tingkah lakumu.
Halal dan haram tidak lagi kau pedulikan, aturan Allah pun kau lupakan.
Aduhai, betapa malang orang-orang yang telah menjadikan makhluk yang
lemah dan tak berdaya sebagai tumpuan harapan hidupnya. Sungguh benar
Ibnul Qayyim rahimahullah yang mengatakan, “Sesungguhnya mayoritas
penduduk bumi ini telah mengangkat selain Allah sebagai sekutu dalam
perkara cinta dan pengagungan.” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 320).
Semoga Allah menyelamatkan hati kita dari tipu daya Iblis dan bala
tentaranya, dan semoga Allah meneguhkan hati kita untuk menjunjung
tinggi kecintaan kepada-Nya di atas segala-galanya. Sebab tidak ada lagi
yang lebih melegakan hati dan perasaan kita selain tatkala Allah ta’ala
telah menetapkan cinta-Nya untuk kita, sesungguhnya Allah Maha
mendengar lagi Maha mengabulkan doa. Semoga shalawat dan salam tercurah
kepada Nabi-Nya, segala puji bagi Allah Rabb penguasa seluruh alam
semesta.
0 komentar:
Posting Komentar